MataKita.co, Parepare – Kesadaran menghadapi perubahan iklim perlu ditanamkan sejak usia dini. Salah satu caranya ialah mengajak anak-anak mengenali kondisi lingkungan di sekitar mereka sekaligus memahami langkah-langkah sederhana untuk beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Upaya tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin melalui kegiatan edukasi adaptasi perubahan iklim berbasis Participatory Climate Mapping atau pemetaan partisipatif di SD Negeri 70 Parepare, Kelurahan Bukit Indah, Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Senin (27/7/2026).
Kegiatan merupakan program kerja individu Nofriyen Destini, mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin angkatan 2023. Sasaran kegiatan adalah siswa kelas V SD untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai perubahan iklim serta pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.
Dalam sesi edukasi, siswa diperkenalkan pada konsep perubahan iklim, faktor penyebab, dampak yang dirasakan masyarakat, serta berbagai langkah adaptasi dan mitigasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana, dilengkapi gambar, contoh kasus, dan diskusi interaktif agar mudah dipahami oleh peserta.
Setelah menerima materi, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan pemetaan partisipatif. Melalui peta Kelurahan Bukit Indah, mereka mengidentifikasi berbagai kondisi lingkungan, seperti lokasi genangan air, titik penumpukan sampah, kawasan hijau, daerah yang terasa lebih panas, saluran drainase, hingga area yang berpotensi menjadi daerah resapan air.
Hasil pengamatan kemudian dipresentasikan oleh masing-masing kelompok dan didiskusikan bersama. Dari proses tersebut, siswa diajak merumuskan berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar, seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menghemat penggunaan air, dan mendukung penghijauan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.
Selama kegiatan berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, serta mampu mengaitkan materi yang dipelajari dengan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Nofriyen Destini berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, pemahaman mengenai perubahan iklim tidak hanya penting sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai bekal bagi generasi muda untuk membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Selain meningkatkan literasi iklim siswa, hasil pemetaan partisipatif yang dihasilkan dalam kegiatan ini diharapkan menjadi gambaran awal mengenai persepsi masyarakat muda terhadap kondisi lingkungan di Kelurahan Bukit Indah. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu masukan dalam mendukung upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim melalui pendidikan sejak dini.








































