Beranda Edukasi Menagih Janji Resiliensi Ruang Terbuka Kita di Hari Bumi 2026

Menagih Janji Resiliensi Ruang Terbuka Kita di Hari Bumi 2026

0

Oleh: Engki Fatiawan*

Wilayah perkotaan memang identik dengan pembangunan berbasis betonisasi. Bangunan-bangunan seperti perkantoran, pusat ekonomi, sekolah dan perguruan tinggi, jalan dan infrastruktur perkotaan lainnya berkembang pesat pada setiap ruang terbuka. Ekspansi ruang terbuka ini tidak terlepas dari tingginya kebutuhan ruang masyarakat kota, khususnya dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal.

Kepadatan perkotaan telah menjadi tantangan yang dihadapi oleh pemerintah kota dalam menata ruangnya. Keterbatasan ruang ekologi menyebabkan infrastruktur hijau tidak berjalan dengan maksimal. Seperti ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Ruang terbuka yang semakin menyempit secara ekologi membuat suhu perkotaan semakin meningkat di tengah tekanan penduduk dan lalu lintasnya dalam setiap waktu. Sementara daerah resapan air juga tidak luput dari pembangunan sehingga pada saat musim hujan banjir lokal kerap terjadi.

Pada kasus seperti itu, masyarakat sering kali menyudutkan pemerintah, kemudian pemerintah menuduh developer. Sementara, developer membangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pun dengan izin dari pemerintah juga. Ini menjadi sebuah lingkaran yang pada akhirnya semua terlibat dalam mendatangkan bencana ekologis itu.

Hari Bumi 2026 mengangkat tema “Our Power, Our Planet” – Kekuatan Kita, Planet Kita. Jika melihat tema tersebut, sepertinya kita semua diajak untuk berperan aktif secara kolektif dalam menjaga lingkungan, fokus percepatan energi bersih, dan bertanggung jawab untuk masa depan yang berkelanjutan. Artinya, kita di beri tanggung jawab oleh generasi sebelumnya yang telah mengizinkan kerusakan lingkungan itu terjadi. Sehingga beban ekologisnya kita yang tanggung dan kita pula yang berusaha memperbaiki.

Jika kita tidak mengubah paradigma berpikir kita memandang alam, yang hanya dipandang sebagai obyek eksploitasi yang bernilai ekonomi tinggi, hanya untuk pemenuhan keinginan manusia. Maka, beban ekologis ini akan diwariskan kepada generasi yang akan datang. Selama ini, banyak yang keliru dalam memandang bumi karena salah dalam menempatkan perhitungan ekonomi lingkungannya. Padahal dalam konteks valuasi ekonomi lingkungan ada hal yang tak ternilai dengan angka.

Selama ini, nilai ekonomi lingkungan hanya dihitung sebatas pada nilai guna saja  seperti nilai harga tanah, nilai kayu di hutan, nilai air, nilai keanekaragaman hayati dan sebagainya. Nilai manfaat ekologis  perlindungan tata air, abrasi, erosi, dan jasa ekosistem lainnya  tidak diperhitungkan dengan jelas atau bahkan dihiraukan. Belum lagi mengenai nilai warisan, yang secara ruang dan waktu berpengaruh terhadap nilai ekonomi lingkungan.

Akan tetapi, saat ini memang kita diperhadapkan antara kepentingan ekonomi atau kepentingan ekologi. Namun, pada dasarnya semua bisa berjalan bersama dan saling menguntungkan satu sama lain. Untung secara ekonomi, berkelanjutan secara ekologi, dan resilien secara sosial. Kita tidak mengutuk tambang, kita tidak melarang perkebunan sawit, kita tidak anti pembangunan. Tetapi, kita menginginkan tata kelola yang baik dengan menjalankan segala bentuk penanggulangan dampak lingkungan.

Di hari bumi ini, kita menagih ruang terbuka yang asri dan berkelanjutan. Dengan Nature-Based Solution – solusi berbasis alam sepertinya tidak merugikan kita semua. Di tengah suhu bumi yang semakin panas, masyarakat butuh tempat yang asri dan sejuk. Sehingga perumahan dengan konsep hijau dan sejuk serta memiliki ruang terbuka yang bagus menjadi primadona. Hal ini akan menaikkan nilai bangunan perumahan. Di sisi lain, secara hidrologi dapat mengurangi banjir lokal, apalagi jika biopori dan penampungan air hujan baik. Air akan masuk ke dalam tanah, tersimpan dalam tanah, dan mengurangi limpasan permukaan sehingga genangan/banjir bisa teratasi.

Di Virginia, USA, sebuah penelitian oleh Costadone dan Zhang (2025) menunjukkan keberhasilan solusi berbasis alam. Terbukti dapat menurunkan suhu mikro 5,6 derajat celcius dan mereduksi risiko banjir hingga 50 persen. Selain itu, bangunan dan tanah di sekitar mengalami peningkatan harga.

Oleh karena itu, penataan kembali ruang terbuka hijau dan daerah resapan air perlu untuk dilakukan. Jangan hanya sebatas rencana di atas kertas tetapi secara spasial di lapangan tidak sesuai. Seperti Kota Makassar yang memiliki rencana ruang daerah resapan air dan ruang terbuka hijau, tetapi jika divalidasi dengan citra satelit, ruang itu sudah terbangun oleh bangunan beton.

Selamat Hari Bumi 2026, kita kuat hadapi krisis ekologi global dengan kekuatan kita untuk Bumi kita.

*) Penulis adalah Mahasiswa S2 Pengelolaan Lingkungan Hidup Unhas

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT