Beranda Kampus Unhas Jadi Tuan Rumah ASEAN LUMINA, Perkuat Jejaring Budaya Generasi Muda

Unhas Jadi Tuan Rumah ASEAN LUMINA, Perkuat Jejaring Budaya Generasi Muda

0

MataKita.co, Makassar — Warisan budaya tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu yang perlu dijaga. Manuskrip, bahasa, sejarah, makanan, hingga pengetahuan lokal juga menyimpan pengetahuan yang tetap relevan untuk memahami masyarakat hari ini sekaligus membayangkan masa depan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam ASEAN LUMINA bertajuk “Waves of Resonances: Exploring Cultural Richness, Creative Expressions and Diversity Within a Shared Heritage” yang berlangsung di Aula Prof. Dr. Fachruddin, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, 11–14 Agustus 2026.

Mengusung tema “Reclaiming the Soul: History, Manuscripts and the Future of Indonesian Cultural Heritage”, ASEAN LUMINA menjadi ruang pertukaran budaya dan seni bercerita bagi generasi muda Asia Tenggara.

Forum tersebut mengajak peserta menelusuri sejarah dan manuskrip, mengenali keragaman warisan budaya, serta menemukan keterhubungan di antara masyarakat dengan latar budaya berbeda.

Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. mengatakan, pemahaman terhadap budaya dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkuat hubungan antarnegara ASEAN. Kedekatan tersebut dapat dibangun melalui pengalaman langsung, pertukaran pengetahuan, serta jejaring antarkampus.

Menurut Jamaluddin, generasi muda perlu memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mengunjungi berbagai wilayah, berinteraksi dengan masyarakat, serta mengenal bahasa dan sejarah yang membentuk identitas suatu daerah.

Makassar, kata dia, menawarkan ruang yang kuat untuk pengalaman tersebut. Sejarah kota ini sebagai titik perjumpaan berbagai komunitas meninggalkan jejak pada bahasa, tradisi, sejarah maritim, hingga kehidupan masyarakat yang terus berkembang.

“Ketika datang ke Makassar, pelajari budayanya, bahasanya, dan sejarahnya,” kata Jamaluddin.

Ia menilai, pengalaman berada langsung di tengah masyarakat dapat memperluas cara pandang terhadap sejarah dan kebudayaan yang sebelumnya mungkin hanya dipahami melalui buku atau ruang akademik.

Jejaring perguruan tinggi juga menjadi bagian penting untuk menjaga hubungan tersebut tetap berlanjut. Pertukaran mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga pengetahuan kebudayaan dinilai dapat memperluas interaksi antarnegara sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di kawasan ASEAN.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Mardiantori, LL.M., memandang warisan budaya sebagai ruang untuk memahami perbedaan sekaligus menemukan nilai-nilai yang dapat mempertemukan masyarakat.

“Setiap komunitas memiliki simbol, cerita, dan ekspresi budaya yang khas. Cerita-cerita tersebut diwariskan lintas generasi dan membentuk identitas masyarakat. Di balik keberagamannya, terdapat nilai yang dapat menjadi titik temu untuk membangun hubungan yang lebih harmonis di kawasan,” ujar Mardiantori.

Menurut dia, warisan budaya juga hadir dalam kehidupan sehari-hari. Makanan, alam, komunitas, sejarah, dan praktik sosial merupakan bagian dari pengetahuan yang membentuk cara suatu masyarakat memahami dirinya dan lingkungannya.

Pemahaman tersebut sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman antarnegara. Cara suatu komunitas menjaga tradisi, merawat sejarah, atau mengembangkan ekspresi budaya dapat menjadi pengetahuan bersama yang kemudian diadaptasi sesuai konteks masing-masing.

“Pada saat yang sama, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi baru. Kreativitas dan inovasi dapat digunakan untuk menerjemahkan kembali warisan budaya ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini, tanpa memutus kaitannya dengan sejarah,” kata Mardiantori.

Melalui ASEAN LUMINA, budaya ditempatkan sebagai sesuatu yang hidup dan terus berkembang. Sejarah dan manuskrip menjadi pintu bagi generasi muda untuk memahami asal-usul, sementara pengetahuan lokal, kreativitas, dan pertukaran lintas budaya membuka peluang untuk menjaga relevansi warisan tersebut pada masa mendatang.

Perjumpaan generasi muda ASEAN di Makassar itu sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya tidak berhenti sebagai memori masa lalu. Warisan tersebut dapat menjadi pengetahuan bersama yang terus dipelajari, dibagikan, dan dikembangkan untuk memperkuat hubungan masyarakat Asia Tenggara. (*/dhs)

Facebook Comments Box