Home Mimbar Ide Suara Apa yang Membawa Tanda ke Lensa Kosong?

Suara Apa yang Membawa Tanda ke Lensa Kosong?

0
Ermansyah R. Hindi
ADVERTISEMENT

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Apa yang disebut dengan tanda? Diharapkan semiolog atau filsuf bisa menjelaskan paling tidak dari suara batin yang terpancar dibalik bahasa tubuh seseorang. Dalam ambang batas pemikiran klasik, suatu tanda yang mungkin merupakan satu ketetapan yang dapat diyakini oleh seseorang mengenai ketelitiannya (dalam pengertian bahwa bernafas menandakan kehidupan). Di sini juga bisa terjadi kemungkinan nampak sederhana (dalam pengertian bahwa pencurian yang dilakukan oleh seseorang mungkin menunjukkan kelaparan). Suara memungkinkan menjadi bagian dari tanda alamiah, yang datang dari jeritan atau suara yang dimuat dalam teks tertulis menjadi berita tersendiri. Satu suara yang tertanam pada akhirnya menyebar melalui tanda yang ia refleksikan mungkin akan menandai suatu gagasan pada seseorang atau satu kelompok manusia tertentu.

Mungkin sangatlah menyebalkan apabila seseorang ternyata ketahuan karena mencuri, tetapi sangat beralasan seseorang mencuri demi nafas kehidupan. Kenekatan adalah tanda spontan dari kelaparan. Mereka mungkin tidak pernah bermimpi apalagi berbuat sesuatu yang jauh lebih besar resikonya yang akan ditanggung, sehingga suatu ketelitian atas sensasi kelaparan semata-mata bukan merupakan tujuan akhir dari tanda. Disitulah jalan yang memungkinkan manusia mampu menandakannya dan ia bisa dibentuk hanya oleh satu tindakan mengetahui. Tetapi, mereka tidak perlu dikenal hanya semata-mata bisa eksis dan jalannya dikembangkan sedemikian rupa sebagai alasan pembenaran pada seseorang yang berbeda kondisinya (seorang atau keluarga tidak berada dalam kondisi kelaparan). Beberapa waktu lalu, sesorang tukang becak telah mencuri beras lima kilogram di salah satu toko di pasar tertentu. Orang yang bersangkutan sempat ditangkap, tetapi akhirnya dilepaskan karena alasan mencuri untuk keluarga yang sedang kelaparan (Kompas.com, 2020). Hal ini juga akan dilihat bagaimana tidak ada lagi pembalikan arah, yang membawa tanda keluar dari suara pelaku yang sedang kelaparan. Masihkah pelaku bertahan untuk melacak ritme-ritme kehidupan? Pergerakan pikiran dalam ruang dan waktu menempatkannya pelaku pada satu keadaan sebagai operator, di keadaan lain pelaku tidak menjadi lagi operator tanda.

ADVERTISEMENT

Adapula suara yang berbeda datang dari luar individu yang kelaparan, yaitu suara aparatur negara melihat wilayah tanda yang jelas, terbuka dan tidak membingungkan dengan serangkaian kesimpulan penilaan dan pengakuan atas kesulitan ekonomi sebagai akibat dari dampak pandemi corona. Relasi antara sensasi kelaparan tidak menyatakan relasi langsung antara pencurian dan dampak pandemi, antara sebab dan akibat, melainkan satu relasi antara suara dan tanda. Beras yang Anda curi bukanlah suara sebagai sebab kelaparan yang ditandai, melainkan kebijakan dari alasan yang bergerak secara linear (polos) dengan kehidupan yang bergerak secara pasang surut, saling bergantian satu sama lainnya. Lebih dari itu, tanda itu mengingatkan kita pada kelaparan penduduk bumi.

Pada bulan Mei 2020, penduduk dunia mutakhir sebanyak 7,8 milyar jiwa menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dielaborasi oleh Worldometer. Sebagaimana diberitakan oleh World Food Programme (WFP) sebagai salah satu badan PBB, bahwa jumlah penduduk dunia diperkirakan terancam kelaparan hingga mencapai 265 juta jiwa. Separuh dari jumlah tersebut sebagai akibat dari pandemi virus corona (www.wfd.org, Liputan.com, 2020). Hal ini berarti, sekitar 7,7 milyar jiwa merupakan makhluk hidup bernama ‘manusia’ dan 265 juta jiwa hanyalah ‘sub-manusia’. Kelompok pertama setidak-tidaknya dapat memenuhi kebutuhan 2.100 kalori per hari; mereka dalam kelompok yang menikmati hidup relatif cukup, lebih dari cukup atau mapan secara ekonomi. Kelompok kedua berkebalikan dari keadaan kelompok penduduk yang pertama menganggap sebagai beban hidup bahkan hanya menumpang di bumi. Pernyataan secara terbuka tentang ancaman kelaparan paling depan disuarakan oleh pimpinan organisasi internasional, jika dibandingkan para pemimpin dunia yang lebih banyak bermain dalam skenario dan kepentingan mereks sendiri. Jika mereka bersuara tidak lebih suatu permainan atau kepura-puraan berlindung di belakang tema kemanusiaan atau melawan ancaman kelaparan. Hanya secuil saja pemimpin dunia membela Global Selatan. Mereka bersuara pada dunia luar melalui suaranya sendiri. Kita belum mengetahui bagaimana dan kapan kelompok negara berkembang dan terkebelakang masih diteror oleh suatu tontonan penyingkiran orang-orang lapar berakhir. Tanpa suara dari lubuk hati, disinilah cara pandang tidak memutuskan keterkaitan lamanya dengan ekspolitasi modern. Yang sekarang masih menegaskan tanda-tanda perbedaan antara negara-negara kaya dan miskin, yang ditandai pekerja tidak bebas menanggung beban eksploitasi dan ancaman kelaparan. Orang yang dibelakang institusi internasional bertugas untuk mengungkapkan satu bahasa yang telah dilihat hari ini dalam menghadapi krisis kemanusiaan termasuk kelaparan di seantero muka bumi. Dari pengertian inilah, bahwa ia telah diprediksi mengenai dampak esensial, yang ditandai oleh rakyat miskin merosot penghasilannya karena kehilangan pekerjaan. Obyek prediksinya mengarah pada Afrika, Timur Tengah dan negara lainnya yang berdampak pandemi, krisis kesehatan atau resesi ekonomi. Bagi negara kaya sebagai Global Utara, mulai perusahaan-perusahaan di Inggris dan Amerika Serikat hingga Indonesia yang merepresentasikan Global Selatan merumahkan pekerja karena ditutup sementara bahkan ada yang diputuskan hubungan kerjanya. Negara kaya dalam pengetahuan sudah memiliki tanda untuk berspekulasi terhadap kelaparan, dihubungkan dengan fungsi penyuaraannya pada kesulitan memberikan bantuan ke luar nengeri karena dampak krisis atau pandemi. Meskipun mereka menggunakan tanda-tanda memberi bantuan, negara kaya akan berbicara pada kita setelah mendengar suara-suara sumbang di luar dirinya juga akan berdampak untuk menangguhkan kembali bantuannya. Atas nama kemanusiaan terancam menjadi semboyan jika kita sebagai korban hanyalah meminjam kepastian dan kemungkinan untuk keluar dari krisis global atau kelaparan.

Dalam pemikiran modern, tanda kelaparan disamarkan oleh orang-orang dalam kekeyangan, yang dikarakterisasi oleh permintaan bantuan yang dijanjikan. Penyatuan dunia tanda-tanda yang optimistik terhadap pencegahan kelaparan diganti oleh representasi kepedulian sesama agar misi kemanusiaan dianggap efektif pelaksanaannya di muka bumi. Memiliki pandangan yang berbeda adalah hal yang menggembirakan, tetapi suara akan menjadi tanda verbal tertentu bagi keluarga atau bagi ayah, ibu dan anaknya selama mereka mendengarkan berulang-ulang kali dari dalam batinnya sendiri yang melebihi obyek atau bentuk sesuatu. Jika tidak lebih dari kekuatan sensasi kelaparan akan menjadi tanda baginya, yang tidak dinalar dan diperbincangkan hingga berlama-lama tentangnya. Ia akan cukup sebagai tanda sesuai suara dibalik sensasi kelaparan.

Ia harus dibedakan dengan tanda-tanda lain apalagi tanda dibalik kedalaman suara dari krisis di berbagai tempat di bumi, yang tidak menimbulkan spekluasi dan suara sumbang lagi dengan ia secara tidak membingungkan dihubungkan pada bencana yang berlipat-ganda di tempat lainnya. Dunia menghadapi krisis sekaligus bencana dan badai. Mereka masih ingin berbicara pada kita tentang ancaman sekarang berlipat-ganda dari sebelumnya, dan ingin membuktikan pada dunia tentang cara menghadapinya. Bagi orang-orang yang berbicara terus terang, memandang seluruh ancaman kelaparan atau jenis bencana lainnya merupakan momok dari masa depan kita yang diarahkan pada satu wilayah yang sesungguhnya kita mengetahui darimana mucul semuanya itu. Pengetahuan kita terhadap tanda diasingkan dari salah satu kegilaan atas keadaan yang disusun oleh penanda tirani yang menutup suara orang-orang yang ingin memisahkan kekuatannya pada dunia dan kehidupan. Banyak wanita dan anak-anak dipinjamkan mimpi masa depannya dengan sedikit menghibur ingatannya untuk mengurangi beban hidup di hadapan jurang kelaparan. Apa salahnya mereka menyatakan pada dunia yang banyak dilanda konflik dicampur-baurkan dengan momok kelaparan yang nyata dan berbahaya dan harapan masa depan.

Bagi pihak yang berada dalam kekuatan global, pembentukan tanda tidak dapat dipisahkan dengan suara mereka melalui suatu proses diagnosis atau analisis tentang tanda-tanda diluar diri mereka. Sudah jelas, orang-orang dalam berbagai bencana menimpanya merupakan hasil analisis darinya, karena tanpa ketelitian pandangan dan ketajaman analisisnya, maka tanda maupun suara tidak pernah eksis atau bergema kemana-mana. Mereka mendengarkan suara-suara senyap lebih banyak dari jumlah sebelumnya dan memberikan begitu saja angka-angka pada seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu berpikir lagi. Bahwa berbagai ancaman masih di depan mata, cuma kita disilaukan dengan mimpi dan harapan masa depan. Orang-orang yang berada dalam ancaman kelaparan menjadi instrumen pemantauan dan diagnosis dari yang memiliki kekuatan global, dari jumlah atau angka yang ada menggambarkan kondisi lapar. Sehingga mengantarkan mimpi buruk di saat terjaga, yang membuat ruang tidurnya kosong di bawah kolong langit.

Karena orang-orang dibatasi dan diasingkan akan menolak tanda-tanda ancaman lain yang beberlipat ganda menderanya, ia tidak dapat diterapkan suara-suara lain yang berbeda dengan jati dirinya yang lebih jauh meninggalkan suara tidak mengejutkan mereka. Ambiguitas ada di luar tanda atau suara dirinya. Sayang sekali, mereka yang berada dalam institusi dunia masih dilihat sebagai petanda mesianik (‘sang penyelamat’) oleh jutaan jiwa terutama yang berada di ambang kelaparan. Dalam hubungannya dengan mereka sebagai ‘petanda mesianik’, orang-orang digiring dalam bentuk penyelamatan jiwa terbentuk; ia tidak tergantung kita untuk hidup, melainkan pada kekuatan analisis atau diagnosis atas ketergantungan pada tipu muslihat mimpi dan harapan masa depannya. Karena mereka menganalisis atau mendiagnosis, akan membuat tanda ketergantungan orang-orang, diubah menjadi sesuatu yang lebih jelas atau nyata. Dalam benak orang-orang yang ketergantungannya sangat kuat pada obyek analisis mereka, nampaknya tidak memiliki akhir dari penyelesaian pada dirinya. Bukankah sensasi kelaparan dari orang-orang menjadi obyek analisis atau pengetahuan? Setiap tahun dan berapa lama pun betul-betul membuatnya tergantung untuk bertahan hidup melalui bantuan dan terus bantuan selama teror kelaparan menghinggapi mimpi di luar dan dalam terjaga. Sensasi kelaparan dalam kemiskinan berubah menjadi semacam teater kekerasan disublimkan. Ratusan jiwa dapat terancam mati kelaparan selama itu pula akan terjadi kekerasan, setidak-tidak kekerasan konsep, kekerasan tulisan atau kekerasan pikiran.

Kita tidak berhenti, karena ada kekuatan global yang memainkan skenario, mereka tidak bisa melihat kita, tetapi merekalah melihat kita dalam sebuah lensa kosong. Mereka tidak pernah ada kata berhenti dan kita pun mengatakan hal sama dengan tujuan yang berbeda. Kekuatan yang ada pada dirinya itulah tujuannya dan obyek dan bertahan hidup begitulah tujuan atau dorongan dari orang-orang yang tenggelam bersama mimpi dan harapannya. Kita belum pernah ada kekuatan analisis, pemikiran dengan jelas melipat-gandakan dirinya kekuatan baru melalui teori kehidupan yang berbeda dan berubah-ubah, yang tidak dapat dihentikan.

Ketika logika penyelamatan mengatakan pada bentuk penderitaan, dimana ia melihat dirinya dari tanda kejauhan lebih jelas posisinya berdiri, dibandingkan suatu tanda yang menerima suara lebih sedikit didengar dari petanda mesianik. Tetapi, seluruh tanda yang didengar dari kejauhan dan yang lebih dekat ditandainya kembali untuk menghindari hilangnya penyelamatan diri.

Di banyak tempat, penderitaan dan ketidakmampuan berpikir bukanlah harga mahal bagi pihak yang memiliki kekuatan global sebagai pengambil kebijakan tentang kehidupan termasuk krisis dan bencana kelaparan. Lembaga dunia yang membantu orang-orang dalam kelaparan bisa saja bangga untuk membuat keputusan bersejarah dengan Resolusi 2417 pada Mei 2018. Tetapi, tidak mampu mengelak permainan yang dimainkan di luar dirinya dan akhirnya pelan-pelan bisa berakhirnya langkahnya untuk menandai kebijakan tentang kemanusiaan yang sejati. Disana pula berdiri seseorang yang mampu bertahan pada posisi berdirinya dengan melibatkan pengetahuan mengenai berapa jumlah paling rentan yang harus dilindungi, apa penyebabnya dan bagaimana caranya untuk menyelamatkan jiwa di luar cara-cara atau tindakan yang sudah usang. Tidak ada sesuatu yang menakjubkan dari keputusan bersejarah, jika sekarang saja kita mampu memenuhi janji-janji dari masa sebelumnya untuk menyelamatkan jiwa. Melalui cara itu, kita akan berbuat lebih banyak jika kita berdiri tegak dengan kepala menengadah ke langit, menyejajarkan pada ruang terbuka di sekitar tanah atau di muka bumi.

Pada tanda pemikiran tentang pemisahan bahaya nyata berdasarkan lebih banyak orang yang berpotensi meninggal sebagai akibat dari dampak ekonomi daripada pandemi virus itu sendiri. Ini jugalah cara untuk menyediakan jejak-jejak lain yang luput dari prediksi; ia akan menghapus jarak dan bekas atau mencuri waktu untuk membalikkan keadaan sebagai sesuatu yang mudah di perbincangkan oleh orang-orang di luar tembok gedung dan seluruh jejak dalam ingatannya. Dari perlindungan terhadap ancaman kelaparan maupun penderitaan lainnya, bukan hanya melintasi jejak dan jaraknya, melainkan juga untuk melipatgandakan tanda demi tanda.

Orang-orang tidak meninggalkan bencana, melainkan menjaganya supaya ia datang kembali dengan segala penantiannya dalam ketergantungan selanjutnya. Tidak suara pengharapan, tetapi matanya berkaca-kaca karena meninggalkan bencana. Semenit suara yang serempak dari ucapan selamat tinggal, beberapa waktu lain akan mengingatkannya akan pentingnya penyelamatan dari orang-orang yang sebelumnya sama sekali dikenal, dari mana datangnya pendaur-ulang mimpi buruk dan harapan palsu tiba-tiba dapat menyelamatkan hidupnya. Sesungguhnya mereka yang datang padanya sama sekali bukanlah letak permasalahan, melainkan terletak pada seluruh tanda yang pernah dimilikinya berbalik untuk mengikat dan menggantungkan sepenuhnya pada sesuatu yang bukan dirinya. Atas kekuatan percampur-adukan bencana dan konflik, strategi perlindungan yang dibentuknya sirna dalam tanda-tanda ketidakhadiran penyelesaian kelaparan.

Seluruh tanda verbal yang keluar dari bibir kita menjadi pembicaraan khas melalui medium menyatakan untuk mengalahkan ancaman pandemi kelaparan; masih ada variabel lain yang akan dijadikan suatu kemungkinan muncul diantara benda-benda dan acaman serius dalam kehidupan. Tanda-tanda itu adalah tanda alami dan tanda perpaduan dengan kemiripan yang ditemukan dari fakta-fakta penderitaan, kekerasan atau kelaparan. Suatu tanda yang diakui bukan sebagai tanda artifisial, melainkan bahasa manusia, tanda-tanda alam yang secara mekanis dapat memulihkan dirinya ke arah keseimbangan, yang memiliki kekuatan tersendiri untuk mengingatkan bencana dan seluruh manifestasinya. Disitulah kita memulai melindungi diri dan mengatasi bencana tanpa disumsikan berapa banyak orang paling rentan dari ancaman bagi kehidupan. Dampak menjadi satu tanda di saat berlangsung atau setelah peristiwa bencana atau pandemi. Tanda mengabaikan fakta, karena ia mengakui tanda dari dalam diri manusia dan alam sebagai kesatuan bahasa. Dari konflik yang terjadi beriringan dengan bencana bukanlah tanda alami, melainkan ketidakhadiran tanda sejati manusia, yang dihancurkan oleh nilai tanda kesejahteraan yang tidak terkontrol. Satu tanda kehidupan yang redup melalui mata pencaharian yang sulit dipenuhi di tengah ancaman kelaparan. Ia bukanlah sebagai akibat dari resiko terdampak konflik, melainkan dari tanda alami yang sirna dalam dirinya sendiri.

Nilai tanda yang diberikan oleh alam dan sejati memiliki kekuatannya sendiri sejauh mereka tidak sekedar tidak dibangun oleh tanda artifisial yang memiliki kesetiaan hanya pada yang nyata tetapi dangkal dan lebih nyata kerapuhannya daripada tanda alami. Orang-orang secara bersama-sama dengan pihak untuk melindungi anak-anak sangat rentan terhadap kelaparan dan kekuragan gizi, tetapi membiarkan mereka di bawah asupan mimpi yang tidak diketahui kapan mereka bisa berdiri tegak tangan dan kaki yang kuat dan tegak di muka bumi. Tanda kelaparan yang dipilih dari tanda alami tidak lebih sekedar diterima dari dunia benda-benda dan bukan dibentuk sebagai tanda melalui pengetahuan. Ia tidak lebih dari suara-suara tersembunyi di balik tanda alami, yang membentuk kita untuk lebih menguatkan tanda-tanda lainnya.

Saat ini, kita tidak dibatasi secara ketat dan kaku, karena jutaan anak tidak bersekolah karena harus memenuhi kebutuhan pokoknya, setelah itu kesenangan bermain dan hidup dengan tidak terganggu. Anak-anak hanya bisa membayangkan pada tanda-tanda yang membuatnya lebih kuat dan berbeda daripada tanda-tanda verbal suatu wujud perlindungannya atas ancaman kelaparan atau kekurangan gizi. Perlindungan kemanusiaan berganti dari satu jenis ke jenis lainnya untuk memelihara tanda kelaparan dan kekurangan gizi, secara fisik telah memisahkan dirinya antara tanda kematian dan sekedar bertahan hidup. Tanda yang dibuat oleh anak-anak yang terancam kelaparan dan kekurangan gizi adalah tanda yang dibuat oleh dirinya sendiri sebagai pengingatan kembali atas bencana agar tidak terkurung dalam tanda verbal. Suatu tanda yang mengubah dari tanda ingatan ke imajinasi pada obyek bencana, yang melebihi bantuan kemanusiaan, bahkan ia akan mengakhiri seluruh tanda verbal yang diasumsikan hanya sebagai janji kosong dan harapan palsu. Tanda dengan suara yang saling mengisi, keduanya menempatkan jaringan tanda lainnya yang menunjukkan kesewenang-wenangan yang bertentangan dengan tanda sejati manusia. Akan lebih terbuka tanda alami, jika pengungkapannya pada kedok kemanusiaan diarahkan pada suatu tanda untuk mengungkapkan tipu muslihat yang berkedok kebenaran.

Belum ada kelaparan, padahal telah terjadi di depan mata dan bentuk kesewenang-wenangan merajalela berubah menjadi tanda alami yang diverbalisasi tanda-tanda lainnya. Tanda-tanda apa membuat kita lebih yakin daripada pihak yang memiliki kekuatan untuk membelokkan tanda alami menjadi tanda verbal diputar-balikkan ruang bersama menurut nilai tanda yang disusun sebelumnya. Berapa lama laporan dibuat untuk membuat keadaan stagnan berubah cepat menjadi tanda alami dari kegelapan? Dalam ketidakstabilan kadang-kadang diperlukan dalam keadaan lebih santai bersama cahaya dalam kegelapan, dibandingkan suatu keputusan yang terburu-buru justeru menjerumuskan keadaan kita dalam kegagalan untuk membangun tipu muslihat. Sampai pada sistem tanda secara berulang dan memencar muncul pada penelusuran asal-usul bencana dan ancaman-ancaman yang diperhitungkan secara cermat. Pembentukan tanda yang akan lebih memungkinkan pengetahuan tentang kelaparan dan bencana lainnya melalui kesatuan bahasa dan berusaha menggantikan tanda yang tidak memiliki suara sedikitpun, sekalipun tersembunyi dari balik tembok besar. Lebih penting memelihara suara dari peristiwa ironis dan tragis tersembunyi dibalik benda-benda, yang terdengar sayup-sayup, dibandingkan suara yang menggema kemana-mana, tetapi tidak merasuk dan tidak mempersembahkan bahaya dan lika-liku tanda kehidupan.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Facebook Comments
ADVERTISEMENT