Home Fajlurrahman Jurdi I AM PALESTINIAN

I AM PALESTINIAN

0
Seorang anak mengibarkan bendera Palestina sambil memeluk mainannya ditengah reruntuhan gedung akibat serangan bom Israel
ADVERTISEMENT

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

I am Palestinian, saya seorang Palestina, demikian pembelaan Edward Said (1935-2003) seorang pemikir Amerika yang lahir di Yerussalem, tepatnya Gaza, di pusat konflik dirangkai, pas dijantungnya perampasan tanah dan kebebasan oleh Yahudi atas pemukim disana.

Kebebasan adalah kampanye paling utama Barat di negeri-negeri muslim, tetapi untuk kasus di Timur tengah dan Palestina, wajah ganda Barat itu tampil anti kebebasan yang tiada tanding. Mereka yang selalu berkampanye tentang demokrasi dan kebebasan, adalah para pengkhianat kebebasan yang paling otoritatif. Saat Indonesia merdeka, pengakuan  kemerdekaan itu tidak datang pertama kali dari Barat, tempat teori usang demokrasi itu di cetuskan. Democracy is government from the people, by the people and for the people. Demikian pekikan Abraham Lincoln menggema di seluruh dunia. dan itu adalah kalimat benar yang diucapkan dari negeri pembohong.

Pada titik tertentu, kita kadangkala tidak sadar, bahwa merekalah yang mengajarkan tentang kejahatan kemanusiaan yang paling sempurna sepanjang abad dua puluh dan abad dua puluh satu. Abad yang bagi kita di Timur adalah abad rasionalitas, abad pencerahan dan abad lahirnya manusia-manusia beradab. Di Barat justru sebaliknya, mereka berperilaku biadab, bagai anjing herder yang memburu apa yang menjadi target mereka.

Barat telah melakukan genoside di Irak dan membiayai pembunuhan di timur tengah, dan mereka menyebut sebagai upaya mencari senjata nuklir dan membangun demokrasi, yang seluruh isunya dirakayasa. Mereka tak berpikir membunuh tanpa ampun orang-orang tak berdosa, memburu entah siapa musuhnya, selain karena memang insting kebinatangannya untuk melenyapkan umat manusia, yang secara ras, agama dan geopolitik berbeda dengan mereka.

Perilaku Yahudi Israel adalah setali tiga mata uang dengan Amerika. Keduanya adalah saudara kandung dalam kejahatan dan perilaku dualitas kebebasan. Dari mulut mereka memburu orang lain untuk terus mempraktikkan kebebasan, tetapi tindakan mereka adalah tindakan purba yang secara naluri berperikehewanan. Bukankah ini adalah dualitas perilaku yang kontradiktif?.

Advertisemen

Hari-hari ini Palestina kembali dilanda kekerasan, kebrutalan dan penjajahan. Seluruh Negara kampiun demokrasi, diam tanpa ucap menyaksikan kekerasan dan tindakan dehumanisasi Israel. Tetapi manakala salah satu saja warga mereka yang terkena tindakan arus balik dari orang lain, teriakannya menggema melampuai kesadarannya. Mereka adalah bangsa yang paling primitif perilakunya, menuntut lebih secara tidak adil kepada orang lain.

Israel adalah semacam animal politics, yang rajin berperang, pandai membunuh dan menikmati kematian dan tumbal sebagai upacara kekerasan. Mereka menikmati, merayakan dan mengkampanyekan pembunuhan sebagai desire, hasrat kehewanan yang melekat di dalam tubuh politik dan tubuh rasis yang mengalir bersama darah mereka.

Dehumanisasi bagaimanapun akan berakhir. Kejahatan kemanusiaan  akan ada batasnya. Jika bukan manusia yang akan membalas, maka Tuhan yang akan turun tangan. Berapa banyak para penjahat di sepanjang sejarah yang berakhir tragis.

Go to Hell Yahudi. Anjing Herder yang sedang berpesta membunuh target. Dan anjing tak pernah punya rasa kemanusiaan, karena hanya rasa ke-anjing-an yang mengalir bersama darahnya. Anjing pemburu, suatu saat akan diburu. Selamat menggonggong bersama rudal-rudal kalian, selamat menggingit bersama pesawat tempur kalian, selamat menginjak dengan tank-tank kalian. Kami akan terus bersama Palestina. Hingga kau yang binasa atau Palestina yang hancur.

Makassar, 14 Mei 2021.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT