Home Literasi Perpustakaan Generasi Kelima dengan Konsep Therapeutic Landscape

Perpustakaan Generasi Kelima dengan Konsep Therapeutic Landscape

0
Advertisement

Oleh : Tulus Wulan Juni dan Madia Gaddafi.

Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata Perpustakaan ? Kesan yang kurang bersahabat mungkin masih melekat di hati Anda. Namun perlu diketahui Perpustakaan sebenarnya telah mengalami evolusi dalam memberikan pelayanannya dan saat ini konsep layanan Perpustakaan telah lebih dekat dengan penggunaanya/ pemustakanya. Konsep nyaman dan bahagia di Perpustakaan itulah yang dihadirkan saat ini oleh para pustakawan/ tenaga Perpustakaannya. Jika ada Perpustakaan anda tidak berubah/ berevolusi dengan konsep ini maka akan sulit untuk berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat yang dilayani.

“Perpustakaan itu pertama-tama haruslah mampu menjadi pusat kebahagiaan pemustaka/ usernya barulah berikutnya menjadi pusat pendidikan”. Itulah kata kunci yang bisa dipetik dari pemaparan Ida Fajar Priyanto, Dosen Senior Universitas Gajah Mada (UGM) dalam Seri Webinar Lintas Antar Bangsa yang diselenggarakan oleh Fakultas Pengurusan Maklumat (Fakultas Manajemen Informasi) University Teknologi Mara (UiTM) Malaysia yang berkolaborasi dengan Library IDEAS, Selasa (06/10) dengan mengangkat tema Libraries Improving Sosial Well-Being : Therapeutic Landscape yang disiarkan melalui https://www.facebook.com/lensaFPM.

Evolusi Perpustakaan saat ini telah memasuki generasi ke 5. Pada generasi pertama, Perpustakaan hanya fokus mengelola koleksi dan tidak banyak berhubungan dengan pemustakanya dan masih sedikit menyiapkan ruang untuk pemustaka. Selanjutnya berkembang di generasi kedua, user/ pemustaka mulai menjadi perhatian hal itu dipicu dengan pemanfaatan teknologi untuk otomasi Perpustakaan dan ruang untuk pemustaka mulai bertambah. Kemudian lanjut di generasi ketiga, dimana Perpustakaan sudah menyediakan ruang-ruang untuk pemustaka seperti zona umum, zona tenang, zona senyap dan sebagainya.

Setelah itu berkembang lagi ke generasi keempat dimana Perpustakaan menjadi lebih dekat dengan pemustakanya dan menjadi tempat koneksi bagi orang-orang, ide-ide dan ruang kolaborasi. Generasi sekarang atau generasi kelima, Perpustakaan menjadi sebuah tempat dimana orang-orang kreatif bisa bertemu, kemudian berkreasi, menciptakan dan sekaligus belajar. Disini Perpustakaan menyediakan banyak peralatan sehingga pemustaka dapat memiliki akses menggunakan peralatan tersebut di perpustakaan seperti sarana IT, alat keterampilan contoh mesin jahit, mesin cetak dan lainnya agar mereka bisa menciptakan/ mewujudkan apa saja yang ia bayangkan.

Perkembangan Perpustakaan ke generasi saat ini atau generasi kelima telah sesuai dengan konsep Landscape Therapeutic yakni mereka yang datang memanfaatkan layanan perpustakaan lebih bahagia, rileks dan lebih sehat. Konsep therapeutic memiliki efek penyembuhan dan cenderung membuat orang lebih sehat. Jadi apabila sebuah perpustakaan bersifat therapeutic maka perpustakaan akan membantumu untuk merasa lebih santai dan membuatmu lebih baik. Bagaimana untuk mewujudkan Perpustakaan sebagai therapeutic. Ada 5 cara yakni, menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua, menjadikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, menjadikan perpustakaan sebagai tempat pertemuan, menjadikan perpustakaan tempat rekreasi dan menjadikan perpustakaan sebagai pusat pengembangan diri.

Apa yang kita dapatkan di perpustakaan yang telah menerapkan Therapeutic ini. Maka akan terjadi transformasi dalam 5 hal yakni dapat mengatasi permasalahan finansial, karier, keluarga, kesehatan dan spiritual. Salah satu best practice atau praktek cerdas yang ditunjukkan dengan konsep Therapeutic Landscape dicontohkan oleh Ida Fajar Priyanto ditengah Pandemi Covid19 yakni DONGKELOR atau akronim dari Dongeng Keliling Online dari Rumah inovasi Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

Kegiatan ini melibatkan para pendongeng kreatif dan pustakawan untuk berkreasi memberikan pelayanan dongeng online yang dapat dinikmati sebagai fungsi pembelajaran dan rekreasi oleh pemustaka/ penggunanya dimedia sosial dan bagi pendongeng sebagai wadah untuk pengembangan diri. Contoh lain yang dapat diterapkan oleh Perpustakaan seperti menghadirkan kelas-kelas online. Jadi sejatinya Perpustakaan menjadi tempat yang membahagiakan dan rumah kedua bagi mereka. Perpustakaan Kota Makassar dengan keterbatasannya telah berupaya menghadirkan Perpustakaan dengan konsep Therapeutic Landscape sebagai wujud mengikuti perkembangan Perpustakaan generasi kelima.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT