Home Literasi Perihal Mana – mana (Perihal Terserah)

Perihal Mana – mana (Perihal Terserah)

0
Advertisement

Oleh : Ti Kama (Moh. Nur) Penulis Novel “Tentang Dien

Suatu siang yang sedang mendung, saya sedang asik-asiknya merenung. Barangkali hasil dari perenungan itu ada sedikit manfaatnya.

Begini, sejak di Jakarta saya dan teman-teman dari “daerah”(manusia Jakarta paling suka menyebut kami yang bukan asli Jakarta dengan sebutan orang daerah) mulai menyesuaikan hidup seperti pada umumnya masyarakat Jakarta. Dan, tentunya model hidup seperti itu akan beresiko besar bagi kami para pendatang.

Bukan tanpa sengaja kami mengikuti pola kehidupan yang demikian. Sebab di sini (Jakarta) “penyesuaian” adalah sebuah “keharusan” yang mau tak mau, suka tak suka, tetap ditunaikan. Penyesuaian tak kalah wajibnya seperti ibadah.

Namun, bukan berarti kami tidak mampu menciptakan Jakarta dengan versi kami (orang daerah), toh pada kenyataannya orang daerahlah yang berhasil hidup dengan versi ke-Jakarta-annya.

Tidak perlu muluk-muluk untuk membuktikan hal itu, selain saya sebagai sampel paling dekat, tengoklah kehidupan para pejabat sekelas Anggota Dewan Republik Indonesia dari daerah pemilihannya masing-masing (kecuali mereka yang telah lama hidup dan menetap di Jakarta).

Ada sebuah adagium yang berhasil saya ciptakan untuk orang-orang seperti mereka (baca; Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapil kampung)

“Beda hidup bapak, ibu di Jakarta – Berbeda pula kehidupan bapak, ibu di kampung halaman”

Adagium ini tidak sembarangan, untuk merangkainya saya perlu melakukan tesis di lapangan, secara masif dan tentu tanpa sepengetahuan mereka. Haha.

Pernah suatu hari, mungkin sekitar enam bulan yang lalu. Seorang kawan menghubungi saya melalui via telepon. Ia mengabarkan sedang berada di Jakarta. Sebagai sesama pendatang tentu saya turut bahagia ketika mengetahui keberadaannya di Jakarta. Paling tidak kebahagiaan yang saya rasakan akan tuntas dengan sebuah pertemuan di angkringan depan kantor.

Dari obrolan itu lahirlah keputusan di antara kami berdua. Sebagai orang yang sudah menetap cukup lama di Jakarta, ia meminta agar saya yang datang menyambanginya. Permintaan itu saya iyakan dengan catatan “yang penting ngana yang babayar kita pe kopi”(asalkan kamu yang bayar kopinya), catatan saya diindahkan, “kalo ngana so sampe bakabar kamari aa” (kalau kamu sudah tiba, kabari saya). Saya pun menyetujui.

Sekiranya ada 45 menit waktu yang terlewati untuk menuju ke tempatnya. 45 menit adalah waktu paling maksimal untuk berkendara menuju ke tempat pertemuan kami. Sekurang-kurangnya ada 4 lampu lalulintas, dan sekutar 2 kilometer kemacetan sepanjang ruas jalan Kuningan berhasil saya terobos dengan kecepatan 60 kilometer perjamnya. Jangan bertanya saya sedang mengendarai kenderaan jenis apa.

Sesampai di tempatnya, saya tidak langsung mengabarinya. Mula-mula saya berkeinginan mencari sebuah kedai yang pas untuk pertemuan kami. Pas kopinya — pas bayarannya. Atas bantuan Tuhan yang maha digital, sebuah kedai dengan ukuran pas-pasan saya temukan. Di Jakarta, menemukan kedai dengan harga kopi yang pas-pasan adalah sebuah keistimewaan tersendiri. Ibarat menemukan bongkahan berlian di ladang padi.

“Ngana mo pesan kopi apa ? (Kamu mau pesan kopi apa ?)” Tanya saya dari balik telepon.

“Ih, so di situ ngana? (Kamu sudah di situ?)”

“Di kedai kita, mo pesan kopi apa ? Biar sekalian kita pesan! (Saya sudah di Kedai, mau pesan kopi apa ? Biar saya pesan sekalian.”) Jelas saya.

“Mana-mana saja! (Terserah Saja!)”

Mendengar kopi pesanannya yang “mana-mana saja”, membuat saya tersenyum. Saya merasa benar-benar sedang di kampung halaman. Bagaimana tidak? Kebiasaan “mana-mana saja” adalah kebiasaan di tempat kami tatkala ada seorang kawan yang punya itikad baik untuk mentraktir lebih dari 2 orang kawannya. “Haha, dasar anak kampung” gumam saya dalam hati sambil mematikan telepon.

Tidak lama kemudian, dari kejauhan 5 meter, pandangan saya menangkap sosok yang “kampungan” itu. Saking kampungannya, saya sampai melihat segala sesuatu yang ada di sekitarnya berubah bentuk menjadi kalimat “mana-mana saja”.

“Mo duduk di sini jo torang? (Kita duduk di sini saja ?” Ia bertanya sambil menggeser kursi yang terletak di depan saya.

“Iyo, di sini jo. Soalnya tidak ada kursi yang mana-mana saja di sini” (Iya di sini saja  Soalnya tidak ada kursi yang Terserah Saja di sini.)

“Huwangangamu! (Mulutmu!)” Bentaknya sambil terkekeh.

Ada banyak topik yang kami bicarakan. Mulai dari suasana kampung halaman yang mulai terhegemoni nuansa ala-ala perkotaan, sampai dengan obrolan ngawur seputar perempuan-perempuan cantik nun jauh di sana. Pada akhirnya sampailah kami pada inti pembicaraan. Soal janji seorang Anggota Dewan Republik Indonesia dapil kampung.

“Kita ini somo dua hari di sini. Maksud diri mo baku dapa dengan bapak, ibu dewan yang terhormat itu (Saya ini sudah dua hari di sini, bermaksud untuk ketemu dengan Bapak Ibu Dewan Terhormat itu).

“Untuk apa jao-jao ka Jakarta kong cuma mo pi baku dapa deng dorang? Kiapa ngana tidak tunggu saja di sana, pas dorang mo reses (Untuk apa jauh-jauh ke Jakarta hanya untuk bertemu mereka ? kenapa tidak ketemu di gorontalo saja, saat mereka reses.

“Adoh, ngana tau jo dorang. Kalo di kampung itu bukan cuman kita yang dorang mo baku dapa akan. Di sana dorang bakalan sibuk temu sapa masyrakat bawah. Mana sempat mo baku dapa deng kita yang seorang diri bagini (Aduh, kamu tahu kan bagaimana mereka, bukan hanya saya yang mereka temui. Disana mereka sibuk menyapa masyarakat bawah, mana sempat bertemu dengan saya.“)

“Ya, kan sama saja. Ngana bagian dari dorang. Lagian ngana pe tujuan ka Jakarta, babawa dorang pe aspirasi kan?( Ya, kan sama saja. Kamu bagian dari mereka, lagian tujuanmu ke Jakarata membawa aspirasi mereka kan ?)

“Nah itu dia, bro. Cuman kita bingung bagimana depe cara mo tabaku dapa deng dorang ini! (Nah, itu dia bro, saya bingung bagaimana bertemu dengan mereka !” Kawan saya mulai menggerutu.

“Ngana so hubungi dorang ? (Kamu sudah menghubungi mereka ?

“Bulum, cuman dorang pe spri yang kita so hubungi. Bo dorang jawab kamri masih sibuk, masih ada rapatlah dan tetebenge yang lain” (Belum, sespri mereka sudah saya hubungi. Tapi, jawaban mereka masih sibuk, rapat lah, dan tetebengek lainnya.)

“Bagini saja, ngana hubungi langsung dorang!” (Begini saja  kamu hubungi langsung mereka!)

Saya menyodorkan telepon genggam ke arahnya, sembari menunjukan 3 buah nomor telepon yang masing-masing adalah kontak bapak, ibu Anggota Dewan Republik Indonesia dapil kampung itu. Segera ia mulai mengetik, narasinya lumayan panjang. Diawali dengan salam, kemudian maksud ingin bertemu. Tak lupa ia mencantumkan namanya sekaligus dari Lembaga Swadaya Masyarakat Apa.

“Kita somo kirim ini pesan pa dorang?” (Saya kirim sekarang pesan pesan ini ke mereka ?)

Ia meminta persetujuan saya. Saya pun mengiyakan, paling tidak ada sumber energi untuk memompa keberaniannya untuk mengirimkan pesan itu kepad bapak, ibu Anggota Dewan Republik Indonesia dapil kampung itu.

Selang 5 menit, teleponnya berdenting. Ada pesan masuk. Benar adanya satu dari tiga orang yang menerima pesan darinya berbaik hati mau membalas pesannya. Tapi di luar dugaan kami, balasan atas pesan yang telah ia rangkai sedemikan rupa hanya mendapat balasan;  “Mana-mana sama ente, mo baku dapa di mana. (Terserah kamu, mau ketemu di mana.)

Tawa saya pecah sejadi-jadinya. Orang-orang di sekeliling kami beradu pandang ke arah tempat di mana posisi kami sedang duduk. Sementara kawan saya mulai memasang raut cemberut, mukanya mulai memerah, ia seruput kopi dengan penuh amarah.

“Baru kita somo balas apa ini ? (Terus saya harus balas apa ini ? )” Ia berusaha keras meminta saran dari saya.

“Balas kasana ulang, mana-mana pa ngoni saja” (Balas kembali, terserah kalian saja.)

Malam itu, kawan saya sangat kecewa. Ia berjanji tak mau lagi datang ke Jakarta hanya untuk urusan propasal masyarakat kampung. Kendati ia tahu bahwa dulu – pada musim kampanye, bapak, ibu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia dapil kampung itu, pernah berjanji perihal kesejahteraan masyarakat akan terpenuhi ketika proposal telah dibuat.

Beda hidup bapak, ibu di Jakarta – Berbeda pula kehidupan bapak, ibu di kampung halaman.

“Mana-mana saja” adalah budaya di kampung saya, sangat lekat dengan kehidupan sosial tanpa kecuali kehidupan Para Anggota Dewan Perwakilan Republik Indonesia dapil kampung(an) itu.

Jogja, 29 September, di tahun ini.

(Ditulis dari ingatan)

Facebook Comments
ADVERTISEMENT