Beranda Mimbar Ide Berhijrah Dibalik Kacamata Ekonomi Masyarakat Indonesia

Berhijrah Dibalik Kacamata Ekonomi Masyarakat Indonesia

0

Oleh : Nurhidayah*

Direktur Syariah pada Bank Indonesia, khususnya di salah satu kecamatan di daerah Wajo, yaitu kecamatan Pitumpanua menyelenggarakan sosialisasi terkait peralihan tabungan dari bank yang bersifat konvensional beralih ke bank yang bersifat syariah. Pada acara sosialisasi tersebut dihadiri oleh sekitar 60 warga, yang bertempat di depan kantor kecamatan Pitumpanua. Sosialisasi tersebut dilaksanakan pada Ahad (3/7).

Berbicara tentang hijrah, maka berbicara tentang meninggalkan. Meninggalkan dalam artian, melepas atau menjauhkan diri dari hal yang bersifat negatif, buruk, maksiat menuju kepada keadaaan yang lebih baik. Jika membaca sirah, di mana pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabat pergi meninggalkan Mekah dan berpindah ke Madinah dengan tujuan untuk mempertahankan dan menegakkan risalah Allah SWT., berupa akidah dan syariat Islam.

Berhijrah telah terdapat dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 20:

اَمنُْواَوَهاَجُرْواَوَجاَهدُْوهفْي َسهبْيهل ٰاللّههباَْمَواهلهْم َواَْنفُهسهْماَْعَظُمدََرَجة هعْندَ ٰهاللّلِٕىَكواَُوهُُمِٕىُزْونَاْلَفااَلَّ هذ ْي َن

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)

Melihat dalam konteks ekonomi, di mana hijrah dapat dipahami sebagai proses untuk meninggalkan aktivitas yang tidak sesuai dengan syariah menuju aktivitas yang sesuai syariah. Ekonomi syariah merupakan sistem atau tatanan ekonomi yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadist dengan menerapkan prinsip keimanan dan ketakwaan, memenuhi kebutuhan, pembagian kepemilikan, serta pengelolaan atas kepemilikan tersebut. Proses hijrah dalam ekonomi syariah dapat dicontohkan dengan hal-hal sederhana tapi punya dampak yang signifikan. Misalnya, memindahkan tabungan dari bank konvensional ke bank syariah, menutup angsuran di leasing konvensional, kemudian mengalihkan setiap kredit pembiayaan dari bank konvensional ke bank syariah, memilih asuransi syariah untuk memitigasi risiko kesehatan dan pendidikan keluarga, dan menggunakan kartu kredit syariah. Untuk para pemilik modal juga berinvestasi di saham, sukuk, dan reksa dana syariah. Menjaga adab-adab sebagai pelaku dan pebisnis, menjaga adab-adab Islami dalam berbisnis.

Dewasa ini kita sering diperhadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak sesuai dengan Islam, seperti halnya pada sistem ekonomi kapitalis, di mana setiap individu mengelola serta mengurus perekonomian mereka. Sehingga, hal ini akan menciptakan jarak antara yang kaya dan yang miskin. Hal ini pula yang akan membuat si kaya semakin kaya dan si miskin akan semakin miskin. Bahkan, semakin mirisnya mayoritas masyarakat Indonesia yang berada di garis kemiskinan adalah umat Islam. Hal ini disebabkan, kegiatan ekonomi mayoritas umat Islam masih berpikir dengan corak agraris dan kolot. Padahal di zaman modern seperti saat ini, dunia bisnis membutuhkan orang-orang yang kreatif dan siap untuk saling berkompetisi. Ditambah dengan, konsep ekonomi yang mencari keuntungan (riba). Berbanding terbalik ketika masyarakat Indonesia menerapkan sistem ekonomi syariah yang menjungjung tinggi menolong, yang kaya menolong yang miskin, yang kuat menolong yang lemah,

nilai-nilai ukhuwah dan nilai-nilai kebersamaan, dengan artian bahwa setiap orang harus saling tolong sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Bahkan, mereka merasa bahwa mereka bagaikan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

 

Selain itu, penerapan dari ekonomi syariah memiliki keuntungan, yaitu dalam melakukan transaksi keuangan terhindar dari yang namanya riba. Karena Islam, mengharamkan riba dan wajib untuk ditinggalkan. Tidak hanya itu, dibandingkan dengan penerapan ekonomi konvensional di mana ekonomi syariah dalam dunia perbankan mengeluarkan berbagai macam produk tabungan yang tidak tersedia pada bank konvensional, seperti tabungan haji, wakaf, kurban, hingga deposito syariah, serta sistem bagi hasil yang dilakukan secara adil dan transparan. 

Kebermanfaatan hijrah menuju ekonomi syariah tidak hanya dirasakan oleh pribadi, tapi juga orang lain. Hal tersebut juga mampu melahirkan keberkahan dalam setiap aktivitas yang dilakukan, karena nilai dan falsafah tauhid dalam ekonomi syariah menyadarkan bahwa Allah SWT pemilik segala sesuatu yang ada di alam semesta. Begitupun dari segi akhlak, di mana sesuai dengan sistem ekonomi yang sunahkan oleh Rasulullah SAW. Ekonomi syariah juga menerapkan sistem perekonomian yang berkeadilan dan kerjasama.

*) Penulis adalah Mahasiswa jurusan Agroteknologi Unhas dan Anggota UKM KPI

Facebook Comments
ADVERTISEMENT