Home Uncategorized Mesin Hasrat Dibalik Politik-Pilpres 2019

Mesin Hasrat Dibalik Politik-Pilpres 2019

165
0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Pada kesempatan ini, sengaja penulis mengangkat tema seputar kontestasi Pilpres 2019 dalam suatu ‘kerangka pemikiran Gilles Deleuze dan Felix Guattari’, filsuf-pemikir postrukturalis dari Perancis yang menemukan dan mengembangkan suatu model pemikiran subversif yang disebut dengan “mesin hasrat” (desiring-machines). Masyarakat Indonesia, istilah “mesin hasrat” belum dikenal luas, kecuali dalam tradisi atau diskursus intelektual, karena konsep dan istilah “mesin hasrat” muncul dalam kapitalisme mutakhir. Selanjutnya, model pemikiran “mesin hasrat” akan dicoba dihubungkan dengan sesuatu yang dialami, yaitu ‘kroni kapitalisme’ memiliki akar-akar sejarah politik Indonesia. Kini, kapitalis yang sosialis-politis atau sebaliknya sulit dibedakan, karena ia telah ditemukan dalam suatu fase kreatif, yaitu suatu mesin yang keluar dari batas (teritori-deteritorialisasi), berubah-ubah, saling menguatkan dan berinteraksi melalui perhitungan berdasarkan kapital (modal), jalin menjalin kembali (reteritorialisasi) akibat dorongan kenikmatan instan dan pengejaran keuntungan diantara hasrat untuk kuasa.

Sebelum melanjutkan perbincangan, konsep dan istilah kunci “mesin hasrat” yang digambarkan dalam teks Deleuze dan Guattari:

In what respect are desiring-machines really machines, in anything more than a metaphorical sense? A machine may be defined as a system of interruptions or breaks (coupures). These breaks should in no way be considered as a separation from reality; rather, they operate along lines that vary according to whatever aspect of them we are considering. Every machine, in the first place, is related to a continual material flow (hyle) that it cuts into. It functions like a ham-slicing machine, removing portions* from the associative flow: the anus and the flow of shit it cuts off, for instance; the mouth that cuts off not only the flow of milk but also the flow of air and sound; the penis that interrupts not only the flow of urine but also the flow of sperm. Each associative flow must be seen as an ideal thing, an endless flux, flowing from something not unlike the immense thigh of a pig (Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia, University of Minnesota, Minnepolis, 1984, hlm. 36).

“Dalam hal apa mesin hasrat adalah betul-betul mesin, bukanlah suatu metafora! Sebuah mesin mungkin dapat didefinisikan sebagai sebuah sistem dari interupsi atau patahan. Patahan itu di luar dari jalan yang baik seperti suatu pemisahan dari realitas; agaknya, mereka bekerja sepanjang jalurnya dan berubah ubah seturut aspek apa saja yang menjadi koneksinya. Pada tempat yang pertama; setiap mesin mengalir kepada material yang berhubungan dengannya. Ia berfungsi seperti mesin pengiris daging, menghilangkan bagian* dari aliran asosiatif: dubur dan aliran kotoran yang terputus, misalnya; mulut yang memotong tidak hanya aliran susu tetapi juga aliran udara dan suara; zakar tidak hanya menginterupsi aliran air seni tetapi juga aliran sperma. Setiap aliran asosiatif perlu dilihat sebagai sebuah hal yang ideal, perubahan terus menerus yang tiada akhirnya, mengalir dari sesuatu paha besar yang tidak sama dengan seekor celeng”.

Meskipun konsep makna ini bersifat material dan seperti mesin, memiliki kemiripan oto-tulisannya Jacques Derrida, dimana hal ini hanya dalam pengertian yang sangat khusus. Bagi Deleuze dan Guattari, materi dan mesin tidak pernah lembam (enertia) seperti yang dipahami oleh para ilmuwan atau teknokrat. Mereka tidak memahaminya dalam bentuk susunan materi telah ada begitu saja sebelumnya dan mendeterminasi gerak selanjutnya seperti halnya mesin jam berjalan kausal. Gagasan “mekanistik” semacam itu justeru asing bagi gagasan “mesin” mereka. Justeru mereka menekankan kekuatan dari sebuah mesin sebagai sesuatu yang di atas dan melampaui “materinya”, hingga pada suatu taraf dimana kekuatan dari sebuah mesin menjadi tidak mungkin diramalkan, berlebihan dan tidak pernah terpuaskan. Kondisi semacam itulah yang memungkinkan kekuatan dari suatu mesin dapat disepadankan dengan kekuatan hasrat-sumber yang mendasari ungkapan paradoks Deleuze dan Guattari ketika menyinggung “mesin hasrat” (desiring-machine) menjadi kata kunci. Dalam kenyataannya, “mesin hasrat” semacam itu tidak hanya dideterminasi oleh materi-materi, melainkan sebenarnya melahap materi untuk memproduksi kekuatan mereka. “Mesin hasrat … terus-menerus gagal ketika bekerja”, ujar Deleuze dan Guattari, “dan … bagian-bagian dari mesin tersebut adalah bahan bakar yang membuatnya bekerja”. (1984: 31). Penegasan tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan mesin-mesin kerja yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Mesin-mesin itu merupakan mesin liar, mesin-mesin yang mengandung daya ledak. Dalam masyarakat kontemporer (termasuk Indonesia), tidak semua orang skizofrenik hidup dengan kekuatan seperti sebuah “mesin liar”. Disini yang dianalisis oleh Deleuze dan Guattari adalah potensi orang-orang skizofrenik ketimbang kekhasan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang skizofrenik pada dasarnya masih mempunyai kemampuan dasar yang memungkinkan dirinya sanggup untuk memasrahkan dan menyerahkan dirinya pada gerak dan multiplikasi dan kekuatan makna yang seperti mesin. … “yang tidak dapat disembuhkan hanyalah orang neurotik” (1984: 347). Skizofrenia seperti cinta: tidak ada entitas dan fenomena skizofrenik yang khas; skizofrenia adalah jagat raya mesin hasrat yang produktif dan reproduktif, produksi utama jagat raya sebagai realitas esensial dari manusia dan alam. Mesin hasrat menjadikan sebuah organisme, tetapi berhati-hati memproduksinya.

Dalam kontestasi Pilpres 2019 telah bercampur aduk antara harapan masa depan dan gejala-gejala dini dari skizofrenia. Busuk hati, jiwa sakit dan tabiat buruk dari tukang fitnah atau pemain topeng bersama penggunaan diskursus merupakan gambaran nyata bagaimana kerangka pemikiran Deleuze-Guattarian memasuki kehidupan didorong oleh hasrat untuk kuasa. Sebaliknya, hasrat terperangkap dalam dirinya sendiri setelah melewati fase imajiner ataupun fase simbolik (bandingkan dengan hasil pemberitaan media, bahwa calon Wapres dan Ketua Tim Kampaye dari salah satu pasangan Capres diidentifikasi sebagai “simbol Kapitalisme”). Ada hal lain dari konsekuensi lanjutannya yang cukup mengganggu ingatan kita dan perlu dicatat perlahan-lahan, bahwa satu sisi, fase ‘dubur’ (anus) berarti juga ‘pelepasan sesuatu’ memiliki artikulasi politik dalam pengertian negatif dan buram yang sudah tentu ditunjukkan secara terbuka terutama melalui media sosial yang menyuguhkan ‘ujaran kebencian’: “pembela penista agama”, “anti-Islam”, “pro-sekulerisme”, “anak/antek PKI”, “boneka asing dan aseng”, “kecebong”, “pengumbar janji”, “pelanggar HAM”, “pro Orde Baru”, “pro-negara khilafah”, “barisan intoleransi”, “penyebar hoax”, “kampret”, “sudah bau tanah”, “Sengkuni”, “tai kucing”, “semakin tua semakin sesat”, “kerak neraka”, “intelek kok guoblok”, “semakin tua semakin sesat”, “si pikun utek liberal”, dan sebagainya. Seluruh bentuk ujaran kebencian akan memasuki suatu fase ‘oral’ dan fase ‘anus-anal’. Berbagai berita lewat media sosial dianggap sebagian orang merupakan ampas dari realitas. Pada sisi lain, bahwa fase ‘anus-anal’ juga ditandai dengan keberadaan para donatur, bandar, atau cukong politik sebagai mesin kapitalis-uang dalam kontestasi-Pilpres. Secara logis, dalam peristiwa politik memerlukan modal-biaya yang kodenya diuraikan dan disolidkan melalui mesin hasrat. Modal-biaya politik bukan hanya dikomodifikasi, tetapi juga dimistifikasi dalam mesin hasrat berupa Capres yang gambarnya dimanipulasi melalui tayangan iklan kampanye membangkitkan ketidaksadaran. Orang-orang akan mengetahui, bahwa iklan kampanye politik Pilpres melalui media: televisi, media sosial, surat kabar, majalah, billboard, dan sejenisnya mampu menciptakan ilusi dan mimpi.

Menurut Deleuze dan Guattari, kebenaran yang ada dalam ketidaksadaran merupakan sesuatu yang solid seperti “mesin”: “ketidaksadaran … ketidaksadaran merekayasa (engineers), ia bersifat seperti mesin” (1984: 53). Apa yang direkayasa tidak lebih dari sifat dasar makroskopik: bahasa, khayalan, selera, dan mimpi.

Sebaliknya, dalam kapitalisme, sekalipun bukan pertimbangan ideologis, arus modal uang yang dihasrati (termasuk penopang kekuatan politik dari masing-masing pasangan Capres) tidak lain adalah “tubuh tanpa organ” (body without organ). Konflik nyata antara “mesin hasrat” dan “tubuh tanpa organ” tidak terhindarkan, dan … “hasil hubungannya antara mesin hasrat dan tubuh tanpa organ, dan terjadi berikutnya tidak lebih bertoleran dengan mesin-mesin ini” (1984: 8). … “Segala sesuatu yang ada dalam sistem ini gila. Sebab, mesin kapitalis hidup di atas arus yang dideteritorialisasikan dan yang kode-kodenya diuraikan” (1984: 347). Sebagaimana telah dirilis oleh Tirto serta Geotimes yang diperkuat oleh Kompas, bahwa ada kecenderungan mesin uang seiring mesin politik dalam kontestasi Pilpres 2019 akan dicukongi oleh para pemilik modal (konglomerat) dari kedua pasangan Capres. Dari sini, mesin kapitalis bergerak dari celah ke celah lain, dari satu alur ke alur baru. Berdasarkan Laporan Globe Asia tahun 2017, para pemilik modal (kapitalis-konglomerat) memiliki kekayaan berjumlah jutaan bahkan milyaran US Dollar berada di belakang kedua pasangan Capres. Seseorang bisa saja digoda uang dalam permainan politik yang menukarkannya dengan suaranya, karena uang mampu mencairkan sesuatu yang beku dan melarutkan yang kaku.

Secara khusus, mesin kapitalis hidup di atas “arus-arus produksi yang kode-kodenya diuraikan dalam bentuk modal uang dan arus-arus kerja yang kode-kodenya diuraikan dalam bentuk pekerja bebas” (1984: 34). Perusahaan dari kapitalis-konglomerat (pemilik modal) memperluas jaringan politik Capres bergerak dari bidang pertambangan dan media hingga perkebunan dan perikanan. Tidak lebih dari sebuah proses produksi ekonomi yang menyertakan mesin hasrat yang tidak terelakkan. Mesin hasrat bukanlah mesin khayalan atau mesin mimpi yang seandainya hal itu dapat dipilah dari mesin sosial dan mesin teknik. Masyarakat Indonesia mutakhir akan melihat momentum Pilpres 2019 menjadi indikator kinerja pembangunan demokrasi politik yang tercerahkan atau berbalik menentangnya.

*) ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments