Oleh : Muhammad Suardi Husain
Selama berada di dunia politik dan partai, ada satu hal yang sebaiknya tidak dilakukan: terlalu sering menyenggol rival, apalagi menjadikan kekuasaan sebagai bahan serangan.
Sebab, kita semua tahu, ketika seseorang masuk ke dunia politik dan partai, pada akhirnya ada tujuan yang ingin dicapai: kekuasaan, jabatan, kursi, dan pengaruh.
Karena itu, menyerang atau merendahkan orang lain dalam perjalanan menuju kekuasaan justru bisa menjadi bumerang.
Salah satu kelebihan Jokowi adalah kemampuannya memainkan komunikasi politik. Ia relatif jarang menyerang rival secara langsung. Kalaupun menyampaikan kritik atau perbandingan, ia lebih sering menggunakan bahasa yang halus, sederhana, dan tidak merendahkan.
Mungkin inilah salah satu kekuatan yang membawanya melewati perjalanan politik yang luar biasa: dari Wali Kota, Gubernur, hingga menjadi Presiden Republik Indonesia.
Secara perjalanan politik, pencapaian Jokowi memang sulit dibandingkan. Ia tidak pernah menjadi anggota parlemen maupun menteri. Namun, justru tanpa melalui dua jalur politik tersebut, ia berhasil mencapai jabatan tertinggi di republik ini.
Yang menarik, keberhasilan itu tidak berhenti pada dirinya.
Sebelum masa kepresidenannya berakhir, putra sulungnya telah menjadi Wali Kota dan kemudian melompat ke posisi Wakil Presiden. Putra bungsunya menjadi Ketua Umum partai. Putrinya pun berada dalam lingkaran kekuasaan daerah melalui pernikahannya dengan seorang gubernur, setelah sebelumnya menjadi istri seorang wali kota.
Tentu, perjalanan politik setiap keluarga berbeda dan tidak semuanya dapat dibandingkan secara langsung.
Soeharto, misalnya, berkuasa selama 32 tahun. Beberapa anaknya masuk ke dunia politik, bahkan ada yang mendirikan partai. Namun, tidak satu pun yang berhasil mencapai puncak jabatan eksekutif nasional.
Megawati juga berhasil membawa partainya menjadi kekuatan politik besar. Putrinya, Puan Maharani, bahkan mencapai posisi Ketua DPR RI. Namun, hingga kini belum mencapai jabatan eksekutif tertinggi.
Begitu pula SBY. Putranya, AHY, pernah mencoba maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta dan kemudian masuk dalam kontestasi politik nasional. Namun, upaya menjadi cawapres pada Pilpres 2024 juga tidak terwujud. Jabatan menteri kemudian menjadi bagian dari perjalanan politiknya setelah kegagalan tersebut, dan jabatan menteri itu adalah apresiasi istimewa yang dilakukan presiden ke 7, Jokowi untuk menjaga komunikasi politik yang baik dengan SBY.
Dari sini saya melihat satu pelajaran penting:
Dalam politik, bukan hanya soal siapa yang paling berani berbicara, tetapi siapa yang paling mampu membaca keadaan dan menjaga langkah.
Jokowi mungkin bukan politisi dengan retorika paling tajam. Tetapi ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan harus mendekat, dan kapan harus menghindari benturan.
Karena itu, jika AHY ingin mencapai puncak karier politiknya, menurut saya ia perlu meninggalkan cara-cara politik lama yang terlalu sering menyenggol atau membandingkan dirinya dengan pihak lain—termasuk membangun narasi seolah keberhasilan politik keluarganya adalah yang paling hebat.
Puncak kekuasaan tidak dicapai hanya dengan menunjukkan bahwa kita lebih baik daripada orang lain.
Kadang justru dengan membuat orang lain tidak merasa perlu untuk dilawan.
Politik membutuhkan strategi, kesabaran, kemampuan membaca momentum, dan yang tidak kalah penting: kemampuan menahan diri.
Apakah AHY akan mampu menemukan cara tersebut?
Saya tidak tahu.
Hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Kita lihat saja nanti.








































