Home Mimbar Ide Fitrah yang Terlupakan

Fitrah yang Terlupakan

1
Engki Fatiawan
ADVERTISEMENT

Oleh : Engki Fatiawan*

Perjalanan panjang peradaban telah membawa perubahan dalam setiap eranya. Era tradisional lambat laun akan tergantikan gemilang kemodernan. Sampai kemudian pada era revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0 serta sudah digadang-gadang era 5.0. perubahan era yang beradasar pada kemajuan teknologi dan sistem informasi berikut artificial intelegence (AI).  Namun, tak pelak era-era ini juga membawa dampak positif dan negatif bagi peradaban. Salah satunya adalah dampak pada lingkungan hidup.

Kemajuan industri ini pun merambah pada segala lini. Salah satu contohnya adalah lini pertanian itu sendiri. Pertanian diambil sebagai contoh karena perjalanan peradaban tidak luput dari sektor ini. Sejak manusia memilih untuk hidup menetap, pada saat itu bercocok tanam menjadi pilihan dan berburu sedikit demi sedikit ditinggalkan. Pertanian tradisional dengan menggunakan alat seadanya dan budidaya sesuai dengan proses alam. Produksi masih diperuntukkan sebagai bahan konsumsi secukupnya. Namun, seiring berjalannya waktu perilaku konsumsi menjadi berlebihan yang memaksa produksi untuk bekerja dengan cepat. Maka digunakanlah bahan kimia pupuk kimia, pestisida kimia, dan benih yang direkayasa, impor, dan menggeser benih unggul spesifik lokal. Hal tersebut menimbulkan dampak negatif bagi ekologi dan ekosistem. Al-Qur’an menjawab, dampak itu terjadi karena perilaku yang berlebihan padahal Allah berfirman dalam QS. Al-An’am: 141 dan Al-A’raaf: 31 “… makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Indonesia dilalui garis khatulistiwa yang hal ini menjadikan Indonesia memiliki iklim yang pas dan tanah yang subur. Hampir seluruh tumbuhan bisa tumbuh di tanah air ini. Iwan Setiawan dalam bukunya Pertanian Postmodern, mengatakan bahwa Indonesia adalah negara keragaman hayati paling tinggi, nomor dua keragaman hayati darat dan nomor satu keragaman hayati laut yang tidak semua negara memiliki hal tersebut. Inilah yang kemudian menjadi “fitrah” bagi bangsa Indonesia. Olehnya itu patutlah disyukuri pemberian ini dan jangan dirubah karena “…tidak ada perubahan pada ciptaan Allah…” QS Ar-Ruum: 30.

Fitrah Indonesia sebagai negeri agraris dan maritim saat ini masih kurang disadari dan bahkan dijauhkan dari generasi muda hari ini. Sebagaimana dalam tulisan sebelumnya bahwa hegemoni kapitalis yang menjadi dalangnya. Selain itu,  Setiawan dkk (2018) pula mengatakan bahwa kemajuan industri pertanian telah memberikan kemajuan semu bagi Indonesia dan terbukti telah sukses menjauhkan genarasi mudanya dari pertanian sehingga yang ada saat ini adalah petani tua dengan tenaga dan pengetahuan yang terbatas. Sehingga pertanian (termasuk peternakan) dan kelautan buram di mata pemuda dan pemerintah karena sedikit untung di dalamnya.

Advertisement

Fitrah yang terlupakan ini kemudian digantikan dengan industri lain baik manufaktur ataupun tambang yang telah terbukti menggeser lahan pertanian menjadi lobang tambang bekas galian. Dan hal itulah yang membuat pencemaran lingkungan dan berkurangnya keragaman hayati dan bahkan punah di tempat itu. Banjir, tanah longsor, kekeringan, dan degradasi lahan adalah dampak yang ditimbulkan. Selain itu, budaya pertanian yang tidak sustainable, penggunaan bahan kimia dalam budidaya pun mengakibatkan dampak yang tidak baik. Itu bukan produk lokal Indonesia. Muncullah serangan hama dan penyakit tanaman, biodiversity berkurang, dan tanah sudah lelah berproduksi karena terus dipaksa. Berlebih-lebihan dan tidak adanya kesyukuran. Allah berfirman dalam QS Ibrahim: 7 “…dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Pada akhirnya, Indonesia perlu disadarkan kembali, perlu dikaji kembali tentang fitrah yang melekat pada bangsa ini. Kemajuan teknologi dan negara lain perlu untuk tetap dipelajari untuk diambil yang baik bukan meniru 100 persen yang dimiliki negara lain. Perlu mengadopsi teknologi tetapi tidak melupakan teknologi lokal. Negeri yang kaya ini perlu dijaga, jika yang dipermukaan masih bisa menghidupi maka simpankanlah yang ada didalam tanah untuk anak cucu sebagaimana di Australia.

Kesimpulannya, kembali pada fitrah agraris dan maritim karena imperium yang akan bertahan adalah imperium yang pertaniannya baik, yang ketahanan pangannya kuat dan lumbung pangannya penuh. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 11 “… Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. Inilah konsep yang menjadi landasan bahwa jika hendak ada perubahan dan hendak kembali pada fitrah, harus diri sendiri yang merubahnya. Kemudian jika ingin kembali maka berpeganglah pada petunjuk kebenaran mutlak (Al-Qur’an) karena kebenaran mutlak selalu menang dengan kebenaran buatan lainnya.

Wallahu a’lam bishawab

*) Penulis adalah Sekretaris Umum Pikom IMM FMIPA dan Pertanian Unhas dan Sekretaris Bidang Petani dan Nelayan PC PM Kajang

Facebook Comments
ADVERTISEMENT