MataKita.co, Manila — Universitas Hasanuddin (Unhas) memaparkan dua model kemitraan internasional yang mengintegrasikan riset, penguatan kapasitas akademik, dan penyelesaian persoalan kesehatan masyarakat dalam forum Sustainable Futures Showcase: Talent and Collaboration in Action di Metro Manila, Filipina, 27–28 Oktober 2026.
Forum yang mempertemukan perguruan tinggi dan institusi dari kawasan ASEAN dan Eropa tersebut menjadi ajang berbagi praktik kolaborasi internasional dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini diselenggarakan melalui program EU–ASEAN Sustainable Connectivity Package – Higher Education (SCOPE-HE) yang didanai Uni Eropa, bekerja sama dengan Commission on Higher Education (CHED) Filipina.
Dalam forum tersebut, Unhas bersama IPB University menjadi dua perguruan tinggi asal Indonesia yang menampilkan praktik kemitraan internasional melalui pameran poster dan sesi institutional partnership pitching.
Direktur Kemitraan Strategis Unhas, Abdullah Sanusi, S.E., MBA., Ph.D., hadir mewakili Unhas dengan membawakan paparan bertajuk UNHAS–EU Partnerships for Healthier Communities and Sustainable Futures.
Abdullah memperkenalkan dua model kemitraan yang dikembangkan Unhas bersama institusi internasional, yakni kolaborasi riset kesehatan berbasis komunitas dan kerja sama akademik jangka panjang di bidang kedokteran serta kedokteran gigi.
Model pertama merupakan kolaborasi Unhas dengan International Centre for Antimicrobial Resistance Solutions (ICARS), Denmark, dan Monash University Indonesia dalam menangani persoalan penggunaan antimikroba (antimicrobial use/AMU) dan resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).
Kolaborasi tersebut mengintegrasikan pendekatan One Health dan Planetary Health yang menempatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai aspek yang saling berkaitan.
Program ini dirancang menjangkau sekitar 3.500 warga di 12 komunitas di Makassar. Kegiatannya mencakup penelitian perilaku penggunaan antimikroba, peningkatan sanitasi, pengelolaan air limbah, kesehatan lingkungan, serta penguatan sistem pemantauan resistensi antimikroba.
Pelaksanaan program melibatkan peneliti dari ketiga institusi bersama mahasiswa pascasarjana melalui kegiatan penelitian dan pemberdayaan masyarakat.
Selain pelatihan sanitasi dan pengelolaan air limbah, program tersebut mencakup pemantauan penggunaan antimikroba di tingkat rumah tangga dan fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Penelitian juga dilakukan melalui pengambilan sampel lingkungan dan analisis menggunakan teknologi Nanopore metagenomic sequencing untuk mendukung identifikasi serta pemantauan resistensi antimikroba.
Hasil penelitian diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat melalui pelibatan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
Sementara itu, model kemitraan kedua dikembangkan Unhas bersama Amsterdam University Medical Centers (Amsterdam UMC)/VU University Medical Center, Belanda.
Kerja sama jangka panjang tersebut berfokus pada penguatan pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi melalui penelitian bersama, pengembangan pendidikan pascasarjana, serta pertukaran akademik.
Sejumlah bidang penelitian yang dikembangkan meliputi penanganan celah bibir dan langit-langit (orofacial cleft), bedah ortognatik (orthognathic surgery), penanganan ameloblastoma, serta pengembangan biomaterial dalam kedokteran gigi.
Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan bukti klinis yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat di kawasan Indonesia Timur.
Abdullah mengatakan, kedua model kemitraan tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari banyaknya kerja sama yang dibangun, tetapi juga dari manfaat yang dihasilkan.
Menurut dia, kemitraan internasional harus mampu meningkatkan kapasitas akademik, menghasilkan pengetahuan baru, dan berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.
“Kemitraan internasional tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan kesepakatan. Kemitraan harus berkembang menjadi kolaborasi yang menghasilkan pengetahuan, membangun kapasitas, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Abdullah.
Ia menilai, perguruan tinggi perlu mengembangkan pola kerja sama yang menghubungkan keunggulan akademik mitra internasional dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat.
Dengan pendekatan tersebut, kerja sama internasional tidak hanya memberikan manfaat bagi pengembangan institusi, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Abdullah menambahkan, pengalaman penelitian dan kondisi sosial masyarakat Indonesia Timur memiliki nilai penting dalam pengembangan pengetahuan di tingkat global.
Karena itu, Unhas berupaya menempatkan diri bukan sekadar sebagai penerima manfaat kerja sama internasional, melainkan juga sebagai mitra yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.
“Melalui kolaborasi dengan mitra di Eropa dan kawasan, Unhas ingin membawa kekuatan akademik global untuk menjawab persoalan nyata di Indonesia. Pada saat yang sama, pengalaman dan konteks lokal yang kita miliki juga menjadi kontribusi penting bagi pengembangan pengetahuan dan solusi pada tingkat global,” katanya.
Partisipasi Unhas dalam forum tersebut sekaligus menjadi kesempatan memperluas jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dari kawasan ASEAN dan Eropa.
Melalui dua model kemitraan yang dipaparkan, Unhas memperlihatkan upaya menghubungkan internasionalisasi pendidikan tinggi dengan penguatan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Adapun Sustainable Futures Showcase: Talent and Collaboration in Action merupakan bagian dari The 4th ASEAN–EU Policy Dialogue on Higher Education: Advancing Innovation and Skills for a Sustainable Blue Economy.
Forum yang berlangsung di Seda Vertis North, Metro Manila, Filipina, tersebut membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan riset dan inovasi, mobilitas akademik, pengembangan keterampilan masa depan, hingga kontribusi perguruan tinggi terhadap ekonomi biru berkelanjutan.
Melalui keikutsertaan ini, Unhas menegaskan arah pengembangan kemitraan internasional yang tidak hanya berorientasi pada perluasan jejaring akademik, tetapi juga pada hasil penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.








































