Matakita.co, Jakarta-Diberbagai belahan dunia manapun tidak ada suatu faktor pemicu revolusi maupun lengsernya suatu rezim pemerintahan, dikarenakan kenaikan dollar.
Ini hanya isu politik yang memang di goreng oleh orang-orang yang mengatasnamakan peduli terhadap ekonomi bangsa, ungkap Sam Sangadji di Jl Solo Menteng, Jakarta Pusat. (12/06/2026)
Sam menjelaskan bahwa, kenaikan dollar itu adalah suatu hal lumrah di dalam negara berkembang atau maju.
Hal ini dikarenakan berbagai faktor seperti suku bunga the fed yang naik, krisi global dan geopolitik, tingginya ketergantungan impor, risiko fiskal, dan cadangan devisa yang menurun.
Semua faktor ini adalah hasil dari pemerintahan terdahulu, yang mengupayakan hutang, hubungan internasional, dan produksi dalam negeri hingga. Kebijakan fiskal-lah orang hidup, tentu banyak resiko yang di hadapi dan memang tujuan untuk negara kedepannya, ujar Sam Sangadji, dalam acara Jum’at berkah DPD Partai Gerindra.
Secara detail, Sam menjelaskan bahwa orang hidup rata-rata tentu mempunyai dari kredit atau modal lainnya hingga belanja dan memaksimalkan pendapatan sekalipun dan sebagai kader yang memang siap di pimpin dan siap memimpin. Semestinya jangan larut dengan kebijakan-kebijakan pemimpin masa lalu, bagaimana menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik dan mampu menyelesaikan, untuk hasil yang maksimal atas faktor-faktor kenaikan dollar yang tadi.
Sekali lagi, kenaikan dollar ini wajar di negara berkembang dan maju, bukan momok menakutkan apalagi, dilabeli negara bangkrut.
Contoh Iran, dengan mata uangnya tertekan tidak ada penggulingan, pemimpin tertinggi Iran, lebih kepada perseteruan antara Israel dan Iran itu sendiri, karena Selat Hormuz, lain lagi negara Nepal yang faktor fundamental adalah tidak ada pemerataan sosial di tambah pejabat yang bermewah-mewah dan korup.” akhir Sam. (**)




































