Beranda Lensa Maarif Institute Gelar Tadarus Ramadhan, Sosialisasikan Gagasan dan Cita-Cita...

Maarif Institute Gelar Tadarus Ramadhan, Sosialisasikan Gagasan dan Cita-Cita Sosial Buya Syafii

0

MataKira.co, Jakarta – Tahun ini, MAARIF Institute menggelar acara Tadarus Ramadhan bertajuk, ‘Memperkuat Dialog Lintas Agama. Lintas Budaya dan Lintas Gender”, sesi pertama diskusi ini membedah buku karya Prof. Dr. Musdah Mulia, berjudul, “Perjalanan Lintas Batas: Lintas Agama, Lintas Gender dan Lintas Negara. Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, di antaranya, Prof. Dr. Musdah Mulia (Penulis Buku) dan Pdt. Dr. Albertus Patty (Pendeta, Aktivis Lintas Agama). Acara ini dimoderatori oleh Moh. Shofan (Direktur Program MAARIF Institute).

 

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Abd. Rohim Ghazali menyampaikan bahwa kegiatan tadarus Ramadhan tahun ini, dimaksudkan untuk memperkaya wacana pemikiran Islam melalui diskusi buku yang ditulis oleh para cendekiawan Muslim, seperti Prof. Musdah, Prof. Haedar Nashir dan Prof. Komaruddin Hidayat.

 

“Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempertajam kembali gagasan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan Buya Syafii Maarif, khususnya di kalangan generasi millennial”, tegas Rohim.

 

Mengawali pemaparannya, Musdah Mulia menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan lebih kepada perjalanan intelektual yang melahirkan dialog kreatif dengan beragam manusia, baik dari aspek agama, budaya, suku, jender, kewarganegaraan, dan sebagainya.

 

“Saya banyak mengangkat ragam isu krusial di beberapa negara yang saya singgahi. Misalnya, isu kelompok agama minoritas, perempuan, masyarakat adat dan penganut aliran-aliran lokal, serta para pengungsi yang terusir dari negaranya”, jelas Musdah.

 

Sementara Pdt. Albertus Patty, yang akrab disapa Pak Berty, sangat mengapresiasi buku yang ditulis oleh Musdah Mulia. Menurutnya, sebagai pendeta, ia selalu menghadirkan dialog terbuka lintas iman, membuka wawasan kedua belah pihak. Bukan sekadar saling mengenal dan mengetahui keyakinan masing-masing. Yang utama adalah tumbuh sikap saling menghormati dan menghargai sehingga terbuka jalan untuk mengadakan berbagai kegiatan bersama. 

 

“Prinsip ajaran gereja atau dogmatika menurutnya harus berdasarkan cinta kasih yang menciptakan keadilan dan kemanusiaan. “Kalau sebuah dogma atau doktrin kehilangan cinta, artinya sudah menyimpang dari prinsip dasar kekristenan. “Bukankah prinsip utama dalam kekristenan itu adalah cinta kasih?”, jelasnya.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 50 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, dosen, dan masyarakat. Kegiatan tadarus ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii, baik di ranah keislaman, kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebhinnekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsa.

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT