Home Mimbar Ide Dua Alasan Toko Buku Alternatif Alami Mati Suri  

Dua Alasan Toko Buku Alternatif Alami Mati Suri  

0
Advertisement

Oleh : Iwarmana Isramin Anwar*
 
Saya suka sekali berkunjung ke toko buku. Banyak pengunjung yang sengaja menyempatkan diri melihat berbagai jenis buku terbitan baru meski tidak membeli buku sama sekali. Fenomena tersebut  dapat terlihat di Gramedia dan toko buku alternatif, seperti Intuisi, Dialektika, Alfarabi, dan Jakfi.

Gramedia yang merupakan pusat toko buku terbesar yang ada di Makassar sampai sekarang ini sepertinya masih tetap menduduki peringkat pertama dengan pembeli terbanyak dibanding toko buku lain.

Mungkin saja hal tersebut dipengaruhi oleh faktor mahasiswa yang kebanyakan meluangkan waktunya di mal, terutama dari kalangan perempuan.

Berbeda dengan toko buku alternatif. Ketika saya mengunjungi toko-toko buku tersebut, saya melihat situasi yang mencolok. Tokonya sepi.

Tak beda dari Gramedia, toko-toko buku alternatif itu juga menjajakan buku berbagai genre: politik, ilmu sosial, filsafat, dan lainnya. Bahkan, koleksinya lebih menantang para aktivis ketimbang buku-buku yang dijual di Gramedia.

Parahnya lagi, toko buku alternatif tersebut mengalami resistensi: antara hidup dan mati mempertahankan nasibnya di tengah industri perbukuan.

Menurut saya, ada dua alasan yang menyebabkan toko-toko buku alternatif itu mati segan hidup tak mau:
1. Terjadinya perang harga antara toko buku online  dan  offline

Kemajuan teknologi digital mengubah kebiasaan masyarakat dari berbelanja langsung ke toko menjadi belanja online. Demikian pula dengan berbelanja buku.

Setelah toko buku online bermunculan, toko-toko buku offline menjadi miskin peminat. Toko buku online melakukan perang harga yang menyebabkan harga jual buku sangat rendah.

Mahasiswa sekarang ini, termasuk saya sendiri, sebenarnya menyadari berbelanja di toko buku offline lumayan menguras isi dompet.

Perbedaan harga antara buku yang dibeli online dan offline terkadang cukup drastis. Tak jarang saya menemukan perbedaan harga yang sangat jomplang. Dihadapkan oleh harga yang miring, tentunya tak sedikit orang yang lebih menggemari berbelanja di marketplace atau lokapasar.

Suatu hari, Isal mengajak saya mengajak saya mampir ke Dialektika Coffee and Bookshop yang kebetulan toko bukunya berada di sekitar kampus Universitas Hasanuddin. Ketika kami sampai, toko buku itu sedang sepi.

Toko buku yang hadir sejak 2015 ini telah membuka dua cabang. Satu cabangnya di Samata, Gowa. Sedangkan, satu cabang yang lain di Jalan Perintis Kemerdekaan VII, Kota Makassar.

Tanpa berlama-lama, kami berdua pun segera masuk. Tak ada seorang pun yang menyambut saat kami berdua melewati pintu masuk tadi.

“Weh, kenapa nda ada orang?” tanyaku yang masih berdiri di ambang pintu masuk.

“Ndaji, adaji ntar itu orangnya,” balas Isal sambil menyusuri toko tersebut.

Karena sedikit ragu menginjakkan kaki, alhasil saya hanya berdiri di ambang pintu saja sembari melongok ke dalam dan melihat apa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.

Saya menyangka, toko buku ini juga memiliki kafe yang sangat cocok dipakai mengerjakan tugas sepulang kuliah. Ternyata, kafenya cuma ada di tempat sebelumnya, di BTN Wesabbe. Ketika pindah ke Jl. Perintis Kemerdekaan VII, lokasinya sudah tidak memadai untuk mendirikan kafe. Dari luar, toko buku ini juga sepertinya menjual beberapa pakaian, terlihat dari deretan baju yang penuh dengan sablon kata-kata bijak yang mencirikan seorang bookworm.

“Toko buku ini sepi karena kebanyakan orang membeli buku secara online,” ucap Hasbullah, pemilik toko Dialektika tersebut.

Pihaknya pun memperkuat penjualan di media sosial, Instagram.

Setelah itu, saya juga berkunjung ke toko buku Intuisi di Jl. Tidung 10. Saya sempat berbincang-bincang dengan pemilik toko buku tersebut.

“Semakin hari, semakin tidak adami orang yang berkunjung,” ucap Kak Ikrimah si pemilik toko.
“Kami beradaptasi dengan lebih memperkuat di jualan online,” tambahnya.

Ini membuktikan, sebagian besar toko buku sedang mati-matian bertahan melawan pasar online. Karena kurang pemasukan, toko buku Intuisi sempat tutup.

Namun, penutupan tersebut tidak bertahan lama. Sebab kata Ikrimah, kita telah hidup di zaman yang serba modern. Semua barang jualan juga bisa dijual di marketplace saat ini. Hal itu membuat penjualan menjadi lebih efektif di kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan jual beli secara langsung.

Seperti toko buku Intuisi sendiri, meski surut pengunjung, mereka tetap memasarkan buku-buku mereka di berbagai aplikasi, seperti Instagram dan Shopee.

Menurut Ikrimah, pola pikir perlu diubah, tak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha mencari jalan keluar. Namun, dengan pola pikir manusia yang kompleks membuat semuanya bisa diakali.

2. Pembajakan Buku

Persoalan kedua yang membuat toko buku alternatif menjadi mati suri adalah pembajakan buku. Banyak masyarakat yang tidak sepenuhnya mengerti tentang apa itu pembajakan buku.

Jika ditilik dari segi harga, buku bajakan jelas jauh lebih murah. Contohnya saja Felia.book.store di Shopee yang menjajakan buku yang harganya empat kali lebih murah dari harga resmi penerbit.

Sebut saja buku Bicara Itu Ada Seninya. Harga resmi penjualan buku ini 67 ribu rupiah. Tapi, toko online ini menjual buku karya Oh Su Hyang itu dengan harga 15 ribu rupiah.

Perbedaan harga yang mencolok itu membuat toko buku alternatif kurang diminati. Pembeli  lebih doyan mengonsumsi buku bajakan.

Di kepala para pembeli buku bajakan itu, berlaku dalil: toh, isi dari bukunya tetap sama walau kualitas kertasnya sedikit di bawah standar.

Sangat sulit untuk memusnahkan pembajakan buku yang merugikan tersebut. Banyak penjual buku bajakan yang berlomba-lomba memasarkan dagangan mereka di marketplace tanpa malu-malu. Mereka tidak lagi peduli siapa yang dirugikan.

Situasi tersebut menjadi ironi di saat toko buku alternatif harus berdarah-darah mempertahankan bisnisnya. Ya, bak sudah babak belur dihantam pasar online, harus digebuki pula oleh pembajakan.

Mereka yang mempunyai toko buku legal harus gigit jari lagi, kalah bersaing dengan buku bacaan yang ilegal dengan iming-iming harga miring.

*) Penilis adalah mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muslim Indonesia (UMI).  Lelaki kelahiran dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 1 november 2000 ini bisa dihubungi lewat Instagram @aiwer

Facebook Comments
ADVERTISEMENT