Home Mata Publik Masyarakat

Masyarakat

0

Oleh : Idham Malik*

Dua minggu ini Saya rutin berada di sebuah kawasan udang. Di antara kerumunan. Mula-mula Saya begitu percaya terhadap apa yang disebut sebagai masyarakat, dan juga sedikit percaya dengan apa yang disebut sebagai warga. Tapi, pengamatan dua minggu ini, membuat Saya harus mengkoreksinya kembali.

Saya teringat kata Thucydides, yang mengatakan bahwa orang yang tidak berminat pada masalah negara bukanlah orang yang memikirkan urusannya sendiri, melainkan orang yang tidak punya kepentingan menjadi warga negara.

Lagi-lagi, kita menjadi sedikit Yunani untuk mengungkit apa yang benar dari masyarakat, khususnya suatu daerah di Pinrang, tempat Saya menggali kira-kira kenapa produksi udang di wilayah ini begitu kuntet? Apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat ini, sehingga udang tak dapat tumbuh dengan baik.

Mulanya Saya agak sentimen dengan pemerintah, lantaran tidak terlalu memusingkan daerah ini. Tapi, ini tidak sepenuhnya beban pemerintah, sebab kemajuan suatu daerah sangat tergantung dari kemauan dan tekad dari masyarakatnya itu sendiri. Meski, pemerintah, dalam hal ini pemerintah lurah dan desa, masih sangat kurang dalam melakukan pendidikan dan pengarahan kepada warga, tentang tatacara berbudaya air yang baik, yang menyesuaikan dengan tantangan alam dan zaman.

Logika pemerintah, dalam mengaktifkan sebuah kawasan yaitu mesti ada pihak-pihak yang memposisikan diri sebagai konektor atau penghubung. Keberadaan konektor yang menurut Malcom Gladwell merupakan suatu syarat untuk menciptakan Tipping Point, penularan sebuah gagasan, ide, ataupun produk. Nah, untuk kasus yang satu ini, tidak ditemukan konektor. Yang biasanya rutin hadir di pertemuan-pertemuan, mengutarakan pendapat dan mencoba mengawal pertemuan-pertemuan di level kelurahan ataupun desa.

Belum ditemukan pihak yang berfungsi sebagai tokoh, person yang didengar. Dan barangkali sudah berbuat banyak. Di samping itu, tak banyak pula orang yang mau mendengar. Masing-masing orang, hanya mendengar ego sendiri-sendiri.

Mungkin, jika ditelusuri lebih jauh lagi, jarak sosial manusia satu dan manusia lain cukup berjauhan. Masing-masing pihak berjuang sendiri-sendiri. Menderita sendiri-sendiri. Celaka pula, jika masyarakat ini telah merasa nyaman berada dalam kubangan penderitaan.

Sangat jarang berlangsung aktivitas saling tukar pengetahuan. Kalau pun ada saling tukar, begitu kurang upaya untuk melakukan praktik perbaikan. Entah karena sudah merasa nyaman dalam kondisi, pasrah pada keadaan, sehingga tidak ada inisiatif. Bagi yang memiliki atasan harus menunggu perintah, itupun jika atasan tergerak untuk perubahan. Soal yang terjadi jika atasan tetap kukuh dengan pengetahuan lama, dan tak ada niat untuk menambah pengetahuan untuk perbaikan budidayanya.

Lantas, kenapa tidak ada konektor, padahal daerah ini dahulu kala adalah salah satu pemasok udang windu terbaik di Kabupaten Pinrang? kata teman, dahulu cukup ada tokoh udang di daerah ini, dan juga terdapat perkumpulan yang hebat, tapi semua sudah berlalu. Sang Tokoh sudah di alam lain, dan perkumpulan sudah lama bubar. generasi berikutnya tidak sekokoh generasi sebelumnya. Tanah pun terbagi-bagi pada sekian anak. Dan sebagian tanah itu dikontrakkan ke ponggawa-ponggawa lain, yang lagi-lagi mengolah lahan dengan cara apa adanya saja.

Kejayaan masa lalu memang menggemaskan, membuat kita selalu terlena untuk kembali merasakan kemudahan dan kekayaan itu. Tapi apa daya, produksi tak semudah dulu, uang sudah tak gampang diperoleh. Tapi, sisa-sisa atau boleh dikata residu hidup gampang itu masih melengket di saat-saat ini. Orang-orang tak mau berepot-repot untuk belajar, orang-orang tidak percaya terhadap pengetahuan baru. Orang-orang berkeinginan memperoleh uang secara cepat dan mudah.

Pada akhirnya, semua orang menjadi sibuk, mengejar kepentingan sendiri-sendiri, dan tidak ada waktu untuk berkumpul. Punggawa sibuk mengurus bisnisnya yang beranekaragam, petambak pun sibuk untuk mencari sampingan, sebab, pembagian hasil tambak tidak seberapa. Masing-masing pihak pun acuh tak acuh terhadap metodelogi tambak. Dan hanya sama-sama berharap atau mungkin kurang berharap dari hasil, yang tentu tidak seberapa.

Kurangnya aktivitas berkumpul bersama, baik yang dilakukan pemerintah desa/lurah maupun inisiatif masyarakat itu sendiri, mengindikasikan kurangnya perhatian terhadap persoalan bersama, serta kurangnya kegiatan kerjasama.

Makanya, jangan heran jika muara hingga bertahun-tahun tersumbat, saluran air dipenuhi ilalang-keluar masuk air kurang lancar, pencuri siap mengintai untuk panen di tengah malam, dan tentu saja, hasil udang yang begitu-begitu saja, cenderung menurun.

Saya kemudian teringat pepatah Afrika tentang kreativitas, “Untuk membesarkan seorang anak, dibutuhkan seisi desa”, lalu saya tak heran jika tak ada sosok yang muncul di kawasan ini.

Dan, dalam kondisi seperti itu, boleh saja kita menafsirkan bahwa dalam benak mereka tak ada yang perlu diubah, biarkanlah kondisinya seperti ini. Uruslah dirimu sendiri.

*) Penulis adalah Aquaculture Staff, WWF-Indonesia

Facebook Comments