Home Mimbar Ide DARI SARIKAT ISLAM, MASYUMI HINGGA BULAN BINTANG.

DARI SARIKAT ISLAM, MASYUMI HINGGA BULAN BINTANG.

553
0
SHARE

Oleh : Furqan Jurdi*

Partai Bulan Bintang (PBB) merupakan salah satu partai Islam modernis di Indonesia, yang memiliki akar sejarah dan akar ideologis yang jelas.

Sepanjang sejarah pergerakan politik Islam Indonesia, tercatat ada gerakan Islam yang mengambil peran Penting dalam perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan Indonesia.

Dalam penulisan sejarah Indonesia kita tidak asing lagi dengan Serikat Dagang Islam yang berdiri tahun 1905, sebagai langkah pertama kebangkitan politik Nasional di Indonesia.

Tahun 1905 adalah tahun dimana penguasa Belanda memberlakukan politik etis. Setelah perjuangan konfrontatif, setelah perang demi perang telah dilewati.

Kekalahan demi kekalahan dialami oleh daerah-daerah yang semua daerah itu adalah kerajaan dan kesultanan Islam. Tidak ada perlawanan selain perlawanan Islam sebelum tahun 1900…

Baru ditahun 1908, tiga tahun setelah serikat dagang Islam Hadji Samanhudi berdiri, maka berdirilah Budi Utomo yang gerakannya masih melingkup jawa saja.

SDI pada tahun 1912 merubah nama menjadi Sarikat Islam, setelah H.O.S Tjokroaminoto masuk dan memimpin pergerakan Islam. SI adalah organisasi egaliter yang keanggotaannya bersifat nasional dan menjadi cikal bakal lahirnya nasionalisme yang utuh dalam sejarah nasionalisme indonesia. Budi Utomo hanyalah melingkupi Jawa, sementara Sarikat Islam merupakan organisasi nasional yang keanggotaannya melingkupi wilayah indonesia sekarang ini.

Egalitarianisme yang dibangun didalam tubuh SI inilah yang melahirkan banyak tokoh-tokih besar. Tjokroaminoto tampil sebagai penggagas utama dalam memadukan nasionalisme Indonesia dengan Islam, dan melahirkan banyak pejuang muda yang sangat cakap, seperti Soekarno dkknya.

Masa pergerakan ini berlangsung hingga masa pendudukan Jepang. Tentara Pendudukan mengusir Belanda untuk memperkokoh kekuasaannya di Indonesia. Sementara itu SI yang sudah berubah menjadi Partai Sarekat Islam dilarang oleh pemerintah pendudukan sekitar tahun 1943. Kemudian Jepang mengganti Nama Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) pada tahun 1943.

Pembentukan Masyumi adalah langkah Pemerintah Pendudukan untuk mengambil simpati ummat Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang konsisten melawan kolonialisme.

Masyumi berjalan sebagai organisasi Islam yang didalamnya ada Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Persatuan Umat Islam dll..

Baca Juga  Jaringan Selular Bagi Masyarakat Tondong Tallasa Pangkep Masih sebatas Mimpi

Setelah keluar Maklumat Wakil Presiden Nomor X Tahun 1945, maka Masyumi menjadi partai politik. Semenjak itulah partai Politik Ummat Islam dibentuk dan mewakili aspirasi ummat Islam satu-satunya.

Tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan itulah perpecahan politIk Islam Pertama semenjak pasca kemerdekaan. Namun garis perjuangan masyumi tetaplah konsisten, hingga sampai dibubarkan pada tahun 1960.

Tokoh Masyumi sperti MOhammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Buya Hamka, Yunan Nasution dll ditangkap tanpa diadili oleh Rezim Orde Lama dibawah demokrasi termpimpin.

Setelah tragedi berdarah tahun 1965, tokoh-tokoh Islam yang dari Masyumi dibebaskan. Pada saat itu mereka melihat kesempatan untuk menghidupkan kembali Masyumi dan merehabilitasi Nama Masyumi.

Namun pemerintah Orde Baru yang berjalan mulai tahun 1967 tidak memberikan kesempatan bagi partai Masyumi untuk mengambil perannya lagi dalam politik. Alasanya karena mereka terlibat PRRI Permesta. Sementara tokohnya dibebaskan dan direhabilitasi, partainya tidak.

Dalam kondisi politik yang demikian ada keinginan untuk membentuk partai baru, yaitu Partai Mislimin Indonesia (PARMUSI). Namun Soeharto tidak mengijinkan Parmusi dipimpin oleh orang-orang Masyumi, seperti Mohammad Roem dll.

Karena merasa telah dipotong dari panggung politik, akhirnya keluarga besar Masyumi mengambil lamhkaj dakwah secara sosial, dan menyebut diri mereka sebagai Keluarga Besar Bulan Bintang. Keluarga besar bulan bintang ini hidup dalam tekanan rezim orde baru yang sangat panjang selama 32 tahun.

Dalam waktu itulah tokoh-tokoh besar Keluarga Bulan Bintang mendidik anak2 muda, seperti Nurcholis Madjid, Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra, A.M. Fatwa dan banyak lagi tokoh-tokoh lain.

Didikan dari tokoh dan Keluarga Besar Bulan Bintang ini membuahkan hasil dan terbentuklah pribadi yang cerdas dan revolusioner.

Mereka inilah yang menggerakkan Reformasi dan menjadi bagian inti dari reformasi itu. Setelah reformasi, keluarga Besar Bulan Bintang yang masih hidup mengharapkan kader-kader muda ini melanjutkan peejuangan politik Masyumi dulu.

Akhirnya mereka mendirikan partai Bulan Bintang sebagai kelahiran kedua Masyumi. Dari sinilah cikal bakal Bulan Bintang itu.

Wallahualam bis shawab

*) Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Facebook Comments