Home Berdikari Ekonomi Batal Berangkat Haji

Batal Berangkat Haji

0
Ahmad Rosandi Sakir
ADVERTISEMENT

Oleh : Ahmad Rosandi Sakir., S.IP., M.AP

Haji adalah rukun islam yang terakhir. Sebagai muslim yang taat tentunya ingin mengerjakan semua rukun Islam, syahadat, sholat, zakat, puasa dan pergi haji. Ibadah Haji merupakan keinginan atau impian setiap umat muslim di dunia , Namun Berangkat Haji ke tanah Suci harus mempersiapkan pelbagai  hal misalnya kesiapan dana dan fisik serta iman yang kuat untuk beribadah.  Untuk berangkat Haji pun juga harus menunggu waktu yang cukup lama bahkan ada yang rela menunggu berpuluh puluhan tahun untuk berangkat. Hal ini disebabkan oleh sudah banyaknya calon jamaah Haji yang berada pada daftar tunggu untuk keberangkatan, keinginan masyarakat Indonesia yang begitu besar tak sebanding dengan kuota yang diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi terhadap Pemerintah Indonesia pada tahun 2019 hanya diberikan kuota sekitar 231.000 orang yang berangkat.

Namun sejak Tahun 2020, Impian masyarakat Indonesia yang telah mendapat  kuota untuk berangkat menunaikan ibadah haji harus pupus dikarenakan pandemi covid 19 yang melenda beberapa Negara di dunia sehingga WHO menetapkan Covid Sebagai Pandemi Global sejak bulan Maret Tahun 2020, alhasil sebanyak 220.000  Calon Jemaah yang telah menunggu bertahun-tahun dan telah mempersiapkan keberangkatan harus ikhlas bahwa keberangkatannya ditunda sampai tahun berikutnya. Namun nampaknya pada saat itu Jemaah haji masih bisa bernafas lega sebab porsi nya untuk berangkat tahun berikutnya masih diprirotaskan.

Kesabaran Calon Jemaah Haji yang batal berangkat pada tahun 2020 Nampaknya benar-benar diuji, sebab pada tahun ini Pemerintah melalui Mentri Agama kembali menunda pemberangkatan Ibadah Haji, hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 660 Tahun 2021 tentang pembatalan keberangkatan jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021 Melalui konfrensi pers, Mentri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa “Menetapkan pembatalan keberangkatan jemaah haji pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 1441 H atau 2021 bagi warga negara Indonesia yang menggunakan kuota haji Indonesia dan kuota haji lainnya”.

Lagi-lagi Masalah Pandemi Covid yang sampai saat masih menyerang berbagai Negara di dunia  yang menyebabkan Pemerintah kembali membatalkan ibadah Haji di tahun ini. Kesehatan masyarakat Indoneisa menjadi prioritas utama bagi pemerintah untuk menanggulangi Penyebaran Covid 19. Oleh karna itu, calon jamaah haji Indonesia kembali merasakan kekecawaan yang mendalam dan kembali harus bersabar lagi untuk berangkat ke tanah suci.

Advertisement

Kekecewaan Calon Jemaah Haji Indonesia semakin bertambah sebab belakangan muncul isu-isu terkait pembatalan keberangkatan calon jemaah haji. Adapun isu tersebut muncul setelah Pemerintah resmi Mengumumkan Pembatalan ibadah Haji 2021.

Isu yang paling hangat bahwa dana haji yang seyogyanya digunakan dalam pelaksanaan ibadah haji digunakan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. Serta tudingan lemahnya diplomasi pemerintah Indonesia terhadap Pemerintah Arab Saudi. Hal ini kemudian diklarifikasi oleh pemerintah bahwa Pemerintah sudah berupaya maksimal untuk memberangkatkan Jemaah haji termasuk melakukan loby terhadap Pemerintah Arab Saudi. Namun sampai saat ini Pemerintah belum mendapatkan Kuota dari Pemerintah Arab Saudi. Sehingga Menetapkan pembatalan. Menjadi pertanyaan kemudian bahwa apakah keputusan dari Pemerintah ini cenderung terburu-buru dan terkesan pesimis?, padahal ratusan Ribu Jemaah haji sudah menunggu untuk Berangkat ke tanah Suci.

Terkait isu dana haji yang digunakan untuk infrastruktur pemerintah melalui Menko PMK,  membantah dengan tegas dan menyatakan bahwa dana haji sampai saat ini masih aman. Dana haji dari masyakatat dikelola dengan sangat baik dan transparan di bank syariah. Banyak yang memamfaatkan pembatalan keberangkatan ini untuk membuat isu yang tidak benar sehingga menimbulakn kegelisahan bagi calon Jemaah haji yang telah menyetor lunas dana untuk pemberangkatan.

Peristiwa ini memang membuat gelisah masyarakat khusunya calon Jemaah haji. Dana yang mereka kumpulkan diisukan dialihkan ke hal yang lain. Salah seorang yang saya tanya terkait hal ini menyatakan bahwa kami sudah kecewa dengan gagalnya kami berangkat namun hal itu ditambah dengan munculnya isu bahwa dana yang kami setor digunakan untuk hal yang lain. Beliau juga mengatakan bahwa butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan dana tersebut bahkan sampai menjual barang barang miliknya demi keinginan nya untuk berangkat Haji.

Mendengar hal itu membuat saya pun dapat merasakan kesedihan mendalam bagi calon jemah haji yang batal berangkat apalagi beberapa media menayangkan curahan hati  kesedihan calon Jemaah yang batal berangkat. Di antara mereka ada yang sudah sangat berumur dan mengeluhkan sakit di beberapa bagian tubuhnya. “saya sudah tua, sakit sakitan, saya menunggu berpuluh-puluh tahun untuk berangkat haji, sesuatu yang sangat ingin saya rasakan sebelum meninggal. Kalau tahun ini tidak jadi lagi, saya tidak tahu apakah umur saya bisa menunggu tahun depan supaya saya bisa berngkat’’

Melihat kejadian ini, seharusnya pemerintah dituntut untuk melakukan pendekatan yang baik terhadap calon Jemaah haji yang  batal berangkat. Pernyataan bahwa dana haji yang aman dirasa kurang cukup untuk memberikan rasa trust terhadap masyarakat dan belum mampu mengobati kesedihan calon Jemaah haji. dan kita berharap bahwa pandemi ini cepat berlalu dan di tahun depan kita bisa melihat senyum bahagia dari calon Jemaah haji yang sudah bisa berangkat. hal ini tentu harus menjadi keseriusan bagi pemerintah agar menjaga amanah masyarakat serta mewujudkan keinginan calon Jemaah haji yang saat ini tertunda.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT