Home Kampus ENERGI KADER

ENERGI KADER

0
Abdul Hafid Paronda
ADVERTISEMENT

Oleh : Abdul Hafid Paronda*

Nostalgia selalu terkesan subyektif, bahkan bisa egoistik. Namun tidak berarti harus selalu naif hanya karena mencuat dari muara narasi personal, atau pusaran sirkulasi kesaksian kolektif. Apatah lagi untuk sebuah gelora insan akademis yang tidak mudah terlepas dari dinamika kemahasiswaan. Boleh jadi belum memenuhi standar gerakan intelektual karena elan pertumbuhan kualitas mahasiswa yang terlalu fleksibel dalam sebuah relativitas. Tetapi paling tidak, ia merentang sebuah konstruksi gerakan sosial yang secara faktual dikawal oleh komunitas yang berminat serius pada pendidikan tinggi.

Dalam konteks itulah matra perkaderan mengejawantah, di mana Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tumbuh bagai sebuah pohon dalam Taman Intelektual dengan keanekaragaman hayati yang signifikan. Apapun Standard Operational Procedure (SOP)-nya, siapapun peserta dan anggotanya, serta sesederhana apapun visi-misinya, dia telah menegakkan sebuah eksistensi kemanusiaan bermartabat. Olehnya itu, kearifan yang tulus dari setiap alumni menyahutinya tanpa reserve, minimal sebagai deklarasi silaturrahim. Bukan sekedar untuk saling tegur sapa dan menikmati temu kangen sebagai terapi pencegahan stress bagi peminat ketenteraman jiwa. Tetapi kini merupakan aktualisasi jejaring yang segenap anasir insaniyahnya telah dirintis melalui aktivitas perkaderan yang meramu social evidence based.

ADVERTISEMENT

Teknologi telekomunikasi tentu sangat berperan. Terutama sebaran informasi dan jalinan komunikasi yang secara efektif dihadirkannya lewat media sosial. Namun makhluk dijital itu tidak bermakna sama sekali tanpa keputusan akal sehat dan pemihakan hati nurani. Akal sehat itulah yang butuh berinteraksi, dan hati nurani yang ingin berbagi atas nama persaudaraan insani yang tak ternilai harganya. Sebuah senarai kemuliaan martabat yang tidak hanya telah menyambungkan mata rantai ukhuwwah, tapi juga dengan tekun merajut nilai kejuangan yang tiada henti menorehkan nuansa keadaban pada setiap lembar tafsir kehidupan.

Perkaderan memang bukanlah mesin cetak baja yang menghasilkan baut dan moor yang kaku. Juga bukan kolam renang yang riaknya sedemikian semu karena dibingkai oleh struktur pembatas yang fungsinya menghalangi pergerakan air. Perkaderan adalah sebuah proses yang melembagakan kemuliaan martabat, yang dengan segala keterbatasannya, selalu dan selalu mengistimewakan nilai-nilai keadaban. Dengan begitu, alumni perkaderan akan mengisi seantero semesta denga tebaran kemuliaan. Identitas mereka boleh jadi lebih mudah dikenal karena profesi, kiprah, dan jejaringnya. Namun sesungguhnya itu hanyalah aspek sekundernya. Karena yang primer adalah komitmennya untuk selalu peduli, berbagi, dan mengayomi.

Seorang kader tidak pernah dan tidak akan pernah kehabisan energi untuk menebarkan kebajikan. Karena kehadirannya tidak hanya membawa fitrah kemuliaan nan suci, tapi lebih dari itu, juga memateri falsafah kehidupan yang visioner bagi kemaslahatan semesta. Bagi seorang kader, pohon belimbing bukanlah sekedar pohon yang buahnya kecut dalam perspektif asam-basa kimiawi. Tetapi dia adalah anasir sejarah yang memotret masa depan dengan segenap kesederhanaan. Gedung Lompobattang bukan saja kumpulan beton dan kusen beratap yang menyisakan space khusus di dalamnya untuk kegiatan Latihan Kepemimpinan. Namun lebih dari itu, dia adalah sosok pendukung pencerahan yang menatap masa depan peradaban tanpa membersitkan kegalauan demokrasi, instabilitas politik dinasti, dan oligarki ekonomi lintas generasi. Seorang kader tidak akan pernah kehabisan energi untuk memformulasikan kebajikan bagi siapapun yang ada di sekitarnya. Dan yang pasti, bahwa seorang kader sejati memiliki ma’rifat yang tajam untuk melabuhkan terima kasihnya pada ”alamat” yang tepat.

Pondok Gare’se’ 07 Juli 2020

Rumah Keadaban – Kota Bekasi

*) Penulis adalah Alumni IMM Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT