Beranda Mimbar Ide Melampaui Angka Rapor: Menemukan Jiwa Growth Mindset dari Kisah Sangkala

Melampaui Angka Rapor: Menemukan Jiwa Growth Mindset dari Kisah Sangkala

0

Oleh : Daeng Naja

(Intelektual Muda Muhammadiyah Parigi) 

Lahir pada tahun 1987 di sebuah kampung terpencil, Sangkala adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani dengan kehidupan yang sederhana, bahkan kerap berada dalam kekurangan. Orang tua pada masa itu umumnya masih memegang teguh adat istiadat, termasuk dalam hal tata krama dan etika sosial.

Meski tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung nilai-nilai tersebut, Sangkala dikenal sebagai anak yang sulit diatur dan kerap terlibat perkelahian. Setelah menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar, ia tidak melanjutkan pendidikan formal. Ia memilih bekerja sebagai buruh di bidang pertukangan kayu. Dari pekerjaan itu, ia perlahan belajar, berkembang, hingga akhirnya menjadi tukang yang terampil dan mampu membangun usaha mebelnya sendiri.

Kini, Sangkala telah memiliki dua orang anak. Anak sulungnya bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan dikenal sebagai siswa yang berprestasi di sekolah.

Cahayaa lembut mentari pagi mengintip di antara rimbunnya pepohonan, menerobos sela-sela daun pinus yang berjejer rapi di halaman madrasah, hingga masuk ke ruang kelas dan menyapa para siswa yang sedang belajar.

Namun, kehangatan itu terasa kontras dengan suasana di dalam kelas. Pagi itu, saya menyaksikan seorang teman menerima “hadiah” dari guru berupa emas di ujung rotan sebuah bentuk hukuman yang dahulu lazim diberikan kepada siswa yang dianggap malas belajar dan kurang disiplin..

Sebut saja teman itu Sangkala. Ia termasuk siswa yang lambat dalam menangkap pelajaran. Kondisi tersebut membuatnya kerap menjadi sasaran hukuman. Bahkan hingga lulus dari madrasah, ia masih berjuang mengeja huruf.

Puluhan tahun kemudian, Sangkala menjelma menjadi sosok yang jauh berbeda. Ia kini dikenal sebagai pengusaha mebel yang sukses di pinggiran Kota Makassar. Sebuah capaian yang, dalam pandangan masyarakat kampung, melampaui banyak teman seangkatannya yang dahulu menjadi juara kelas.

Kita sering kali berasumsi bahwa kesuksesan ditentukan oleh angka-angka di rapor atau nama besar perguruan tinggi yang tertera di ijazah. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi menjadi bermasalah ketika dianggap sebagai satu-satunya penentu.

Ada faktor lain yang tak kalah penting. Saya sendiri merasa kecewa ketika melihat banyak teman madrasah yang dahulu cerdas, bahkan siswa-siswa yang saya ajar, justru kesulitan berkembang dalam dunia kerja.

Orang seperti Sangkala tidak bisa serta-merta disebut bodoh. Ia memiliki potensi lain yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang unggul secara akademik. Tantangan yang ia hadapi sejak kecil justru membentuk keberanian dan ketangguhan. Ia terus mencoba, belajar, dan akhirnya menemukan bidang yang sesuai dengan dirinya.

Sebaliknya, mereka yang sejak awal selalu berada di jalur yang mulus sering kali mengandalkan kecerdasan sebagai satu-satunya modal. Ketika menghadapi hambatan, mereka cenderung rapuh. Sedikit tekanan saja dapat membuat mereka kehilangan arah.

Belajar dari pengalaman bersama Sangkala, saya mulai menerapkan pendekatan berbeda kepada siswa. Mereka yang rumahnya berjarak kurang dari satu kilometer diwajibkan berjalan kaki ke madrasah. Kebiasaan sederhana ini secara tidak langsung melatih mereka menghadapi tantangan sejak dini.

Dalam sistem penilaian, kami juga tidak semata-mata menitikberatkan pada capaian akademik. Pembentukan karakter dan kebiasaan ibadah menjadi prioritas. Siswa dengan akhlak baik dan kedisiplinan tinggi mendapatkan apresiasi yang lebih besar.

Pengalaman ini kemudian menemukan landasan ilmiahnya ketika saya memperdalam ilmu keguruan. Apa yang dialami Sangkala secara alami ternyata selaras dengan konsep dalam pendidikan modern.

Pada November 2025, saya mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas guru yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Sheraton Makassar. Salah satu materi yang paling membekas adalah tentang growth mindset, yaitu pola pikir bertumbuh.

Di situlah saya memahami bahwa ketangguhan Sangkala dan perubahan positif yang saya harapkan dari siswa memiliki akar yang sama: keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, proses, dan keberanian menghadapi kegagalan.

Sepulang dari pelatihan, saya menyampaikan materi tersebut kepada rekan-rekan guru. Saya mencoba meniru metode fasilitator dalam menyampaikan materi. Setelah sesi selesai, para guru membagikan pemahaman mereka dan rencana penerapan di madrasah.

Beberapa bulan setelahnya, perubahan mulai terlihat. Guru menjadi lebih disiplin, lebih mandiri dalam menyelesaikan masalah, dan lebih terbuka terhadap tantangan.

Saya sendiri menerapkan pola pikir bertumbuh untuk menyelesaikan dua persoalan besar di madrasah, yang salah satunya telah menjadi masalah selama puluhan tahun. Kedua persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan dengan baik, bahkan salah satunya melampaui ekspektasi.

Pengalaman ini semakin menegaskan bahwa kekuatan pikiran memiliki peran besar dalam menentukan hasil. Keyakinan terhadap solusi mampu mengarahkan kita pada penyelesaian yang lebih efektif.

Dari kisah hidup Sangkala dan transformasi di madrasah, saya semakin yakin bahwa kesuksesan tidak semata ditentukan oleh nilai akademik. Yang lebih penting adalah kemampuan menghadapi tantangan dan ketangguhan mental dalam menjalani proses.

Kini, saya dan Sangkala berada pada jalur yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama: keyakinan bahwa setiap rintangan adalah tantangan yang dapat dihadapi dan dilampaui dengan pola pikir yang terus bertumbuh.

Facebook Comments Box