Beranda Mimbar Ide Opini Partai Politik: Antara Pedagang Isu dan Arsitek Peradaban

Partai Politik: Antara Pedagang Isu dan Arsitek Peradaban

0

Oleh : Usman Lonta

(ketua Ketua LHKP PDM Kota Makassar)

Tema ini merupakan tantangan sekaligus bahan renungan bagi elit partai politik hari ini. Betapa tidak Partai politik hari ini sangat reaktif dan bahkan sensitif terhadap berbgai macam isu, dan dan cenderung melupakan visi yang menjadi arah perjuangan partai Politik itu sendiri. Sebagai illustrasi suatu hari, seorang lelaki datang ke pasar dan melihat banyak pedagang berteriak menawarkan barang dagangan. Ada yang menjual rasa takut, ada yang menjual harapan, ada pula yang menjual kemarahan. Semua tampak laris. Sementara di sudut pasar, seorang tua hanya duduk diam. Di depannya bukan barang, melainkan sebuah peta besar.

“Kenapa tidak berteriak seperti yang lain?” tanya seseorang kepada lelaki tua tersebut.

Orang tua itu menjawab, “Saya tidak menjual barang. Saya menawarkan arah. ”Sayangnya, tak banyak yang mampir.

Begitulah kira-kira wajah Partai Politik kita hari ini. Partai politik lebih mirip pedagang di pasar isu. Mereka lihai membaca suasana, cepat menangkap momentum, dan cekatan mengemas emosi publik menjadi komoditas elektoral. Mereka menjual kemarahan, menjual simpati, dan menjual harapan, yang penting laris manis.

Dalam dunia politik, isu adalah barang dagangan paling cepat habis. Isu  tidak perlu kualitas tinggi, cukup dikemas menarik. Dalam era media sosial, isu bahkan tidak harus benar sepenuhnya, yang penting viral menggugah sehingga Partai Politik yang sukses adalah partai yang paling cepat bereaksi, paling keras bersuara, dan paling piawai memainkan emosi. Namun perlu dicatat bahwa semua barang “di pasar isu” sifat dasarnya adalah cepat basi. Ketika satu isu padam, partai segera mencari isu lain. Begitu seterusnya. Politik pun berubah menjadi siklus tanpa henti dari kegaduhan yang dangkal.

Berbeda dengan Visi Partai politik. Visi merupakan  Peta  jalan yang menjadi kompas perjalanan sebuah peradaban bangsa. Sayangnya visi Partai Politik acapkali tenggelam oleh oleh luapan isu sesaat.

Kembali ke cerita illustrasi di atas, bahwa di tengah riuhnya pasar isu, visi besar justru menjadi barang langka, sepi peminat, padahal visi adalah satu-satunya hal yang dapay membedakan antara pemimpin dengan oportunis, antara negarawan dengan politisi musiman, dan antara arsitek peradaban dengan pedagang momentum.

Visi bukan sekadar janji. Visi adalah komitmen jangka panjang tentang ke mana arah bangsa ini berlabuh, nilai apa yang diperjuangkan, dan peradaban seperti apa yang ingin dibangun.

Viisi menuntut kesabaran. Visi tidak bisa dijual dalam satu musim pemilu. Dibutuhkan kesabaran dan konsistensi.

Sebab jika tidak, demokrasi akan tersesat dalam pasar momentum. Artinya ketika partai-partai meninggalkan visi, demokrasi akan kehilangan kompas. Mungkin demokrasi  tetap berjalan, bahkan tampak ramai, tetapi sesungguhnya tersesat. Rakyat disuguhi pilihan, tetapi pilihan itu tidak menawarkan arah yang berbeda, hanya kemasan isu yang berbeda. Satu partai berbicara tentang kemiskinan saat kamera menyala, lalu diam saat kekuasaan di tangan. Partai lain berteriak soal keadilan, tetapi berkompromi saat berhadapan dengan distribusi kekuasaan. Semua Partai Politik tampak bergerak, tetapi sebenarnya berputar di tempat.

Dulu, partai lahir dari gagasan besar. Ada yang berbicara tentang keadilan sosial, ada yang memperjuangkan kedaulatan rakyat, dan ada yang membangun visi kesejahteraan.

Hari ini, banyak partai lebih sibuk dengan survei elektabilitas, peta koalisi, dan distribusi kursi.

Ideologi digantikan oleh kalkulasi, sementara visi  dikalahkan oleh negosiasi. Partai tidak lagi bertanya, “apa yang benar? ”tetapi, “apa yang menguntungkan?”

Mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: Apakah kita masih punya partai yang benar-benar menawarkan peta? Ataukah kita semua, partai dan para pemilihnya, sudah terlalu nyaman menjadi bagian dari pasar?

Karena sejatinya, pasar isu tidak hanya diciptakan oleh partai. Tapi juga dipelihara oleh publik yang lebih suka sensasi daripada substansi. Kita marah hari ini, tapi lupa besok menjelang pemilu. Kita berharap hari ini, namun keesokan harinya setelah mereka dilantik, kita dirundung nestapa, karena aspirasi kita sering terabaikan. Dan dalam siklus itulah, visi partai politik tidak pernah punya ruang untuk tumbuh.

Sudah saatnya partai politik dan konstituennya memilih bertransformasi menjadi arsitek peradaban. Sembari mengucapkan selamat tinggal terhadap pasar isu. Menjadi arsitek memang tidak mudah. Partai politik dan konstituennya yang ingin bertransformasi menjadi arsitek peradaban membutuhkan keberanian melawan arus, konsisten menjaga nilai, dan kesediaan untuk tidak selalu populer. Tetapi hanya dengan jalan itu, politik bisa kembali bermakna. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan isu, kita hanya kekurangan  arah. Dan mungkin, di tengah riuhnya pasar itu, kita perlu kembali mencari orang tua yang duduk diam dengan peta di tangannya. Sebab masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling keras teriakannya, melainkan oleh mereka yang paling jelas arah jalannya.

Wallahu a’lam bishshawab

Sungguminasa 1 April 2026

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT