MataKita.co, Makassar – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah Sulawesi Selatan bersama Lazismu Sulawesi Selatan memperkuat sinergi untuk membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung kuat sepanjang 2026. Salah satu langkah yang disiapkan ialah pengembangan Program Wakaf Sumur guna menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan kedua lembaga di Makassar, Selasa (30/6), sebagai bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat berbasis filantropi sekaligus mendukung ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino pada 2026 diperkirakan berada pada kategori kuat sehingga berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi ketersediaan air bagi sektor pertanian.
Hasil pemantauan MPM Sulawesi Selatan bersama Lazismu Sulawesi Selatan juga menunjukkan sejumlah daerah mulai mengalami kekurangan air. Akibatnya, petani menghadapi kesulitan mengairi sawah maupun kebun sehingga meningkatkan risiko penurunan produksi hingga gagal panen.
Ketua MPM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, mengatakan pembangunan sumur bor yang didukung sistem pompanisasi menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
“Petani membutuhkan sumber air agar tetap bisa berproduksi. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah pembangunan sumur bor dan pompanisasi,” ujarnya.
Menurut Abd. Rasyid, MPM memiliki sumber daya yang berpengalaman dalam pembangunan sistem pompanisasi sehingga optimistis program tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi dengan Lazismu. Sejumlah lokasi yang membutuhkan bantuan juga telah diidentifikasi sebagai calon penerima Program Wakaf Sumur.
“Kami berharap sinergi ini terus berjalan. Beberapa titik sudah kami survei dan siap diusulkan untuk mendapatkan bantuan wakaf sumur,” katanya.
Sementara itu, Ketua Lazismu Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Mahmuddin, mengatakan kolaborasi dengan majelis dan lembaga Muhammadiyah merupakan arahan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan agar program-program sosial semakin berdampak bagi masyarakat.
Ia menilai MPM dan Lazismu memiliki peran strategis dalam memperkuat pemberdayaan petani, nelayan, dan peternak melalui program yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga mampu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami ingin dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya digunakan untuk bantuan konsumtif, tetapi juga menjadi program pemberdayaan yang memberikan manfaat jangka panjang,” ujarnya.
Melalui Program Wakaf Sumur, kedua lembaga berharap ketersediaan air di kawasan pertanian dapat terjaga sehingga produktivitas petani tetap berlangsung meski menghadapi musim kering. Program tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus memperluas pemanfaatan dana filantropi Islam untuk pembangunan yang berkelanjutan.








































