Home Mimbar Ide Pandemi

Pandemi

0
Ilustrasi
ADVERTISEMENT

Oleh : Idham Malik*

Pandemi ini betul-betul mengerikan. Bukan sebagai penyakit, tapi sebagai latar. Satu persatu agenda iblis keluar dari lubang-lubang parit, baunya anyir, seperti darah kurban yang mengering di rumput-rumput bekas penjagalan.

Komplotan merapatkan diri, semakin rapat di tengah-tengah pandemi, hingga mereka rapat bersama nenek moyang mereka. Memutuskan aturan, mengetuk palu untuk membela patron-patron mereka. UU Mineral Batubara (Minerba) disahkan pada 12 Mei 2020, RUU Omnibus Law (undang-undang sapu jagat) tetap kukuh walau dengan sentilan-sentilun beragam pihak untuk menunda atau mendiskusikan kembali mengenai produk hukum tersebut, RUU Cipta kerja yang berusaha mengakali para buruh, dengan memberi upah yang dihitung perjam dan mengabaikan aturan Upah Minimum Kabupaten/Kota, dan kini, di sektor perikanan, menteri KKP (Kelautan dan Perikanan) mencabut larangan penggunaan pukat harimau/cantrang dalam kegiatan penangkapan ikan.

ADVERTISEMENT

Betul, kata seorang teman, bahwa di masa pandemi ini, para kapitalislah yang justru memperoleh momentum, sebab, mereka pihak yang paling tenang menghadapi situasi, dapat tinggal di rumah, sambil merenungi nasib usahanya, yang barangkali menurun laju produksi dan pemasarannya, tapi di saat-saat itu, mereka menemukan cela untuk mengatur ulang, negosiasi, merapat-rapat hingga bertemu nenek moyang mereka.

Orang-orang kecil, sebagian bertahan di rumah dengan gigil. Beras menipis, ikan kering disiapkan, sayur-sayur di belakang rumah dipetik, dan celengan dibuka. Sebagian dirumahkan, hingga waktu tak tentu, sebagian pulang kampung, ikut nimbrung berkebun, dan jika terpaksa, merambah hutan-hutan liar.

Para pencari kepiting, memperoleh setengah dari biasanya, sebagian dari mereka kembali menjadi buruh tambak. Nelayan-nelayan, kepikiran untuk mengebom ikan, mumpung pengawas lengah. Petani-petani ikan, kesulitan menjual komoditinya, karena restoran-restoran banyak tutup.

Orang bermodal melihat peluang, orang kecil dan kelas pekerja memikirkan nasib. Jika pun masih dapat bekerja, pendapatan dikurangi. Di samping itu, mereka dipaksa menerima aturan baru mengenai mekanisme penggajian. Seakan-akan buruh ini, tak punya kuasa dalam menentukan haknya sendiri.

Lalu, banyak angin bertebaran, bahwa udara makin segar, air makin baik kualitasnya. Itu sementara kawan. Ikan-ikan berenang dengan bebasnya, lantaran kapal raksasa kurang yang melintas, burung-burung bebas parkir di atas trotoar, karena jalanan beristirahat.

Alam memperoleh jeda, untuk menghirup nafas, tapi, sampai kapan? Setelah new normal? setelah para kapitalis mendapat legitimasi undang-undang? Justru, di saat-saat itu, penebangan kayu akan semakin liar untuk dijadikan tanah merah dan diangkut mineral-mineral di dalamnya, ikan-ikan di laut akan ditangkapnya secara membabi buta, menggunakan alat tangkap raksasa, yang membuat laut lama kelamaan menjadi sepi.

Jadi, pandemi ini, betul-betul mengerikan, bukan sebagai penyakit, tapi sebagai latar.

*) Penulis adalah Koordinator Kader Hijau Muhammadiyah Sulsel

Facebook Comments
ADVERTISEMENT