Home Mimbar Ide Mitos Penanda

Mitos Penanda

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Mungkin, terdekat dengan zaman ini disaat dikaitkan antara tokoh utama pemikiran dengan suatu frasa tentang ketidakhadiran subyek menjadi diskursus yang dibentuk oleh teks-teks Foucault, Derrida dan Deleuze. Setidak-tidaknya ketiga tokoh pemikir-filsuf postrukturalis Perancis memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang tidak cukup memadai dalam pemikiran modern. Pada saat tertentu, penanda terbentang dari ketidakhadiran pikiran, nalar atau subyek sebagai representasi. Saat lainnya, sebagai akibat dari keteledoran penggunaan representasi berdasarkan kerangka epistemik tertentu yang mempertahankan ‘determinitas yang terpusat’ menggiring pemikiran modern menjadi ‘korban masa depan manusia’.

Kerangka epistemik adalah ledakan. Apabila seseorang berusaha “berpikir keluar dari kotak” dan tubuh melampaui tubuh, berarti ia segera membebaskan dirinya dari logosentris (nalar, pikiran, pusat, sabda) hingga menghilang dalam ketidakhadiran subyeknya sendiri. Pada saat lain, kita tidak berpikir secara serius disaat ketidakhadiran subyek tidak memiliki relasi antar logosentris dan energi intelektual. Akibat ketidakhadiran subyek, maka proses delogosentrisasi merupakan bagian dari pembentukan ledakan ganda epistemik a la Derrida dan Foucault. Ketidakhadiran nalar, pikiran atau subyek menjadi ledakan epistemik yang tidak terpikirkan. Pergerakan ‘birahi’ melawan ‘logos’ sesuai pergerakan kuasa mendahului bahasa pikiran. Setiap penanda tidak dapat dipisahkan dengan ketidakhadiran subyek atau tanda kuasa. Hal apa saja yang menjadi relasi tanda antara tubuh, mesin dan ketidaksadaran dari hasrat, fantasi, mimpi, dan kesenangan itu juga sebagai tanda kuasa.

Dari sini, ada pertanyaan seputar logosentris. Sejauh manakah pikiran datang dari sisi luar? Dapatkah pikiran berjalan tanpa tubuh? Adakah energi libido dibalik bahasa pikiran tanpa dorongan dari luar? Setelah teori, apakah yang dilakukan oleh seseorang apabila tidak ada (kematian) teori? Mengapa ada relasinya antara pengetahuan dan seksualitas di sekitar kita? Energi libido nampaknya memasuki jaringan sel-sel yang lebih kecil dan menyebar yang nyaris tidak ada tabu terutama orang-orang berada dalam tradisi ketimuran. Disitulah, arus anergi libido akan merangsang perbicangan tentang tema-tema ekonomi, birokrasi, politik, konsep, sosial dan sebagainya tanpa hirarki bahkan tanpa pemujaan atas obyek, sekalipun tanpa melalui “persetubuhan”, kecuali ‘lekukan’ yang tidak terpikirkan.

Dalam persfektif Foucauldian, bahwa ‘libido’ atau ‘sesuatu yang erotis’ tidak hanya bersifat “menggoda”, “meluluhkan” dan “menantang”, tetapi menguasai realitas melalui kuasa sebagai diskursus. Kuasa menerobos titik kelenyapan realitas yang dipertajam oleh hiperealitas seksual. Kita mengetahui, pornografi merupakan sumber hilangnya ‘idealisme’, akhirnya tidak ada lagi kenikmatan, kesenangan dan kegairahan, kecuali pergerakan ‘titik kelenyapan realitas atas Cogito’ yang ditaruh dalam laci meja atau dimasukkan dalam uang virtual. Lantas, kita mungkin dapat membayangkan, seperti tentang ‘lekukan tubuh modal-uang’ yang “menggoda” dan “meluluhkan” melalui penciptaan tatapan atau obyek.

Seksualitas atas pemikiran memiliki keragaman sel-sel melalui pasangan, keluarga, pribadi dan obyek. Seksualitas bukanlah masalah moral. Kata lain, seks adalah kebenaran yang tertunda ditertawakan melampaui mekanisme dibentuk oleh institusi kuasa atas kuasa lainnya sebagai organisasi pembaharuan pemikiran modern (masihkah?). Perlukah institusi pengetahuan menikmati tubuhnya sendiri? Setiap orang akan digoda dengan tubuh modal-ekonomi yang nampak dari permukaan (misalnya alat kecantikan, kesehatan, perabot rumah tangga). Keadaan yang tidak berimbang antara ketidakhadiran pikiran, nalar atau subyek dan energi mesin ketidaksadaran dari hasrat dan khayalan. “Mereka makan bersama pria seksi dengan dada berbulu”, “dia dianugerahi kulit putih mulus yang merangsang”, “kami mencicipi makanan cepat saji yang lezat” berbolak-balik dan beracak melalui relasi antara tubuh modal dan tubuh seksual dilewati secara imanen.

Banyakkah fakta atau ilusi muncul dalam dunia? Perkembangbiakan citra dari sinema dan medium lainnya membentuk akumulasi retakan peristiwa yang menandakan tema-tema keguncangan ekonomi, kriminalitas, kelaparan, perang, rumah tangga berantakan, terorisme (asli), dan peristiwa politik melampaui analisis. Karena itu, fakta dan ilusi menjadi obyek analisis yang pada akhirnya melampaui korban dari analisis itu sendiri yang bergerak antara diskursus intelektual dan ketidakhadiran subyek. Selain itu, ketidakhadiran makna sesuai ketidakhadiran subyek.

Kekuatan sang Nyata dari dunia virtual, sekalipun tanpa tekanan metafora melawan teori. Suatu kekuatan baru tiba-tiba muncul dari dunia nyata di sekeliling kita membuat setan dengan kecerdasannya mulai linglung. Kita melihat, teks ideologi dipuja-puja selama teks seksual dipuja-puja. Sebagian yang lain, teks visual dan virtual menjadi teks ideologi negara dengan strategi pembujukan, pembatasan dan stabilitas (diantaranya melalui televisi, internet).

Dalam hal ini juga, obyek konsumsi yang membentangkan relasi antara ideologi dan pengetahuan (kertas dan laboratorium) memiliki peranan penting dalam pembentukan relasi ekonomi, dimana tanda-tanda muncul dengan teks yang dibaca orang berada di level kode dan makna. Hal ini tidak berarti arus hasrat telah keluar dari penguraian darah idealis yang dimaterialisasi melalui tubuh menjadi suatu kerangka epistemik. Sebaliknya, arus ‘darah’ bukanlah model ritual dari sekte keyakinan atau tatanan pengetahuan sebelumnya, tetapi pengetahuan dalam arus tanda melawan arus taklid buta sesudahnya.

Permasalahan ideologi adalah pemihakan atas dirinya sendiri. Ia bukanlah sumber inspirasi bagi ilmu pengetahuan; tidak berarti dalam relasinya dengan ilmu pengetahuan, nilai pemihakan atas sesuatu tidak mustahil relasi dapat menjadi retak kembali, jika teroritis dan ideolog ternyata dalam perjalanannya telah kehilangan jejak-jejak yang diperjuangkan. Meskipun terdapat alasan-alasan lain dari pertahanan orang-orang yang melancarkan kritik secara terbuka dan analisis ilmiah terhadap ideologi.

Mereka (masyarakat, kaum intelektual) masih menjadi ‘model korban’ yang berulang dari kekerasan bahasa, disaat dunia nyata (hiperealitas, simulasi dan virtualitas) membunuh logos, ruang suci dan petanda transendental. Sejauh ini, akhir dari ilmu pengetahuan adalah tapal batas bagi ideologi.

Kini, setelah rayuan dan tipu muslihat dari dunia nyata yang tidak terpikirkan menjadi kecerdasan dari sang jahat. Selanjutnya, kesenangan, hasrat nyata dan tubuh-tubuhnya apa lagi yang melebihi teori (apabila teori tersebut bukan lagi dari kecerdasan sang jahat)? Dimanakah posisi kebenaran institusi pengetahuan (sekolah-kampus, pengkajian dan riset)? Relasi antara ketidakhadiran subyek dan kebenaran tidak lebih dari permainan acak dan lelucon konyol. Ia bukanlah bentuk kesangsian (terhadap institusi pengetahuan), melainkan kekaguman atas penderitaan dan pengucilan intelektual yang mengasyikkan. Dalam hal ini, setiap tantangan dan permasalahan kemiskinan, pemanasan global, bahaya narkotika, dan korupsi sama merangsangnya dengan pornografi, seksualitas, hiperealitas, dan virtualitas. Mereka bukanlah untuk dihindari, melainkan ia menjadi obyek analisis ilmiah, sekalipun kita tidak mampu berkata apa-apa lagi di tengah ‘poros anal’ berlangsung dari kelimpahan, penumpukan dan pelipatgandaan citra yang memikat, seperti iklan di televisi atau pasangan bermadu kasih yang ditonton melalui sinema. Ketidakhadiran subyek (nalar, pikiran, logos) muncul dari teks erotis yang dimanfaatkan melalui proses ideologisasi obyek tontonan yang membuat terkesima dan terenggutnya nalar dari seseorang (misalnya, iklan parfum dengan citra-teks visual berupa bibir seksi atau rokok sebagai nilai simbolik-mitos kejantanan pria bersama tatapan mata wanita padanya). Citra lainnya lagi, seseorang akan membeli buku atau berbelanja buah-buahan di supermarket. Seseorang tidak sekedar menggunakan bahasa pikiran dengan cara melihat bentuk dan berapa jumlah biaya buku dan buah-buahan, tetapi memiliki relasi bolak-balik dengan motif kenikmatan, selera atau hasrat menyertai proses penciptaan realitas baru. Semuanya itu tidak lebih dari ‘lekukan’ peristiwa.

Pergerakan diskursus mengenai citra-hasrat dan mesin-mesin produksi menjadi celah bagi pengetahuan. Disaat rezim diskursus yang mengendalikan subyek pengetahuan yang berada di luar dirinya, maka yang lainnya akan menentang mekanisme kuasa sejauh dibawah logika konsumsi (nilai simbolik, status dan gengsi berupa jabatan, kedudukan dan fasilitas lainnya) mampu melumpuhkan gerakan kaum intelektual. Kita mengetahui, bahwa konsumerisme sekarang melawan idealisme kaum intelektual. Kenyataannya, idealisme mati karena direnggut oleh kaum terpelajar itu sendiri (fenomena ngopi di Cafe, belanja virtual dan sebagainya terutama di Indonesia).

Sebaliknya, seseorang secara sukarela berada dalam perubahan memiliki satu diskursus teoritis, yakni, pembebasan tatanan nilai dari egoisme. Nilai ilmiah dimaksudkan bukan menunjukkan sebagai perangkap “tatanan nalar” bergerak secara linear dari Cogito Cartesian. Pengetahuan meletakkan relasi produksi antara hasrat dan teori, dimana ideologi menjadi bagian dari pembebasan atas kondisi sosial yang tidak terpecahkan. Sementara, bentuk konflik fakultas intelektual dan fakultas sosial, fakultas nalar dan fakultas spiritual terjalin kelindang dan bahkan suatu saat saling menetralisir antara satu dengan lainnya.

Dapatkah kegelisahan dikuantitaskan pada saat kita menyaksikan peristiwa yang tidak cepat berlalu? Tatkala kita berpikir tentang bagaimana tema-tema baru dibentuk oleh relasi antara ilmu pengetahuan dan ideologi, perumusan konsep-konsep dimungkinkan selama institusi pengetahuan melihat dirinya hingga aparatur negara, politisi, pornografer, filsuf, profesor, sineas atau pornografer mampu merampungkan dan melintasi ‘permainan besar’.

Dapatkah ideologi diletakkan sebagai nilai ilmiah? Dimanakah relasi terbangun dalam kegelisahan dan lompatan kuantum jika dikaitkan antara pemihakan secara ideologis dan teks ilmiah tentang permukaan dan kasat mata (seperti perebutan kuasa negara, konflik institusi pengetahuan). Memang tidaklah keliru, sesuatu yang merangsang dan menantang datang dari kasat mata membuat pergerakan institusi pengetahuan yang tergopoh-gopoh sebelum ia (bahkan sulit selama tertular virus ideologis merenggut nilai ilmiah dari institusi pengethauan) menjadi ‘titik proses energi de-proletarisasi pergerakan pengetahuan’.

Ia bukanlah tanda ingatan dan keilmiahan yang merumuskan suatu konsep produksi ditengah konsumsi, tetapi, kesenangan untuk mendiagnosis dunia nyata, fenomena, dan ilusi itu sendiri. Sisi kesadaran menjadi wilayah kosong seakan-akan tidak berpenghuni. Kesadaran justeru perlu diwaspadai, tatkala setiap subyek (institusi pengetahuan) tidak lagi dimasukkan dalam jejak-jejak kebangkitan mimpi, dari serangkaian benda-benda dibalik hasrat, kesenangan, selera, khayalan, dan ilusi di luar tidur panjang. Institusi pengetahuan bergerak bukanlah bergantung pada kekuatan ideologis maupun daya kritis-analitis yang diambil dari akhir masa tidur panjangnya. Perlawanan sosial dan intelektual datang setelah diskursus teoritis dan praktek diskursus menghadapi bahaya, dimana ia akan bermain dalam permainan yang berbahaya. Institusi intelektual tidak hadir karena tidak adanya “tantangan” dan “tanggapan” (Toynbeean). Diskursus tentang hasrat, khayalan, seksualitas dan energi ketidaksadaran lainnya tidak melawan kuasa (institusi negara), tetapi “membongkar kedok” (Foucaldian) dan melucuti permainan topeng dari kuasa. Diskursus menjadi nama kuasa itu sendiri yang tidak bernama (anonimitas) akibat kemampuannya berubah, berganti, bertukar dan menyebar kemana-mana.

Sebaliknya, penggunaan praktik diskursus yang berbeda-beda, bukan hanya proses produksi hasrat untuk merahi ilmu pengetahuan, tetapi juga produksi diskursus intelektual terhadap tanda (kezaliman) diwaspadai oleh rezim politik kuasa. Karena umumnya, rezim politik kuasa yang tengah berjalan merupakan struktur tunggal dalam kehidupan. Berbeda dan melawan rezim kuasa politik (negara), berarti melawan selera dan hasrat sebagai rezim tanda (kuasa). Tidak ada rezim lain (diskursus, kebenaran dan sebagainya), kecuali rezim itu sendiri. Satu sisi, institusi intelektual secara organik berada dalam dilema menghadapi rezim diskursus, karena secara kelembagaan memiliki perangkat pendukung pada setiap pola pergerakan intelektual yang menyebar tanpa organik dan mekanis. Sisi lain, institusi intelektual perlu menata ulang retakan ideologi yang dimilikinya sebelum ia diprogram, dikendalikan dan dikuras oleh ideologi lainnya (konsumerisme).

Tatkala gerakan intelektual radikal bertugas untuk mendobrak tabu, menolak larangan dan mereproduksi ide, mimpi, khayalan dan hasrat untuk mengetahui yang dipadatkan dengan kerja-kerja sosial dan intelektual (jurnal ilmiah, buku, bahan evaluasi dari hasil kontrol sosial). Disitulah ia menanam pergerakan subversif sebagaimana teror atas pikiran di tengah kejumudan dan kelumpuhan daya kritis dalam masyarakat. Bagaimana mungkin pola pergerakan ideologis yang mereka bangun sedangkan ia sendiri direnggut sebagai korban ideologi. Ideologi (dalam institusi pengetahuan) melawan ideologi (konsumerisme). Sebaliknya, disaat tidan ditanam, dilepaskan dan disebarkan energi intelektualnya, ia tidak lebih dari semboyan.

Tidak ada jalan lain, kecuali kaum intelektual menjadi sumber teror bagi dunia, wabah disaat tidak ada virus atau penyakit kelumpuhan akut (paralisis) pergerakan. Pada saat yang sama, kaum intelektual membebaskan dirinya dari kungkungan teks kuasa (sistem kode-tanda dibuat oleh negara) melalui sistem pendidikan, kurikulum dan regulasi lainnya yang membatasi ruang ekspresi dan pendapat. Institusi pengetahuan atau kaum intelektual tidak mengikuti dan melawan ‘arus’, karena ‘arus’ itulah kaum intelektual (wujud ideal). Pertama-tama datangnya arus dan lekukan libido dan hasrat kaum intelektual dan kelompok sosial lainnya. Disaat tidak cair hasrat untuk mengetahui, kaum intelektual hanya hanyut sebagai celah dalam kehidupan masyarakat yang melibatkan energinya melalui serangkaian diskursus pemikiran sejarah, sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, dan filsafat.

Energi libido sebanyak arus yang ia lepaskan atau ledakkan keluar. Jika kita percaya, bahwa institusi pengetahuan sebagai libido dan libido sebagai arus. Suatu hal yang masih aneh, tatakla kita meletakkan energi libido terhadap peran kaum intelektual secara umum. Mimpi sebagai jejak yang diperjuangkan selama ini (kebenaran dan keadilan) dalam masa-masa demokrasi sedang diuji ketahanannya yang mengalami proses pemerosotan kepekaan atas krisis (sense of crisis). Diskursus tentang kuasa menciptakan ‘lekukan lainnya’ yang tidak disadari atau tidak terpikirkan melalui korban strategi penjinakkan dan pembatasan dari seseorang yang mengidap suatu miopi intelektual. Sehingga mereka tidak memiliki ketidakmampuan merangsang dirinya untuk melihat dimana “musuh bersama” (rezim otoriter, ketidakadilan). Boleh jadikah mereka menjadi bagian darinya? Ataukah mereka telah berhasil ‘dibungkam’ seribu bahasa?

Sebagaimana misi pembebasan hasrat, pembebasan ideologi kaum intelektual justeru menjadi titik tolak berkembang-biaknya ideologi lainnya dengan wawasan dan sudut pandang lebih teracak dan berbeda (jika hal itu diperjuangkan secara sungguh-sungguh). Pembebasan ideologi muncul disaat tidak ada ideologi, karena arus hasrat untuk berkuasa menjadi rezim tanda.

Belum lagi tanda-tanda kematian teori yang datang lebih cepat bersama lumpuhnya gerakan-gerakan kekacaubalauan (setidaknya di mata rezim kuasa negara). Setelah naskah, dokumen ilmiah, penelitian dan laboratorium tidak memiliki kode untuk dikonsumsi melaui perut. Hanya saja dari orang-orang terbataslah yang mampu menyerap kesenangan untuk mencumbui buku teori. Inilah akhir buku teori yang tidak memihak kepada fakultas hasrat dan kesenangan sebagai logika baru. Setiap sesuatu yang mengalami ketidakhadiran subyek tidak dapat dikatakan telah final, karena pemikiran lain akan muncul dari zaman ke zaman berikutnya.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/ Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments