Home Hukum Pemimpin Perempuan dalam Masyarakat Plural

Pemimpin Perempuan dalam Masyarakat Plural

0
Ariani Arifin

Oleh : Ariani Arifin*

Selama manusia memiliki cita-cita atau visi dan punya komitmen untuk mencapainya, selama manusia hidup berkelompok, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka selama itu manusia membutuhkan seni kepemimpinan dan keterampilan manajerial. Seni kepemimpinan dan keterampilan manejerial itulah yang akan mengantar manusia untuk mampu menetapkan cita-cita atau visinya, kemampuan memilih strategi yang tepat untuk pencapaian visi, dan mencapainya dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat. Maka dari itu, kemampuan kepemimpinan dan manajerial sangatlah penting untuk selalu dikembangkan, baik sebagai seni dan karakter maupun sebagai suatu keterampilan (skills).

Namun ada persoalan yang sangat mendasar terkait kepemimpinan yang diperankan oleh kaum perempuan, dan menjadi perbincangan yang tidak menguntungkan atau masih memberikan porsi yang lebih sedikit dibandingkan kaum laki-laki.

kemudian dikait-kaitkan dengan teks-teks agama atau issue gender yang menentukan bahwa perempuan memang kodratnya tidak untuk memimpin melainkan cukup menjadi bagian kaum yang diayomi oleh kaum laki-laki. Ini menjadi cara pandang eksploitatif dan keliru namuntidak pernah absen diperbincangkan dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.
Kelemahan yang dianggap dimiliki perempuan adalah Permisifitas,peran ganda yang dimiliki oleh perempuan,kurangnya rasa percaya diri yang dimiliki oleh perempuan,terbatasnya kreatifitas produksi karya monumental perempuan dan juga terbatasnya jumlah perempuan dengan pendidikan tinggi (S2,S3,Profesor).

Padahal ada begitu banyak kekutan pimpinan perempuan yaitu, memiliki modalitas: social, cultural, simbolik. Adanya keseimbangan feminitas dan maskulitas, memiliki loyalitas yang tinggi terhadap kepentingan orang banyak,banyak perempuan yang telah mengikuti berbagaai program capacity building,dll.

Olehnya itu sangat perlu mengulas lebih jauh kajian tentang Kepemimpinan oleh perempuan.

Pandangan Agama Mengenai Perempuan dalam Kepemimpinan.

Dalam teks agama Islam Al-Qur’an surah Annisa ayat 34:

Arrijalu qawwamuna ‘alannisaa

artinya : Bahwa laki-laki memimpin atas perempuan.

Bahwa ayat ini sering ditafsirkan secara literal dan dijadikan dalil tunggal dalam memaknai boleh tidaknya seorang perempuan dijadikan pemimpin, padahal ada hal yang dikotomi baik secara filosofis dan historis sehingga tafsirnya menjadi keliru dan membuat sebagian besar orang salah paham bahkan menghubungkan dengan keharaman pemimpin perempuan.

Padahal hakikatnya islam justru memberi ruang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk mengambil peran sebagai pemimpin, karena kodrat perempuan dengan laki-laki diciptakan oleh Tuhan berada dalam kualitas kesempurnaan yang sama.

Al-Quran surah Attiin ayat 34 :

Laqad khalaqnal insana fii ahsani taqwim

Artinya : Bahwa Allah menciptakan manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam kualitas sempurna.

manusia diciptakan secara fisik sempurna dan secara spiritual juga sempurna, baik laki-laki atau pun perempuan memiliki unsur ketegasan (jalaliyah) dan unsur kelembutan atau keindahan (jamaliyah).

Dalam filsafat Taodikenal dengan istilah Yin-Yang yang dapat dimaknai bahwa setiap manusia memiliki dua karakter dasar yakni sifat tegas yang disimbolkan unsur laki-laki dan sifat lembut disimbolkan sebagai unsur perempuan yang ketika dua unsur ini berkolaborasi dan bersenyawa pada diri manusia maka menjadi kekuatan dan pengetahuan besar untuk memerankan tugas sebagai pemimpin.

Pun dalam agama samawi lainnya bahwa agama memberikan otoritas kepada laki-laki untuk memerankan tugas sebagai pemimpin dalam bingkai keluarga akan tetapi kepemimpinan tersebut diperankan untuk tujuan ketertiban dalam kehidupan berkeluarga saja, walaupun sebagian besar memahami bahwa tidak hanya pada aspek keluarga saja laki-laki yang mengambil peran sebagai pemimpin akan tetapi juga dalam konteks di masyarakat tetapi pendapat ini menurut penulis adalah keliru.

Kepemimpinan laki-laki sebenarnya bukanlah superioritas atau mutlak dimanapun sehingga memberi ruang perempuan untuk dapat juga berperan sebagai pemimpin di masyarakat. Tuhan menetapkan laki-laki sebagai figur otoritas dalam keluarga, mengepalai isteri dan anak-anaknya. Namun, baik laki-laki maupun perempuan adalah setara di hadapan Tuhan.

Defenisi Kepemimpinan

Menurut Hemhill & Coons,dalam Yukl (1994:2), Kepemimpinan adalah “Perilaku” dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goal).

Jacobs &Jacques dalam Yukl (1994:2) mendefinisikan kepemimpinan sebagai “ Proses Pengarahan terhadap usaha kolektif yang berakibat kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran”.

Yukl (1994:4) mendefinisikan Kepemimpinan sebagai proses-proses mempengaruhi, pengorganisasian, motivasi, pemeliharaan hubungan, team work serta perolehan dukungan dari dalam organisasi dan di luar organisasi ( stake holder)
Sutantra (2008:24-25) memberikan makna kepemimpinan, sebagai berikut:
1 Kepemimpinan adalah kebersamaan, suatu team work, bukan kesendirian atau keakuan. Di dalam kepemimpinan ada peran pemimpin sekaligus staf (anak buah), bahkan juga peran lingkungan.
2. Kepemimpinan adalah perubahan menuju perbaikan, ke arah pencapaian tujuan atau sasaran bersama yang telah ditetapkan sebelumnya. Kepemimpinan bukan ke ‘mandek’an dan juga bukan perubahan ke arah kemunduran, kekacauan atau kehancuran.
3. Kepemimpinan adalah melayani bukan dilayani, memahami bukan dipahami, bila pemimpin maupun staf sama-sama memiliki semangat melayani yang tinggi, maka kepemimpinan akan berjalan efektif.
4. Kepemimpinan adalah tanggung jawab, keteladanan, bukan kekuasaan semata. Dalam kepemimpinan, pemimpin harus santun, jujur, dan adil memikul tanggung jawab dan memberi teladan kepada para bawahannya dalam memajukan organisasi atau perusahaan.

Strategi Pemimpin Perempuan Mengelola Pluralitas dalam Organisasi

Persoalan gender dalam kepemimpinan dapatlah mafhum bahwa sudah tidak menjadi masalah, namun strategi seorang pemimpin perempuan dalam mengelola keragaman (pluralitas) perlu pendekatan-pendekatan mengingat bahwa perbedaan agama, budaya, bahkan ras sangat mungkin menjadi potensi gagalnya sebuah organisasi mencapai tujuannya.

Tetapi hal itu dapat terjadi apabila cara pandang seorang pemimpin yang berwawasan kerdil, pluralitas bagi seorang pemimpin haruslah dipandang sebagai kekuatan bagi organisasi, bukankah Indonesia adalah negara yang majemuk; mulai dari beda wilayah, beda bahasa, beda budaya, beda perilaku, beda agama, namun Indonesia dapat tetap kuat untuk mempertahankan kebersamaannya justru karena pluralitas menjadi alasan kita bersatu, bahkan Indonesia menjadi contoh bagi dunia tentang kualitas toleransi yang sangat baik dan tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemimpin perempuan di Indonesia sangat mudah mengelola pluralitas atau keragaman karena masyarakat Indonesia telah final beradaptasi dalam keragamannya.

Walau demikian para pemimpin perempuan perlu memiliki standar leadership saat menjadi Pemimpin (driver) dalam sebuah organisasi, mungkin dengan menggunakan pendekatan teori Albert Humprey, Analis SWOT dalam mengelola organisasinya dan fokus menjalankan fungsi manajemen yang baik antara lain; Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (organizing), Pelaksanaan (actuating), penyusunan anggaran (Budgeting) dan pengendalian (controlling).

Karena itu, bahwa kepemimpinan bukanlah soal gender, apakah yang mengambil peran laki-laki ataukah perempuan dan bukan pula tentang keragaman (pluralitas) karena hidup beragam (plural) telah menjadi warisancara hidup bangsa indonesia.

Kepemimpinan sangat berkaitan dengan perilaku pemimpin,proses pengarahan, seni mempengaruhi, pengorganisasian, membangkitkan motivasi pengikut, team work, perolehan dukungan dari dalam dan dari luar organisasi, proses pelayanan, tanggung jawab dan keteladanan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan.

Bagi penulis kepemimpinan adalah kemampuan hard skillsdan soft skills pada diri seseorangbaik laki-laki maupun perempuan untuk menjalankan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga, masyarakat dan organisasi atau tempat kerjanya, karena setiap diri adalah pemimpin atas dirinya dan mempertanggung jawabkan atas kepemimpinannya sendiri.

Referensi:
• Materi pelatihan “The Role,Urgency,and Challenges of Female Leaders”,Prof.Dr.Farida Patittingi,S.H,M.Hum,Faculty of Law,Hasanuddin University
• Kepemimpinan Berkarakter, Agus Wijaya, N. Purnomolastu, AJ Tjahjoanggoro. Brillian Internasional surabaya Tahun 2015
• Analisis SWOT, Wikipedia.org diakses 12 September 2019

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum UNHAS

Facebook Comments