Oleh : Muhammad Suardi Husain
(Penulis Peduli Akurasi)
Saya sebenarnya tidak mengikuti pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI secara lengkap.
Saya justru mengetahui persoalan ini dari postingan-postingan di media sosial yang ramai dibicarakan netizen. Ada potongan video Presiden ketika memperkenalkan seorang perempuan bernama Susanah, buruh pengupas bawang dari Kabupaten Bogor. Yang kemudian menjadi perhatian adalah angka upah yang disebut mencapai Rp700.000 per kilogram.
Saya kemudian mencoba mencermati sendiri bagian video tersebut. Saya tidak ingin langsung ikut tertawa hanya karena postingannya sudah viral. Saya juga tidak ingin langsung percaya hanya karena yang mengucapkan adalah Presiden.
Saya berpikir sederhana saja. Benarkah upah mengupas bawang Rp700.000 untuk setiap kilogram?
Kalau memang benar, tentu ini menarik sekali.
Bahkan netizen Indonesia ternyata tidak tinggal diam. Ada yang langsung bertanya, “Lokasinya di mana?” Ada yang bercanda ingin meninggalkan pekerjaannya dan melamar menjadi pengupas bawang. Ada pula yang mulai menghitung dengan serius. Kalau benar Rp700.000 per kilogram, berapa kilogram sehari yang bisa dikupas? Berapa penghasilan sebulan? Kalau dihitung terus, bisa sampai ratusan juta rupiah.
Gaji pengupas bawang tiba-tiba terdengar jauh lebih menggiurkan daripada banyak pekerjaan kantoran.
Beginilah netizen Indonesia. Kalau sudah menemukan angka, kita bisa menjadi bangsa yang sangat rajin menghitung. Hehehe.
Tetapi di balik semua candaan itu, sebenarnya ada pertanyaan yang menurut saya serius.
Susanah memang hadir di gedung MPR ketika namanya disebut Presiden. Artinya, kisah ini bukan sekadar contoh yang muncul begitu saja. Ia memang menjadi bagian dari materi yang dibawa Presiden untuk menggambarkan kehidupan masyarakat.
Menurut saya, menghadirkan rakyat biasa dalam pidato Presiden adalah hal yang baik. Pidato kenegaraan tidak harus selalu berisi angka pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan dan program pemerintah. Kisah seorang rakyat biasa justru bisa membuat pidato terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tetapi semakin nyata contoh yang digunakan, semakin penting pula memastikan datanya benar.
Karena itu saya tidak ingin buru-buru mengatakan Presiden salah membaca teks. Bisa saja memang ada kesalahan penyebutan angka. Bisa juga ada persoalan lain yang belum kita ketahui. Apalagi kemudian muncul perbedaan penyebutan angka Rp700 dan Rp700.000 dalam berbagai pemberitaan.
Maka menurut saya, yang paling sederhana adalah: klarifikasi.
Sebenarnya berapa upah Susanah? Rp700 atau Rp700.000 per kilogram? Dari mana angka itu berasal? Kalau ada kekeliruan, bagaimana bisa terjadi?
Tidak perlu saling menyalahkan.
Presiden boleh komunikatif. Presiden boleh membawa kisah rakyat biasa ke dalam pidatonya. Bahkan sangat baik jika pidato kenegaraan mampu menyentuh kehidupan nyata rakyat.
Tetapi setiap angka, nama, fakta dan contoh konkret yang dibawa ke podium Presiden harus diperiksa dengan baik.
Sebab ketika sebuah angka disampaikan Presiden, angka itu tidak lagi dianggap sebagai obrolan biasa. Media akan mengutipnya. Masyarakat akan membicarakannya. Dan media sosial akan menghitungnya.
Jangan sampai niat membuat pidato lebih membumi justru membuat pernyataan yang akhirnya menjadi bahan olok-olok dan membuat kredibilitas Presiden dipertanyakan.
Dan jangan sampai Susanah yang akhirnya ikut menjadi bahan tertawaan. Ia hadir sebagai rakyat biasa yang justru ingin dihargai dan diperkenalkan dalam forum kenegaraan.
Bagi saya, ini bukan soal membela atau menyerang Presiden.
Ini hanya soal akurasi.
Saya bukan ahli politik. Bukan pula ahli komunikasi atau penulis hebat. Saya hanya orang biasa yang merasa bahwa sesuatu yang sudah viral tidak selalu harus langsung dipercaya, dan sesuatu yang disampaikan oleh seorang Presiden juga tetap perlu kita pahami dan cermati.
Karena pada akhirnya, Presiden boleh salah. Tetapi sistem yang membantu Presiden harus bekerja sebaik mungkin agar kesalahan tidak mudah sampai ke podium kenegaraan.
Sebab pidato Presiden bukan sekadar rangkaian kata.
Ia adalah representasi negara.








































