Beranda HISTORIA UMKM Kita Dari Kolong Rumah, Haeruddin Rintis Ropank yang Kini Sasar Pasar Lintas Kabupaten

Dari Kolong Rumah, Haeruddin Rintis Ropank yang Kini Sasar Pasar Lintas Kabupaten

0
ADVERTISEMENT

MataKita.co, Pangkep – Selalu ada hasil dari setiap usaha maksimal. Begitulah yang dirasakan Haeruddin dalam membangun bisnis rotinya di Kabupaten Pangkep.

Pria kelahiran Mangkaca, Kelurahan Bonto Matene, Kecamatan Segeri yang mulai menjalankan bisnis rotinya dengan menumpang di rumah orang tuanya di kampung tersebut, yang letaknya belasan kilometer dari pusat Kota Pangkep.

Di bawah kolom rumah berlantai dua panggung bercat cokelat itu, Ojas bersama adiknya bergelut dengan adonan roti, yang dinamai Roti Pangkep atau lebih akrab dengan sebutan Ropank.

Untuk memulai bisnisnya itu, Ojas dulunya berdagang sebagai pedagang buah naga keliling kompleks perumahan di Kota Makassar. Usai mencoba peruntukan dengan berdagang buah naga, Ojas pun berjualan keliling donat, yang dibuatnya sendiri, mulai pukul 2 dini hari. Itu harus ia selesaikan sebelum pukul 6 pagi, karena Ojas harus berangkat kerja di salah satu perusahaan terigu ternama di Kota Makassar. Sembari perjalanan ke tempat kerjanya. Ojas pun mampir di tiap-tiap warung untuk menitipkan donatnya di warung-warung tersebut. Sepeda motor beat yang dikendarainya pun penuh dengan tumpukan plastik berisi donat, dibelakang dan depannya ia bawa dengan motor beatnya itu. Begitupula saat pulang kerja, Ojas tak lupa mampir di tiap-tiap warung yang menjajakan donat buatannya.

Hasil kerja kerasnya itulah yang ia pakai membeli oven dan mixer untuk memulai bisnis roti di Kabupaten Pangkep. Ia ingin agar Pangkep bisa mendandingi Maros yang punya roti maros. Dari tangan dinginnya dan kepiawaian Ojas, ia menyulap adonan itu menjadi roti yang begitu lembut dan manis di lidah.

Sejak memulai bisnisnya pada bulan April lalu, pesanan Ropank pun sudah berdatangan dan antri, yang dulunya ia produksi hanya 200 pcs per hari, kini produksinya sudah mencapai 2000 pcs per hari, bahkan permintaan yang masuk jauh lebih tinggi dari kemampuan produksi.

Berbekal peralatan seadanya dan terbilang masih konvensional, membuat Ojas kesulitan memenuhi tingginya permintaan konsumen. Meski memakai dapur yang seadanya, tetapi tetap saja kebersihannya jadi nomor satu, dinding-dinding dari papan dan dibungkus spanduk itu tak menyurutkan langkah Ojas memakai tempat tersebut sebagai dapurnya mengolah Ropank. Padahal wadah pengembang rotinya pun masih seadanya digunakan, itulah yang membuatnya harus menunggu lama hingga sejam sebelum dilakukan proses pembakaran roti di dalam oven.

Ropank mengembang dengan sempurna di tangan suami seorang Chef di salah satu hotel ternama di Kota Makassar ini. Meski demikian, Ojas mengaku banyak mencuri ilmu mengolah adonan ini dari perusahaan tempatnya bekerja yang mengirim Ojas untuk belajar di Malaysia hingga Singapura untuk mempelajari terkait terigu dan gandum di kedua negara tetangga itu.

Sehingga, Ojas tak hanya pandai membuat Ropank saja. Namun, hampir seluruh adonan dari terigu ia bisa olah dengan cita rasa tak kalah dari brand-brand ternama dan hotel-hotel mewah. Ia tetap sesuaikan cita rasa dan konsumennya, seperti Ropank yang ia jual dengan harga relatif terjangkau Rp2 ribu per pcs Ropank yang seukuran roti burger berisi cokelat pasta atau keju, vanila hingga durian, yang membedakannya juga, Ojas tak memakai bahan pengawet. Sehingga roti miliknya hanya bisa bertahan empat hari saja. Meski tahan empat hari, ditangan pemasaran langsung laris dalam sekapi drop saja. Tak butuh menunggu waktu hingga empat hari.

“Kita tidak pakai pengawet. Jadi cuman tahan maksimal empat hari saja. Itupun baru matang dan dikemas langsung habis,” katanya yang merupakan anak asuh dari Ketua Apindo Kota Makassar, Muammar Muhayang ini.

Pemasarannya pun masih memanfaatkan promosi di media sosial dan sistem reseller disejumlah lokasi, hingga kini beluk tersebar di tiap kecamatan. Padahal peminatnya sangat tinggi.

“Alhamdulillah yang awalnya pada Bulan empat kita produksi 200 pcs saja. Sekarang 2.000 pcs. Semoga kita bisa produksi lagi 5.000 pcs dalam sehari, kalau alat dan tenaga sudah memadai, karena banyak permintaan,” pungkasnya.

Selain pandai membuat berbagai adonan dari terigu, seperti donat, pizza, mie, roti dan olahan lain. Ojas pun kerap diundang sebagai narasumber untuk mendemonstrasikan pembuatan roti, donat dan pizza di berbagai komunitas.

Bagi anak keempat dari tujuh bersaudara ini, ia ingin membangun toko roti di pinggir jalan. Karena lokasinya saat ini, memanfaatkan rumah orang tua yang letaknya pun masuk ke dalam lorong di Kampung Mangkaca. Ia ingin punya toko roti tepat di jalan poros.

Ojas pun mengaku menjadikan kualitas sebagai prioritasnya. Sehingga roti yang ia buat pun menggunakan bahan dasar pilihan berprotein tinggi dengan isian di dalamnya juga dipilih khusus. Kini pun ia sudah mempekerjakan tujuh orang dalam dapur Ropank itu. Diantaranya ibu-ibu tetangganya ikut diberdayakan, sehingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah tetangga disini ikut bantu-bantu. Jadi lapangan kerja baru tersedia bagi mereka disini. Selain itu saya juga dibantu sama adik saya untuk buat roti ini. Namun, untuk pesanan banyak memang butuu tenaga dan alat yang memadai juga, pesanan itu sudah berdatangan, ada dari Makassar, Pinrang, Barru hingga Bulukumba. Tetapi kita masih terus beruapaya semoga alat bisa bertambah sehingga kita bisa produksi banyak rotinya,” paparnya.

Meski demikian, Ojas tetap berharap kepedulian pemerintah Kabupaten Pangkep terhadap UMKM ini, karena selama ini belum pernah mendapat perhatian dari pemerintah setempat, baik bantuan maupun perhatian lainnya.

“Support dari pemerintah sebenarnya penting juga. Tetapi belum menyentuh. Padahal tujuan kita agar Pangkep ini punya roti yang ada ciri khasnya. Kedepan saya ingin buat juga roti varian ikan bolu, supaya mengangkat komoditas kita disini,” bebernya.

Saat ini Roti milik Chef Ojas, sapaan akrab Haeruddin ini kian dicari bahkan ke sejumlah daerah di Sulsel. (*/Rp)

Facebook Comments
ADVERTISEMENT