Home Berita Menengok Kampung Perintis Ketuk Sahur di Gorontalo

Menengok Kampung Perintis Ketuk Sahur di Gorontalo

0

Matakita.co (Gorontalo) – Ratusan warga Kelurahan Tenda Kecamatan Hulondalangi menggelar tradisi ketuk sahur di akhir ramadhan hal ini menjadi tradisi kerap mengiringi berakhirnya Ramadhan di Gorontalo.

Kampung yang terletak diantara gunung dan laut itu, ketika malamnya meniupkan kedinginaan yang membuat badan serasa gemetaran, namun hal itu tak menyurutkan semangat ratusan warga berjalan kaki melintasi jalanan demi membangunkan sahur untuk masyarakat yang masi tertidur lelap.

Menariknya, tradisi ini tak hanya diminati muda mudi saja melainkan ibu runah tangga serta anak-anak yang masi duduk dibangku sekolah dasar pun sangat antusias menjalankan tradisi itu.

Semangat anak-anak mengikuti Tradisi Ketuk Sahur

Fachrudin F. Salilama selaku Ketua Jamaica (Jiwa Muda Indonesia Creative) mengatakan, ketuk sahur pertama kali dilaksanakan di kelurahan tenda Kecamatan Hulondalangi sejak tahun 1990, dan tradisi ini sudah menjadi warisan leluhur yang hingga hari ini masi dipertahankan.

Awalnya tradisi ini digelar dengan acara konvoi melintasi kota gorontalo yang diikuti oleh seluruh masyarakat yang ada, namun tahun ini digelar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kita hanya melaksanakan tradisi ini hanya sepanjang jalan yos sudarso tepatnya di kelurahan tenda, dan tidak melakukan konvoi dikarenakan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan apalagi tidak adanya pengawalan dari pihak kepolisian ” tegasnya

Sejarah ketuk sahur, awalnya di gelar pertama kalinya di pabean kelurahan tenda seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai merambat ke beberapa kelurahan yang ada.

“Bagi saya tidak jadi persoalan tradisi ini merambat ke wilayah lainnya, selama itu membangunkan orang sahur, tidak jadi persoalan, ketuk sahur ini di gelar demi mempererat tali silaturahmi antar sesama”. Ujar Fachrudin ke Matakita.co

Melihat polemik usai berlangsungnya pemilihan capres cawapres dan lain sebagainya, dengan tradisi ini pihaknya meyakini dapat menjadi salah satu instrumen untuk meredam serta menyatukan kembali persaudaraan itu.

Masyarakat Kelurahan Tenda

Yanto biya selaku masyarakat setempat menambahkan, selain ketuk sahir mengiringi berakhirnya bulan puasa, masyarakat pabean melaksanakan merias rumahnya masing-masing,

“Seluruh masyarakat mengecat rumahnya dengan menggunakan alat dan bahan seadanya, anatara lain, menggunakan markalak dan kuas dari pelepah pepohonan, dan tradisi itu masi terjaga hingga saat ini hanya saja mulai berkurang”

Lanjutnya, tradisi ketuk sahuf memang ada sejak tahun 90-an, namun bumingnya kegiatan itu sejak zaman Pemerintahan Fadel Muhammad, dengan mengelilingi kota gorontalo sambil berjalan kaki.

” usai melaksanakan ketuk sahur, bambunya kita bakar di tengah-tengah lapangan dan seluruh masyarakat duduk melingkar sambil merenung dan berdoa agar bisa dipertemukan dengan ramadhan selanjutnya.” Tutupnya.

Facebook Comments