Beranda Berdikari Senyawa Burger; Memberikan Nyawa untuk Masa Depan

Senyawa Burger; Memberikan Nyawa untuk Masa Depan

0
Muh Wahyu

Oleh: Muh Wahyu*

Aku merasa bangga dengan usaha yang kujalani. Usaha yang saya rintis sejak gerobak hingga memiliki outlet, meski dibilang kecil. Semua berawal dari kegigihan. Ya… Kegigihan untuk keluar dari kehidupan yang Aku anggap sangat berkecukupan. Cukup memenuhi kebutuhan makan sekeluarga sehari-hari, itupun harus disiasati terlebih dahulu.

Mengalami kondisi seperti, jiwaku berkecamuk. Aku harus keluar dari kondisi ini. Dari itu, kuputuskan untuk bekerja. Dimanapun itu, asalkan dapat menghasilkan uang.

Advertisement

Beruntung adik dari ibu mau berbaik hati, menerima untuk bekerja dan tinggal di rumahnya. Selain sebagai tempat tinggal, rumah itu digunakan sebagai tempat berjualan. Itulah titik balik dari semuanya yang akan aku ceritakan di dalam kisah yang saya tuliskan ini.

Arti Perjuangan

Kisahku bermula dari penderitaan yang kualami sejak kecil. Aku lahir dari seorang Ibu yang tidak kaya secara materi. Ayahku berpisah dengan ibuku sejak aku belum bisa menghafal raut wajahnya. Ibu yang menjadi single parent harus menahan getirnya kehidupan. Sempat aku berpikiran negatif, bahwa kehadiranku lah yang membawa pokok kepedihan.

Bayangkan saja, aku dikandung, dilahirkan, hingga dibesarkan bersama dua kakakku. Saat kehadiranku, keceriaan anak bersama bapaknya sirna seketika. Saya paham kondisi ibu, pasti sangat tidak mudah bagi tulang rusuk yang tanpa tulang punggung. Dari ibukulah, saya belajar arti perjuangan.

Segala pengorbanan dilakukannya, untuk membiayai sekolahku, beserta kedua saudaraku. Terlebih saat masih kecil, saya sangat cengeng. Ditinggal sedikit pasti menangis.

Saat itu, menginjak usia enam tahun, akan bersekolah dasar. Setiap kali ibu pergi ke kota aku dititipkan kepada Ninik yang juga tinggal serumah dengan kami. Ninik-lah yang selalu merawat kami bertiga.

Aku selalu menyembunyikan air mataku. Kuantar ibu menunggu mobil yang akan membawanya ke kota, dari kejauhan ibu selalu melambaikan tangan dan tersenyum simpul kepadaku. Ketika mobil telah melaju. Saat itu pula ketika wajah ibu tak terlihat lagi, muncullah dua aliran anak sungai yang sangat deras dari mataku turun ke pipi dan jatuh membasahi tanah yang kutapaki.

Meski perjuangan ibuku dapat menyelokahkanku hingga bangku SMA, bagi saya itu sudah luar biasa.

Perguruan tinggi terbilang mahal, mencapai Rp 500.00 per semester bahkan sampai Rp 1.500.000 untuk jurusan tertentu. Saya sadar kondisi saat itu, sungguh sangatlah berat.

Tentang Ibuku

Aku memutuskan agar biaya kehidupanku tidak lagi dibiayai oleh ibu. Sudah cukup biaya makan sehari-hari, semua kebutuhan sekolah, selama ini. Cukup! Aku harus berusaha.

Serasa saya tak berguna jika masih menyisakan beban terhadapnya.

Saya mengingat betul. Pernah suatu hari, agar kebutuhan dapat terpenuhi, ibu nyaris berumah di sawah. Sawah peninggalan atok. Aku tidak tahu persis alasannya, apakah memang keadaan sudah sangat menjepit ataukah dia ingin merawat kenangan peninggalan atok.

Pernah juga, saya yang masih sangat culung, menangis jika meminta dibelikan mainan tetapi ibu tidak membelikan. Saya tahu, Ibu sangat ingin membelikan mainan itu untukku, tetapi ada hal lain lebih penting. Ibuku harus mempergunakan uang sebaik mungkin. Waktu itu, saya hanya anak kecil belum tau apa-apa.

“Meski belum kaya, bisa makan saja sudah cukup. Meski sedang susah, bisa hidup saja sudah lebih dari cukup,”  kutipan ini selalu terngiang saat mengenang jasa ibu.

Dunia Kerja

Awalnya, saya bekerja bukan karena usaha sendiri. Semuanya atas usaha ibuku. Melalui perbincangan telepon, ibu meminta agar adiknya bisa memberikanku pekerjaan, meskipun itu hanya sebagai pelayan.

Masih jelas ingatanku, saat pertama kali kutapakkan kaki di rumah itu, disambut dengan spanduk berukuran besar SOP SAUDARA & IKAN BAKAR  WARUNG PANGKEP.

Lumayan, upah pelayan Rp40.000 perhari cukup untuk kebutuhanku sendiri. Setiap sebulan sekali, kusisipkan sebagian upah yang kudapat, untuk ibu dan keluarga di kampung. Terkadang berpuasa agar dapat memenuhi tabungan itu. Bukan hanya puasa makan, saya pun puasa belanja.

Setelah bekerja saya beristirahat. Saya bak anak muda tak normal – seperti anak muda di luaran sana, bebas menikmati suasana malam kota yang dipenuhi berhura-hura. Tertawa lepas tanpa ada beban pikiran.

Kalaupun ingin menikmati suasana kota, itu menjadi masalah baru bagi saya. Saya tak punya kendaraan, sobat!

Saya selalu berpikir, beginikah nasib yang telah ditentukan untuk saya?

Sejuta kemewahan ditawarkan, sementara saya cuma memiliki keterbatasan. Pakai apa saya membelinya? Jika nasib hanya seperti ini terus. Bagaimana saya berbakti terhadap Ibu?

Suatu hari, saya mendapatkan kabar kabar dari sahabat, jika di tempatnya membutuhkan tambahan karyawan. Gajinya lumayan besar dibanding menjadi pelayan. Dipikir-pikir ada baiknya juga, selain bisa dekat dengan sahabatku, aku bisa sedikit lebih menyisihkan uang untuk Ibu di kampung.

Senang rasanya bisa bekerja, dengan suasana yang baru dan bertemu banyak kalangan, mulai dari yang seumuran denganku, ibu-ibu yang membantu suami mencari penghidupan keluarganya, hingga gadis remaja yang mencari biaya tambahan untuk membayar biaya kost dan kuliahnya.

Saya bekerja di Catering service.  Tempat kerja ini selalu mendapatkan  banyak pesanan dari orang berduit yang  gak mau repot mengurus dan menyediakan hidangan untuk pesta. Di sini saya hanya sebagai sopir yang mengantar makanan kepada tuan-tuan  yang memesan. Selain makanan, kami juga menyediakan segala macam alat makan, meja, kursi, dan hiasan pesta.

Seiring jalanya waktu, pekerjaan ini seakan tidak memberikan jeda istrahat. Ada-ada saja manusia di permukaan bumi ini yang menggekar hajatan. Hingga akhirnya usaha itu seret. Usahanya makin hari makin menurun, sisipan buat Ibu kembali susah.

Sementara cita-citaku hanya membahagiakan ibu. Belum usai lika-liku perjalan ini kulanjutkan dengan setumpuk harapan. Yang kubawa dari kota ke kota. Mengarah ke selatan ibukota.

“Ah…. beginilah jika cita-cita hanya setinggi pohon pinang,” selorohku.

Bangun Usaha Sendiri

“Kalau kerja hanya sekedar kerja kerbau disawah juga kerja,” Buya Hamka

Kalimat ini yang menuntunku selanjutnya.

Setahun setelah bekerja catering service, saya memutuskan keluar. Lalu kembali menjadi pelayan rumah makan milik anak saudara ibu. Warung yang dirintis dari sejak dulu dengan jerih payahnya sendiri, menawarkan aku bekerja.

Ternyata tuhan memang selalu baik dan memberi kemudahan setiap hambanya, yang mau berusaha. Disinilah awal mula perjalanan SENYAWA.BURGER itu dimulai.

Saya bekerja menjadi pelayan rumah makan selama 3 tahun. Dengan suka dan duka yang harus aku lalui. Tidur beralaskan papan dan kardus bekas, luas kamar hanya 2×2 meter beratap, dinding seng.

Dari kecil, saya sudah terbiasa hidup seperti ini sudah bukan hal lumrah lagi. Mengingat perjuangan ibu yang selama ini berjuang membesarkan anak-anaknya sendiri.

Selalu menjadi acuan bagi untuk tidak mudah putus asa, dengan segala keterbatasan hidup ini. Baik untuk aku atau orang-orang di luar sana yang mengalami hal keterbatasan sepertiku. Jangan mudah menyerah jika hal di lakukan itu segalanya demi kebaikan.

Mengeluh hanya akan membuat hidup semakin tertekan, sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan.

Aku melihat ada peluang untuk membuka usaha, tanpa pikir panjang kurancang segala apa yang akan kubuat. Walau sedikit bingung  akan membuka usaha apa, kusisipkan demi sedikit upah hasil bekerja sebagai pelayan rumah makan.

Aku ingat ada teman yang orangtuanya bekerja sebagai tukang kayu, yang bisa membuat segala kerajinan mulai dari lemari, kursi, meja, gerobak kayu. Mintalah aku dibuatkan gerobak kayu sesuai rancanganku. Gerobak  itu dibuat di halaman rumahnya, hanya seminggu ia sudah selesai mengerjakannya. Bermodalkan palu, gergaji, paku, dan sedikit polesan cat untuk mewarnai gerobak, agar tampak indah dipandang.

Meminta bantuan teman mengangkut gerobak itu. Kami mengangkutnya ke rumah kontrakan milik sepupu yang juga ia tempati berjualan. Hanya gerobak, belum ada peralatan, dan bahan-bahan untuk membuka usaha, kuselipkan sedikit-demi sedikit upah dari pekerjaanku sebagai pelayan.

Menunggu lama, modal usaha pun terkumpul, namun terbatas.

SENYAWA.BURGER, aku sendirilah yang menamainya. Berawal dari kebiasaanku mendengar lagu yang bernuansa indie selalu kudengar berulang-ulang kali, muncul satu kata yang membuatku terpesona

Harum tanah yang rindu akan tetumbuhan
Terlelap di teduhnya malam
SENYAWA nyala di pelupuk mata air
Menderaikan hening dunia

Aku yang selalu rindu akan masa kecilku dengan kasih sayang sang Ibu, terlelap di pelukan saat malam
ku menyala di setiap pelupuk air mata
Berdiri bersih di dunia.

Tiba masa tiba akal membuat sebuah makanan yang akan disukai banyak orang, iyah  burger. Makanan yang sudah sangat dikenal di semua kalangan. Anak remaja, ibu-ibu, bahkan anak kecilpun tau makanan ini. Ini adalah makanan yang dipopulerkan di Jerman. Dan masuk ke Indonesia yang sering dijumpai di outlet besar seperti KFC, MCD, dan Burger King.

Meskipun tak semewah dengan apa yang saya sebutkan di atas, tapi saya sangat berkeinginan nantinya bisa mempunya outlet yang besar dan terkenal setiap manusia harus punya cita-cita yang tinggi.

Saya memulainya dengan peralatan sederhana dan murah. Saya bersama teman memanfaatkan potongan besi besi bekas sebagai alat masak.

Saya sadar, sangat tidak mudah membangun sebuah usaha sendiri. Segala sesuatunya dilakukan sendiri, masalah yang dialami pun ditanggung sendiri. Bukan tanpa masalah, jika hujan harus rela kebasahan karena tempat berjualan tanpa atap, panas kepanasan hujan kehujanan. Pernah hanya mendapat Rp 20.000 dalam seharinya berjualan mulai pagi hingga larut malam.

Hampir saja saya menyerah, dan ingin meninggalkan semua apa yang telah kuperjuangkan. Tapi itu tak kunjung saat saya menngingat Ibu. Ada restu dan doa Ibu yang selalu menyertainya. Dibalik kesulitan akan ada kemudahan.

Memasuki  dua tahun perjalanan Senyawa.Burger selalu aku berusaha untuk memperbaiki semuanya. Tidak terlalu cepat puas atas pencapaian, tidak terlena dan memuji diri sendiri.

*) Penulis adalah Pengusaha.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT