Home Mimbar Ide Terorisme = Beragama Tanpa Berbudaya

Terorisme = Beragama Tanpa Berbudaya

0
Panji Hartono
ADVERTISEMENT

Oleh : Panji Hartono*

Minggu, 28 maret 2021, Indonesia khususnya kota makassar kembali dikagetkan dengan sebuah letusan bom (bunuh diri) yang terjadi di salah satu tempat rumah ibadah, gereja ketedral Makassar.

Kejadian tersebuat tentunya sangat miris dan memilukan, di tengah banyaknya pekerjaan rumah yang harus dituntaskan untuk membangun dan terus membenahi republik ini, yang memerlukan kolektivitas antar semua stakeholder (salah satunya kolektivitas antar umat beragama), justru ledakan bom di salah satu rumah ibadah umat tertentu sangat berpotensi mencederai keharmonisan antar umat beragama.

Advertisemen

Yang menggelitik bagi penulis setelah membaca berbagai macam bentuk komentar pada jagad sosial media adalah pernyataan “pelaku teror itu tidak beragama”, benarkah kejadian teror itu dilakukan oleh orang yang tidak mengafiliasikan keyakinannya pada agama tertentu?

Kebanyakan orang-orang yang berasumsi demikian memiliki pendapat bahwa “agama tidak mengajarkan kekerasan, justru agama sangat menganjurkan kedamaian” pernyataan demikian benar bahkan bisa disebut sempurna, akan tetapi pernyataan yang filosofis-melangit tersebut jangan sampai buta akan lapangan realitas-bumi.

Faktanya dalam perjalanan sejarah umat manusia, kekerasan atas nama agama (religion violance) nyata terjadi. Beberapa doktrin agama memang sangat identik dengan kekerasan, sebut saja saat maraknya kekerasan atas nama agama yang pernah terjadi di dataran eropa yang memicu lahirnya paham marranisme yang dilakukan kaum marranos (orang yahudi dan islam yang dipaksa memeluk agama kristen), begitupun dalam term-term doktrin islam sendiri pernah muncul yang namanya “ayat-ayat pedang” dan muncul sekte ekstremis “khawarij”.

Warisan pahaman itulah yang nampaknya  masih menempati keyakinan kelompok-kelompok agama tertentu, sehingga kekerasan atas nama agama tidak bisa kita pungkiri. Bersikap terbuka dan mengakui bahwa masih bersemayamnya paham dan kelompok ekstremis dalam tubuh agama yang kita anut, tidak lantas menghinakan agama tersebut. Justru itu dapat menjadi cara yang ampuh dalam mengobati penyakit demikian,  bagaimana mungkin dapat mendiagnosa dan mengobati sebuah penyakit jika kita tidak sadar atau tidak mau mengakui bahwa memang ada penyakit dalam diri kita.

Sikap terbuka dan mengakui adanya penyakit dalam tubuh agama yang kita anut diharapkan mendorong kita untuk terus melakukan pembenahan dan perbaikan terkait doktrin ajaran agama yang kita anut, dan sepertinya maraknya kekerasan atas nama agama yang terjadi di negri kita ini, salah satunya disebabkan oleh pemahaman kelompok-kelompok  agama tertentu yang menolak keragaman agama dan budaya yang ada di negeri kita.

Indonesia sebagai negara multikulturalisme merupakan sebuah fakta atau realitas objektif (sunnatullah) yang tidak bisa kita tolak karena tuhan sendiri yang menuturkan dalam kitab suci kehendaknya menjadikan umat beragam, sehingga boleh disimpulkan bahwa keragaman yang menjadi corak dan karakter negeri kita adalah sebuah keniscayaan atau taken for greanted, langsung dari tuhan.

Menolak realitas objektif atau sunnatullah termasuk keragaman umat apalagi dengan cara kekerasan adalah gambaran keterbelakangan peradaban, sikap seperti itu yang disebut Nur Cholish Madjid “irasional” atau tidak modern. olehnya sikap modern yang bijak dalam menghadapi keragaman bukan dengan jalan negasi melainkan integrasi.

Membentuk pertalian untuk merekat keragaman adalah ciri peradaban yang berkembang dan modern, hal demikian sudah pernah dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW lewat piagam madinah dan juga lewat piagam Aelia di masa umar bin khatab. olehnya seorang sosiolog Robert N Bellah bahkan menyebut bahwa masa Rasulullah dan khulafaur rasyidin itu terlalu modern di masanya, tuturnya “it was to modern to success”.

Dari uraian tersebut sudah sepatutnya kita sebagai bangsa mesti mangapresiasi dan bersyukur akan warisan para leluhur bangsa ini yaitu pancasila, sebuah maha karya yang menjadi titik temu “kalimatun sawa’ ” yang dicita-citakan untuk merekat segala macam bentuk keragaman di negeri ini.

Meyakini dan menghayati secara utuh kebenaran akan agama yang kita anut memang merupakan suatu keharusan, Namun penghayatan akan kebenaran utuh agama anutan kita biarlah bersemayam dengan kokoh dalam hati nurani kita dan ketika kita berhadapan dengan realitas yang beragam, maka ekspresi dari penghayatan keagamaan tersebut harus menjelma dalam sikap saling menghargai (mutual respect), olehnya akidah dan toleransi mesti berhembus dalam satu tarikan nafas kebangsaan kita. “Akidah yang lurus adalah yang tidak mengorbankan toleransi, begitupun toleransi yang baik adalah yang tidak mengebiri akidah”.

Maka budaya integrasi sangat dibutuhkan bahkan perlu disosialisasikan secara massif khususnya kepada generasi muda kita sebagai kiat untuk mencegah bibit dari paham-paham ekstremis yang gemar melakukan aksi teror tumbuh subur di negeri ini, dan salah satu panutan di negeri ini akan semangat integrasi itu adalah cendekiawan Nur Cholish Madjid yang dikenal dengan 4 strategi pemikirannya : integrasi islam dan kemanusian, islam dan kemodernan, islam dan politik, islam dan keindonesiaan.

Bung karno sendiri yang melalui pidato 1 juni-nya dalam upaya memaknai pancasila menawarkan satu gagasan keberagamaan yang dikenal “bertuhan dengan cara berkebudayaan” , dan bertuhan dengan cara berkebudayaan itu adalah cara kita dalam menghayati kebertuhanan atau keagamaan kita yang menjelma dalam sila-sila dari pancasila itu sendiri : kemanusiaan (humanity, internasionalism), persatuan (unity, nasionalism), musyawarah (democracy) dan keadilan (justice).

Maka dari itu, para pelaku teror bom di gereja katedral itu bukanlah orang yang tidak beragama, tetapi mereka yang kurang dalam menghayati ajaran agamanya dan dikontekstualkan dalam dimensi ruang dan waktu mereka hidup, sehingga boleh dikata mereka beragama tetapi tidak berbudaya.

*) Penulis adalah Ketua Umum HMI komisariat Dakwah dan Komunikasi Cabang Gowa Raya

Facebook Comments
ADVERTISEMENT