Beranda Politik Tak Hanya Bendungan, Ini yang Diharapkan Pemuda Jeneponto Atas Kedatangan Presiden Jokowi

Tak Hanya Bendungan, Ini yang Diharapkan Pemuda Jeneponto Atas Kedatangan Presiden Jokowi

0
Taufik Hidayat
ADVERTISEMENT

MataKita.co, Makassar – Presiden Joko Widodo diagendakan akan berkunjung ke Jeneponto  pada selasa (23/11/2021). Salah satu agenda orang nomor satu di Indonesia itu adalah peresmian bendungan kelara kareloe. Ini tentunya menjadi kabar gembira bagi masyarakat jeneponto karena telah bertahun-tahun mayoritas masyarakat Jeneponto mengalami gagal panen akibat kekurangan ketersediaan air untuk mengairi persawahan.  Peresmian bendungan ini diharapkan menjadi solusi mengatasi krisis pengairan bagi petani khusunya petani padi di jeneponto. Tak hanya masalah di bidang Pertanian yang harus dituntaskan dengan menyediakan bendungan. Namun, di Jeneponto juga terdapat permasalahan mendasar yang harus segera dituntaskan.

Pemuda Jeneponto, Taufik Hidayat menyampaikan bahwa kedatangan Jokowi untuk peresmian waduk kelara kareloe adalah bagian penting untuk mengatasi permasalahan mendasar bagi petani di daerah jeneponto.

“Peresmian waduk Kelara Kareloe oleh Presiden Jokowi ini merupakan kesempatan bagi daerah jeneponto untuk mengoptimalkan fungsi waduk secara tepat untuk mengatasi permasalahan seringnya gagal panen khusunya tanaman padi di jeneponto. Adanya waduk ini juga diharapkan mampu meningkatkan Prokduktivitas dan produksi padi di jeneponto. Petani pada tahun-tahun sebelumnya tidak dapat mengandalkan sarana irigasi untuk pertanian. Biasanyakan setiap tahunnya hanya 1 kali panen, ini pun jika didukung curah hujan yang baik. Jika curah hujan tidak baik maka petani harus bersiap untuk gagal panen. Maka kehadiran bendungan ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan petani dengan meningkatkan intensitas panen padi dan sektor pertanian lainnya di jeneponto. Misalkan pada tanaman padi dari yang semula hanya 1 kali panen, dapat menjadi 2 sampai 3 kali panen setiap tahunnya”. Jelas Taufik.

Taufik Hidayat yang juga saat ini menjabat sebagai Presiden BEM Fakultas Hukum UNHAS menyampaikan bahwa selain permasalahan di sektor pertanian, daerah Jeneponto juga memiliki permasalahan dalam melakukan optimaslisai potensi daerah di sektor Garam. Jika dikelola dengan baik maka akan meningkatkan ekspor dan berimplikasi pada peningkatan ketersediaan garam nasional.

“Potensi daerah selain di sektor pertanian, Jeneponto juga memiliki potensi produksi Garam terbesar di wilayah timur indonesia. Namun menjadi permasalahan saat ini potensi garam di jeneponto belum mampu dikelolah secara optimal. Pengelolaan produksi petani garam yang masih dilakukan secara tradisional yang hanya mengandalkan penguapan air laut dengan bantuan cahaya matahari, kemudian harga garam yang tidak menentu, ditambah belum adanya sentra industri garam di jeneponto merupakan permasalahan utama. Yang paling dirugikan dalam permasalahan ini adalah petani garam. Maka kehadiran Jokowi di jeneponto bukan hanya memberi bendungan, tetapi bagaimana mampu menghadirkan sentral industri garam yang berpusat di Jeneponto. Garam-garam produksi petani tidak lagi langsung  dikirim ke luar daerah, tetapi harus melalui proses industrisasi yang dilakukan di jeneponto agar harga  jualnya meningkat. Kehadiran sentra industri produksi garam ini juga mampu memberikan kepastian harga bagi petani, agar terhindar dari para mafia garam di jeneponto. Tentunya yang harus diperhatikan juga adalah bagaimana pada produksi garam yang semula tradisional dapat lebih maju lagi dengan menggunakan teknologi modern yang mutakhir dalam produksi garam.  Semuanya tentunya dapat dilakukan dengan dukungan pemerintah harapannya agar petani-petani garam di jeneponto dapat merasakan kesejahteraan dan menopang produksi garam nasional untuk mencapai tujuan swasembada garam nasional”. Jelas Taufik.

Selain sektor garam, Taufik yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Komunitas Pelajar Peduli Turatea (KOPEPTUR) juga menyoroti terkait dengan indeks pembangunan manusia (IPM) di Jeneponto yang pertumbuhannya masih rendah.

“IPM yang menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakse hasil pembangunan, kesehatan, pendidikan dan bidang lainnya. Merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup masyarakat. IPM yang dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standard hidup layak. Melihat IPM jeneponto mulai tahun 2018-2020 yang masih pada kategori sedang dengan pertumbuhan yang mengalami penurunan tentunya merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Pertumbuhan IPM tahun 2018 (63,33), 2019 (64.00), 2020 (64,26), data tersebut menunjukan pertumbuhan IPM yang mengalami penurunan. Pertumbuhan 2019 dari tahun sebelumnya naik 0,67 kemudian tahun 2020 mengalami penurunan pertumbuhan yakni hanya 0,26.  IPM Jeneponto berada pada kategori sedang ditambah daerah yang baru menjadi daerah tertinggal yang terentaskan tentunya membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Harapannya kedatangan Jokowi ini juga meperhatikan pembangunan IPM di jeneponto terkhusus pada sektor sumber daya manusia, saya secara tegas menyampaikan kepada jokowi jangan hanya membangun bendungan di jeneponto,  tetapi jokowi juga harus membangun monumen pengetahuan.” Jelas Alumni SMAN 5 Jeneponto ini.

Kemudian lanjut Taufik, Permasalahan yang mengintai masyarakat Jeneponto adalah Konflik Agraria. Konflik terkait kepemilikan pertanahan ini tidak lepas dari masyarakat Jeneponto, konflik agraria ini seperti fenomena gunung es. Walaupun belum muncul namun ini menjadi ancaman sewaktu-waktu.

“Berdasarkan penelitian yang dilakukan di kecamatan Kelara Jeneponto, menunjukkan rendahnya pemahaman masyarat tentang reforma agraria dan rendahnya kepemilikan tanah yang bersertifikat hak milik” jelas Mantan Ketua Osis SMA 5 ini.

Taufiq menambahkan, keseluruhan permasalahan ini penting untuk menjadi perhatian Presiden agar dapat memberikan stimulan untuk pemerintah kabupaten agar dapat menuntaskan masalah ini.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT