Oleh : Ir. Alim S. Niode, M. Si*
“Wanu donggo mowali payidelo, payidepo. Wanu Didu mowali odito, yii sikopuwalo“
(Kalau masih boleh di bersihkan dengan tissue, di lap dulu. Jika tak lagi bisa demikian maka harus di buang pakai alat sekop)”.
Sambil mengucapkan itu dia menatap mata saya dengan serius. Bibirnya sedikit terbuka, tersenyum tanpa kelihatan gigi nya. Suara nya mengalun halus, sehalus tutur kata dan perilakunya. Bukan basa basi, sepanjang yang saya tahu dia adalah salah satu pejabat kepala daerah yang selalu ramah kepada siapapun. Tanpa pandang bulu.
Saat itu saya dan beberapa asisten ombudsman RI Provinsi Gorontalo sedang melakukan investigasi pelayanan publik di kantor dinas kependudukan dan catatan sipil kabupaten Gorontalo Utara. Dia tercenung sesaat dan sekali lagi menoleh ke saya sebelum menanda tangani berita acara pemeriksaan hari itu.
“Bismillah untuk rakyat ku”, demikian ucap nya,
“saya akan lakukan apapun yang terbaik untuk mereka, saya akan skop jika memang itu yang terbaik”.
Sekali lagi dia tersenyum, kali ini senyum lebar hingga gigi nya kelihatan. Dia jabat tangan saya dengan erat:
“Makasih pak kepala ombudsman sudah mengingatkan saya”.
Beberapa waktu kemudian saya datangi lagi beliau. Kali ini untuk menyerahkan piagam penghargaan kepatuhan tinggi terhadap UU No.25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik tahun 2021.Tak sedikit orang bertanya tanya tentang pencapaian itu. Tapi secara institusional tak ada keraguan pada kami untuk penilaian tersebut. Dia jabat erat tangan saya sambil berkata: “terimakasih ombudsman, jangan pernah lelah mengawasi pelayanan publik di Gorut”.
Hari ini, Kamis tanggal 3 Maret 2022, terinformasi di media sosial beliau pergi untuk selamanya menghadap sang Khaliq pada pukul 04.30 WITA.
Saya masih ingat pesan terakhir nya, karena itu kami menjadwalkan kehadiran beliau untuk mengikuti giat umpan balik sebelum Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) terkait dugaan maladministrasi pelayanan publik di Disdukcapil Gorut itu di serahkan. Allah SWT yang Maha Tahu menarik urusan tersebut darinya. Undangan yang jatuh pada hari Jum’at tanggal 4 Maret 2022, pukul 14.00 WITA itu tak sempat di hadiri beliau.
Beliau tak hanya baik dan ramah. Kadang ada yang menyebut “lepe-lepe”. Di balik kelembutan itu beliau bisa tegas sekeras baja. Misalnya pada saat memutuskan untuk memberhentikan Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara. Pada titik itu saya baru kemudian menyadari makna ucapan beliau:
“wanu dila mowali, yii sikopuwalo (kl tak lagi bisa di lap pakai tissue, maka harus di bersihkan pake alat sekop).
Kepala daerah yang penuh semangat, berkomitmen (Gorontalo: o ikilale), merakyat dan ramah kepada semua orang, tetapi juga tegas dan berani mengambil keputusan. Insha Allah Khusnul khatimah . Tempat terbaik bagimu di sisi NYA.
Selamat jalan Bupati Gorontalo Utara: bapak Dr. Hi. Indra Yasin, SH., MH.
*) Penulis adalah Kepala Ombudsman Gorontalo






































