Oleh : Adam Malik
(Peneliti Profetik Institute)
Sore itu di sebuah warkop di daerah Perintis Makassar, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Asap tipis dari kopi hitam yang dipesan kak Rizal Pauzi naik perlahan, sementara segelas sarabba susu di depanku masih terlalu panas untuk disentuh. Suasana tidak ramai, hanya suara sendok yang beradu dengan gelas dan percakapan kecil yang tidak pernah benar-benar terdengar jelas. Di tempat seperti itu, pembicaraan sering kali berubah menjadi lebih jujur dari biasanya.
Kakanda Rizal Pauzi bukan tipe orang yang banyak bicara tanpa arah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang keras, terbiasa melihat realitas tanpa banyak ilusi, dan memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal. Latar belakangnya sebagai seseorang yang aktif dalam diskusi akademik, sosial dan refleksi kritis membuat cara pandangnya tidak sederhana. Ia tidak mudah puas dengan jawaban permukaan. Dan sore itu, ia membawa satu topik yang tidak ringan.
Pembicaraan dimulai dari sebuah kasus yang sedang ramai dibicarakan. Seorang mahasiswi teknik di Universitas Hasanuddin ditemukan meninggal dunia dalam kondisi yang mengarah pada bunuh diri. Berita itu muncul di berbagai media, termasuk Kompas dan Detik, dengan pola yang hampir seragam. Kronologi singkat disusun, dugaan motif disampaikan, lalu ditutup dengan imbauan yang terdengar formal. Namun ada sesuatu yang terasa hilang dari semua itu.
Di tengah percakapan yang mengalir pelan, kesadaran mulai muncul bahwa peristiwa ini bukan sekadar kejadian biasa. Ini bukan hanya tentang satu individu yang tidak mampu bertahan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak tertulis dalam berita. Sebuah proses panjang yang tidak pernah benar-benar diperhatikan. Dan seperti banyak kasus lain, akhir tragis itu hanya bagian yang terlihat.
Jika ditarik lebih luas, kasus seperti ini bukan yang pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, media sering melaporkan kejadian serupa dengan pola yang hampir identik. Mahasiswa yang tertekan oleh tuntutan akademik, remaja yang runtuh karena perundungan, dan individu muda yang kehilangan arah hidup. Nama dan tempat berbeda, tetapi ceritanya terasa sama. Ini bukan kebetulan, melainkan pola yang berulang.
Dalam perspektif psikologi, fenomena ini memiliki penjelasan yang cukup jelas. Durkheim pernah menjelaskan tentang kondisi anomie, di mana individu kehilangan arah karena perubahan sosial yang terlalu cepat. Dunia terus bergerak maju, tetapi manusia tidak selalu siap mengikutinya secara emosional. Ketika nilai-nilai menjadi kabur dan pegangan hidup melemah, kekosongan mulai muncul. Kekosongan itu, jika dibiarkan, bisa menjadi berbahaya.
Teori lain yang relevan adalah dari Thomas Joiner, yang menekankan dua hal utama dalam bunuh diri. Perasaan menjadi beban bagi orang lain dan perasaan tidak memiliki keterikatan sosial. Dalam banyak kasus, individu tidak benar-benar ingin mati. Mereka hanya merasa kehadirannya tidak lagi berarti. Ketika dua perasaan ini bertemu, risiko meningkat secara signifikan.
Dari sisi kognitif, depresi memperkuat kondisi tersebut melalui pola pikir yang negatif. Individu mulai melihat dirinya tidak berharga dan masa depan sebagai sesuatu yang gelap. Pikiran ini bukan sekadar emosi sesaat, tetapi pola yang terus berulang. Ketika dibiarkan, ia membentuk realitas baru yang sulit ditembus oleh logika. Dalam kondisi seperti ini, harapan menjadi sesuatu yang semakin jauh.
Peran keluarga dalam konteks ini menjadi sangat krusial. Namun sering kali, kehadiran keluarga hanya bersifat fisik, bukan emosional. Kebutuhan materi terpenuhi, tetapi ruang untuk berbicara tidak tersedia. Anak diminta kuat tanpa pernah diajarkan bagaimana menghadapi luka. Ketika tekanan datang, mereka tidak memiliki tempat untuk kembali.
Lingkungan pertemanan juga tidak selalu memberikan solusi yang berarti. Banyak relasi hanya bertahan di permukaan, tanpa kedalaman yang cukup untuk menampung beban emosional. Di era media sosial, semua orang sibuk terlihat baik-baik saja. Kerapuhan menjadi sesuatu yang disembunyikan, bukan dibagikan. Akibatnya, banyak individu merasa sendirian di tengah keramaian.
Kampus sebagai lembaga akademik memiliki peran yang tidak bisa diabaikan. Sistem pendidikan sering kali lebih menekankan hasil daripada proses. Mahasiswa dinilai dari angka, bukan dari perjuangan yang mereka jalani. Tekanan akademik menjadi sesuatu yang terus menumpuk tanpa ruang pelepasan yang sehat. Dalam kondisi seperti ini, kegagalan menjadi sesuatu yang menakutkan.
Dosen sebagai bagian dari sistem juga memiliki keterbatasan. Hubungan antara dosen dan mahasiswa sering kali bersifat formal dan kaku. Tidak semua dosen memiliki kapasitas atau waktu untuk memahami kondisi psikologis mahasiswa. Interaksi yang terjadi lebih bersifat akademik daripada manusiawi. Akibatnya, banyak mahasiswa yang merasa tidak terlihat.
Akademisi sering membahas kesehatan mental dalam berbagai forum. Namun implementasi di lapangan tidak selalu berjalan seiring. Ada jarak antara teori dan praktik yang cukup lebar. Di dalam jarak itu, banyak individu tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Ketika bantuan tidak datang, tekanan terus menumpuk tanpa solusi.
Masalah utama mahasiswa itu bukan cuma tugas yang menumpuk, tapi perasaan bahwa semua itu harus ditanggung sendirian. Tekanan akademik, ekspektasi keluarga, dan dinamika senioritas sering bercampur jadi satu beban yang tidak punya bentuk jelas. Dari luar terlihat “normal,” dari dalam terasa seperti sesak yang tidak ada tombol berhentinya. Maka pencegahan harus dimulai dari memutus ilusi bahwa ini adalah masalah individu semata.
Secara psikologis, ada tiga titik krusial yang harus disentuh: rasa keterhubungan, makna, dan kontrol diri. Kalau tiga ini runtuh, mahasiswa mulai kehilangan arah. Mereka merasa tidak punya tempat, tidak punya tujuan, dan tidak punya kendali. Di titik itu, tekanan kecil pun bisa terasa seperti akhir dunia.
Langkah pertama yang paling realistis adalah membangun sistem dukungan yang nyata, bukan formalitas. Kampus sering punya layanan konseling, tapi jarang dimanfaatkan karena dianggap kaku atau menghakimi.
Artinya, masalahnya bukan hanya pada fasilitas, tapi pada kepercayaan. Mahasiswa butuh ruang aman yang terasa manusiawi, bukan seperti sedang diinterogasi versi akademik.
Kedua, perlu ada redefinisi makna prestasi akademik. Selama nilai dijadikan satu-satunya ukuran, mahasiswa akan terus hidup dalam ketakutan gagal. Kampus harus mulai menormalisasi proses, bukan hanya hasil. Gagal tidak boleh lagi diperlakukan sebagai aib sosial. Kalau tidak, tekanan akan terus terakumulasi diam-diam.
Ketiga, soal budaya senioritas, ini yang sering disembunyikan tapi dampaknya nyata. Tekanan dari senior, baik dalam bentuk verbal, mental, atau “tradisi,” sering dibungkus dengan alasan pembentukan karakter. Padahal banyak yang sebenarnya hanya reproduksi luka lama. Pencegahannya bukan sekadar larangan, tapi perubahan budaya.
Senior harus didorong menjadi mentor, bukan penguasa kecil yang balas dendam atas masa lalu mereka. Kampus perlu tegas, bukan sekadar memberi himbauan. Harus ada sistem pelaporan yang aman dan benar-benar ditindak. Kalau tidak, mahasiswa junior akan terus hidup dalam tekanan yang tidak terlihat tapi terasa setiap hari.
Keempat, mahasiswa sendiri perlu dibekali literasi kesehatan mental yang praktis. Bukan teori berat, tapi kemampuan dasar mengenali emosi, memahami stres, dan tahu kapan harus mencari bantuan. Banyak yang sebenarnya sudah di ambang batas, tapi tidak sadar karena menganggap itu “normal.” Padahal tubuh dan pikiran sudah memberi sinyal sejak lama.
Kelima, penting untuk membangun lingkungan pertemanan yang jujur, bukan sekadar ramai. Mahasiswa perlu belajar hadir satu sama lain secara nyata. Bukan hanya nongkrong dan bercanda, tapi juga berani membuka ruang untuk percakapan yang lebih dalam. Kadang satu teman yang benar-benar mendengar lebih berharga dari sepuluh teman yang hanya hadir di permukaan.
Keenam, dari sisi keluarga, perlu ada perubahan cara melihat anak. Mahasiswa bukan mesin pencetak kebanggaan. Tekanan dari rumah sering tidak terlihat, tapi sangat menentukan. Orang tua perlu belajar mendengar tanpa langsung menghakimi atau membandingkan. Dukungan emosional itu bukan bonus, tapi kebutuhan dasar.
Secara psikologis, pencegahan bunuh diri itu bukan tentang “membuat orang kuat.” Itu konsep yang terlalu malas dan terlalu dangkal. Yang dibutuhkan adalah membuat seseorang tidak merasa sendirian dalam kelemahannya. Ketika seseorang merasa dipahami, beban yang sama bisa terasa lebih ringan.
Terakhir, yang paling sering diabaikan: hadir sebelum terlambat. Jangan tunggu seseorang terlihat hancur duluu baru peduli. Banyak yang tersenyum di luar tapi sudah runtuh di dalam. Tanda-tandanya sering halus, perubahan sikap, menarik diri, atau kehilangan minat. Kalau semua orang sedikit lebih peka, banyak hal sebenarnya bisa dicegah.
Tidak ada solusi instan, dan tidak ada sistem yang langsung sempurna. Tapi pencegahan selalu dimulai dari satu hal sederhana yang jarang dilakukan dengan serius: benar-benar peduli, tanpa agenda, tanpa penghakiman.
Dan kalau itu saja masih terasa berat, mungkin masalahnya memang bukan pada sistemnya saja, tapi pada cara kita menjadi manusia.
Pada akhirnya, bunuh diri bukan hanya persoalan individu. Ini adalah refleksi dari sistem sosial yang tidak seimbang. Ketika terlalu banyak orang merasa sendirian dalam pikirannya, berarti ada yang salah dalam cara kita hidup bersama. Peristiwa seperti ini seharusnya tidak hanya menjadi berita. Ia seharusnya menjadi cermin yang memaksa kita untuk melihat diri sendiri.
Dan di meja kecil warkop itu, kopi telah kehilangan panasnya, dan sarabba akhirnya bisa disentuh tanpa ragu. Percakapan mungkin telah usai, tetapi sesuatu yang lain justru mulai bergerak. Kak Rizal Pauzi, dengan seluruh kegelisahan dan ketajaman pikirnya sebagai aktivis dan akademisi, tidak hanya menghadirkan sebuah topik, tetapi menjadi pemantik bagi ruang yang lebih luas ruang di mana persoalan sosial tidak lagi sekadar dibicarakan, melainkan direnungkan. Dari sana, tulisan ini menemukan bentuknya.
Bahwa yang sering dianggap sebagai akhir, sejatinya hanyalah permukaan dari sesuatu yang telah lama tumbuh dalam diam. Sebuah akumulasi dari hal-hal kecil yang diabaikan, dari luka yang tidak pernah benar-benar diberi ruang. Hingga pada satu titik, semuanya tidak lagi bisa ditahan, dan yang tersisa hanyalah kejadian yang disebut sebagai tragedi. Jangan bunuh dirimu kawan!!.









































