Home Mimbar Ide Air Putih dalam Gelas Raja

Air Putih dalam Gelas Raja

149
0

Oleh : Haidir Fitra Siagian*

Salah satu hikmah bagi saya diantara ribuan hikmah lainnya dalam berorganisasi adalah memiliki banyak saudara. Bukan hanya saudara biasa, melainkan saudara yang luar biasa melebihi saudara sendiri. Saudara yang menyayangi dan memberi empati.

Hampir setiap saat kemana pun pergi, apakah dalam wilayah Sulawesi Selatan dan Barat, maupun propinsi lainnya di Indonesia, bahkan ke luar negeri, selalu saja saya bertemu dengan saudara. Dia bisa berasal dari saudara seiman dan sekeyakinan, sesama orang Batak, sesama almamater, baik SMA maupun perguruan tinggi, maupun karena persamaan organisasi.

Justru karena persamaan organisasi, membuat saya banyak memiliki teman atau saudara. Suatu ketika, putri saya pernah mengeluh. Katanya setiap masjid yang kami singgahi dalam perjalanan ke daerah, selalu saja saya bertemu dengan teman. Teman atau saudara karena sebab tersebut di atas. Dalam pertemuan tersebut, tentu kami harus ngobrol dulu sejenak. Ngobrol tentang nostalgia ataukah untuk urusan dakwah maupun urusan kemanusiaan. Karena ngobrol tersebut membuat mereka lama menunggu di mobil. Itulah yang membuat dia menjadi “kesal”.

Hubungan pertemanan yang baik, malah dapat membawa berkah tersendiri. Bukan hanya memudahkan satu urusan misalnya, tetapi lebih jauh dari itu adalah menjalani interaksi yang lebih baik pada masa-masa yang akan datang. Bahkan pertemanan yang baik dapat ditingkatkan kebaikannya untuk urusan kemanusiaan, dunia akhirat.

Malam ini sudah hampir tengah malam. Sesungguhnya saya sangat capek. Hampir dua minggu terakhir tiada waktu istirahat. Mulai dari urusan organisasi sampai kepada urusan umat bangsa dan negara. Tapi saya sudah coba istirahat, belum bisa. Karena saya sangat terkesan dengan keadaan saat ini.

Desa Kampala Kecamatan Sinjai Timur tempat saya menginap. Di sebuah ruangan luas yang sekelas kamar hotel. Di samping fasilitas yang cukup menyenangkan, juga penerimaan yang sangat menggembirakan. Mulai dari dijemput secara khusus tadi siang di kantor Camat Sinjai Timur selesai penerimaan mahasiswa KKN UIN Alauddin oleh Pak Camat, sampai saat ini.

Tidak perlu saya sebutkan apa yang disajikan untuk saya. Semua adalah makanan kesuakaanku. Makanan tradisional Bugis Makassar Mandar. Mulai dari es pisang ijo yang masih terasa panas sebelum diberi es, juga barongko yang sengaja dibuat oleh sang pujangga.

Tidak pernah saya mengira akan menerima sambutan semacam ini. Bersama jumpa dengan seorang kakak, IMMawati, setelah hampir 26 tahun tak bersua. Sebagai perantau dari Tanah Batak, kok saya punya kakak yang baik di desa ini? Itulah hikmah dari pertemanan sesama organisasi yang sudah dibangun hampir tiga dekade silam.

Saya benar-benar tidak menyangka atas kebaikan hatinya. Bahkan untuk air putih pun diantarkan langsung ke kamar menjelang tidur. Air putih dalam gelas raja. Air putih sebening embun selembut salju. Terima kasih kakak yang baik hati. Maafkan saya.

*) Dosen UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments