Home Mimbar Ide IMM Eksotik, Taman Pemikiran dan Gerakan Islam dari Tamalanrea

IMM Eksotik, Taman Pemikiran dan Gerakan Islam dari Tamalanrea

0
Mawardin
ADVERTISEMENT

Oleh : Mawardin*

Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Hasanuddin (KORKOM IMM UNHAS) akan mengadakan silaturahim alumni dan kader via zoom. Acara cerah ceria itu akan digelar pada hari Sabtu, 11 Juli 2020 mendatang.

Demikian sekilas info via grup whatsapp yang saya baca secara saksama pada malam minggu yang sendu kemaren. Pun acaranya akan diadakan malam minggu depan pulak!

ADVERTISEMENT

Lalu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, saya menulis artikel ini. Sekadar merawat ingatan dengan mantan. Hmm. Bukan mantan pacar bro & sist, tapi status saya sebagai mantan pengurus IMM. Lebih tepatnya alumni. Artinya saya adalah bagian dari kader Persyarikatan Muhammadiyah.

Namun, terkadang saya bertanya pada diri sendiri, kemuhammadiyahan saya tergolong varian yang mana?

Soalnya, saya tergelitik dengan perspektif Abdul Munir Mulkhan yang membagi Muhammadiyah ke dalam empat varian, yaitu (1) kelompok Al-ikhlas (menyebut dirinya sebagai Islam murni); (2) kelompok Kiai Dahlan (Islam murni tetapi masih memiliki toleransi terhadap praktik TBC); (3) Neotradisionalis (kelompok gabungan antara Muhammadiyah dan NU/Munu); dan (4) Neosinkretis (Muhammadiyah-Nasionalis/Munas, dikenal juga sebagai Marmud, Marhaenis-Muhammadiyah).

Yang jelas, proses kemuhammadiyahan saya berjalan secara alamiah, hasil dari bahan bacaan yang tersedia di masa remaja, sosialisasi di unit keluarga dan pengaruh ekologis gerakan. Keikutsertaan saya dalam perkaderan IMM terjadi setelah seorang kawan bernama Pandu Prayoga (kini Peneliti LIPI) mengajak saya di sela-sela khusyu’ menjalankan ritual akademis sebagai mahasiswa baru nan gemes.

Namun demikian, IMM bukanlah satu-satunya wadah aktualisasi aktivisme saya. Saya kurang sreg dengan fanatisme yang over-dosis. Karena itu, ketika ada ‘lowongan’, maka saya memasuki nyaris semua corak gerakan saat kuliah di Unhas, dari kanan, kiri dan tengah. Walaupun pada akhirnya hanya beberapa organisasi saja yang saya ikuti tersertifikasi.

Tibalah saya didaulat sebagai ketua umum IMM Komisariat Eksotik Unhas (Cabang Makassar, kini Makassar Timur). Maksud daripada eksotik itu bukan semata anggota dan pengurusnya memiliki daya tarik khas dan ‘good looking’ (haha), tapi eksotik adalah akronim dari “Ekonomi Sosial Politik” (Fakultas Ekonomi dan FISIP).

Maklumlah, Unhas yang berlokasi di Tamalanrea itu serupa tanah gembur tempat tumbuh suburnya beragam gerakan. Mereka sengit berkontestasi secara pemikiran maupun percaturan politik kampus, seperti KAMMI, HMI (Dipo maupun MPO), PMII, LMND, FMN dan sebagainya. Beda halnya dengan IMM yang bertumbuh di PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah).

Meskipun IMM Unhas kala itu kurang ‘berbadan besar’ atau bermassa gigantik, tapi lumayan punya ‘sexy brain’, melalui kadernya yang ikut mewarnai jagad intelektual kampus bahkan se-kota Makassar. Sebut saja Fajlurrahman Jurdi (kini Dosen FH Unhas) yang dikenal sebagai penulis buku dan kolumnis di pelbagai media massa semasih mahasiswa. Plus penggemar lagu-lagu klasik.

Ketika saya menjadi pimpinan IMM Eksotik, itu pun atas desakan Zainuddin (kini konsultan politik), langsung dijemput dari Asrama Mahasiswa/Ramsis. Lagi pula, Immawan/Immawati dalam generasi saya tidak ada yang mau menjadi ketua.

Sekalipun level komisariat, jauh dari hingar bingar atmosfir gerakan Jakarta, tapi nilai-nilai yang terpatri dalam kader Eksotik layak ditransfer ke pelbagai Komisariat, Cabang, DPD hingga DPP bahkan gerakan lain. Apa itu?

Suksesi kepemimpinan di IMM Eksotik tidak berdarah-darah. Lempar kursi tidak ada. Politik uang nihil. Anggotanya juga jauh dari ambisi, bahkan sikap tawadhu’nya berlebihan. Ehm. Itu pertama guys.

Selanjutnya, pengurus teras IMM Eksotik tidak semuanya kader Muhammadiyah ‘biologis-genetik’. Tapi juga lahir dari rahim organisasi ‘sepupuan’, seperti Hasbi Aswar (santri NU ‘revolusioner’ yang kini jadi Dosen HI UII Yogyakarta), KAMMI (Muchtar Muin, Bankir) dan saya sendiri HMI Komisariat FISIP Unhas.

Bahkan ada anggota IMM Eksotik yang tengah menjabat sebagai ketua KORKOM HMI MPO Unhas, yakni Rahmayandi Mulda (kini Dekan FISIP Universitas Riau Kepulauan). Ada juga Andy Arya Maulana yang beraroma rohis (kini pengajar di Universitas Muhammadiyah Buton).
Nampaknya hanya Pandu Prayoga yang memang full gen Persyarikatan, yang di masa remajanya aktivis IPM. Meskipun begitu, semua kader Eksotik memposisikan diri secara eksotis, slow, dan tidak melebihi takaran. Tapi kader merah maroon yang disebutkan di atas tentu serius ber-Muhammadiyah.

Atas fakta-fakta yang mencengangkan itu, maka IMM Eksotik ibarat taman yang ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna. IMM Eksotik laksana lautan pemikiran yang menampung aliran sungai modernis, tradisionalis, konservatif hingga liberal yang saling bernegosiasi bahkan bersenyawa.

Out-putnya adalah mendesain diri sebagai kader yang berkarakter pembaharu, berwawasan kosmopolitan, melampaui “pengkotak-kotakan”. Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Sulsel kala itu adalah saksi yang begitu istimewa.

Gedung Pusdam Sulsel ibarat oase spiritual untuk menenangkan batin para immawan manakala tak ada ‘sang entah’ yang bersedia diajak ta’aruf. Di sebelahnya ada ‘pondok cinta’, kantor Pusat Kajian Politik, Demokrasi dan Perubahan Sosial (PuKAP) yang berisi buku dan barang antik lainnya.

Di IMM pula, saya bersentuhan pertama kali dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) ketika mengikuti tausiyah ilmiah yang disampaikan oleh Zuly Qodir dan Pradana Boy, pemuka JIMM di Gedung Fajar Makassar.

Di IMM, saya ibarat memandang ‘matahari’ yang memancarkan cita rasa Islam moderat, inklusif, dan tidak monolitik. Dari yang bercelana cingkrang hingga jins. Saya merasakan hangatnya api Islam yang menyala di organisasi merah maroon.

Jaman now, gegap-gempita era virtual membuat kita mengalami ‘ketegangan’ stadium berat. Gejala saling nyinyir di medsos perlu kita antisipasi. Berharap Immawan/Immawati hadir sebagai problem solver, bukan problem maker.
Perlu disadari, corak pemikiran dan pilihan politik para elite hingga akar rumput Muhammadiyah sangat beraneka ragam. Baik kalangan sepuh maupun kaum muda. Mari belajar menghargai perbedaan.

Bilamana sedang galau, yuk piknik dengan mengunjungi website Muhammadiyah Garis Lucu (MGL) yang mencerahkan. Soal kelucuan, Muhammadiyah punya AR Fachrudin yang humoris, sebagaimana Gus Dur dari NU.

Bertarekat ala Muhammadiyah, kita bisa menyerap spiritualitas Tasawuf Modern Buya Hamka. Tengok pula ‘api Islam’ ala Bung Karno sebagai cermin Islam berkemajuan. Di era keberlimpahan informasi ini, maka kader Ikatan mesti canggih dalam mengartikulasikan pemikiran di belantara medsos.

Berkaitan dengan dakwah online khas milenial, IMM eksotik telah melahirkan jihadis literasi seperti Rizal Pauzi, aktivis KNPI sekaligus pemimpin redaksi Matakita.co. Dengan begitu, maka kita pun punya daya tahan dan imunitas dari serangan hoax dan fake news, seraya menikmati asupan literasi yang bergizi.
Apa yang saya tuturkan di atas baru sebatas permukaan dari episode saya ber-IMM. Masih banyak kisah pergolakan intelektualitas, pergerakan hingga kelucuan, bukan hanya IMM Eksotik, tapi juga komisariat lainnya dalam skop IMM Makassar Timur.

Bisa panjang banget kalau diteruskan. Nanti terancam jadi buku seputar wajah kader merah maroon di kampus merah!

* Penulis adalah Researcher di Charta Politika

Facebook Comments
ADVERTISEMENT