Home Mimbar Ide Dari Wujud Spiritual ke Wujud Seksual

Dari Wujud Spiritual ke Wujud Seksual

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Hingga abad ke dua puluh satu dan hingga abad kapanpun, permulaan yang menarik bagi politik, ekonomi, teknik, seni, dan bahkan isu agama melalui perangsang untuk memperbincangkan seks atau sesuatu yang seksual. Biarpun rezim kuasa negara mencoba memerangi hasrat seksual yang menubuh dalam media melalui situs porno, tetapi saja ia leluasa menyatakan wujudnya yang lain yang berpindah dari satu medium ke medium lainnya. Begitu pula di saat manusia mengalami puncak kemakmuran material akan terjatuh dalam kehampaan jati diri dan ketidakhadiran makna dalam kehidupan yang pada akhirnya seseorang juga merindukan nuansa spiritual dalam dirinya, bahkan sekalipun tidak menganut ‘agama formal’. Kerinduaan terhadap spiritual sebagai sesuatu yang abstrak seperti juga dari hasrat dan pikiran. Kehampaan jati diri dan ketidakhadiran makna dalam kehidupan bukan berarti seseorang membutuhkan mode berpikir eksistensial atau esensial. Karena itu, sebagaimana hasrat, spiritual merupakan sesuatu yang imanen karena pemenuhannya perlu penyaluran yang bersifat jasmani, dimana unsur abstrak yang dibentuk dari lapisan lainnya menyatu dan memisahkan dirinya mengarah pada keterlintangan-keterpotongan (transversalitas) dalam kehidupan. Tetapi, kita tidak melepaskan hubungan itu yang membuat unsur abstrak dari spiritual mampu bertahan akibat mekanisme yang bekerja terjalin antara kuasa dan kehidupan seksual. Jadi, mekanisme terjadi melalui pendidikan spiritual beriringan dengan disiplin seksual.

Apalah jadinya kehidupan dihadirkan sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas menuju paradigma spiritual pasca-materialis baru secara menyeluruh, di saat kita memang masih berada dan kita tidak dapat melepaskan dari ‘energi spiritual yang terseksualkan secara materialis’ yang justeru membuatku tidak mengerti apa itu “baru”. Terlepas apakah itu berupa tarian retorika atau bukan, diskursus pendidikan seks atau seksualitas menyelimuti pelatihan spiritual tanpa sudut pandang kesadaran atas kesatuan dari seluruh kehidupan di bumi. Diskursus seksualitas bukanlah bahaya yang mengancam kehidupan dari segala penjuru, tetapi sebagai satu penyebab munculnya kebenaran di saat kebenaran lainnya telah hancur. Diskursus seksualitas dengan seluruh wujud menyertainya bertugas untuk ‘lebih’ mencairkan dan mengasam-garamkan kehidupan termasuk dalam kehidupan spiritual.

Pergerakan spiritual ‘yang tersembunyi’ tidak membutuhkan ideologi yang berbeda dengan kehidupan seksual, yang lebih dekat pada instrumen dan eksploitasi teknologi akibat keserakahan individualis yang apapun dapat dipisahkan dari kondisi sosio-ekonomi sebagai bagian dari relasi produksi kapitalis yang termaterialisasi ‘hasratnya akan kehidupan’ yang mereka impikan. Dari proses materialisasi kehidupan tidak dibutuhkan tanda atau simbol dari spiritual atau seksual, melainkan sesuatu yang melekat sebagai ‘orientasi’, ‘dorongan’ dan ‘motif’ dibanding dengan ‘sasaran dan tujuan hidup’. Dalam relasi kehidupan yang termaterialisasi, ia masih tetap menjadi kehidupan yang terautomatisasi, sehingga semuanya itu perlu dihasrat seksualkan sebagai bagian cara untuk mengatasinya melalui pelatihan spiritual. Energi spiritual tidak bertentangan dengan energi seksual, kecuali kerakusan, eksploitasi atau perbudakan dalam kehidupan.

Perbedaan antara spiritualitas dan logosentrisme mengantarkan pada halaman dari bangunan pengetahuan sesudahnya merupakan kehidupan seksual yang ditarik ulur menjadi permasalahan moral. Padahal, kehidupan seksual bukanlah permasalahan moral dan intelektual sejauh hal itu menjadi bagian dari kehidupan yang perlu dipertanggungjawaban di hadapan mahkamah sejarah atau diskursus filosofis dan ilmu pengetahuan sebelumnya.

Nyatalah, tatkala dikatakan energi spiritual jalin menjalin dengan energi seksual yang sama-sama sebagai bagian dari energi abstrak yang sesungguhnya tidak memiliki keterkaitan dengan permasalahan estetika, pada saat ‘keindahan yang nyata’ sulit dikenali sebagai ‘keindahan sejati’ dalam dunia virtual sekaligus dalam kehidupan itu sendiri. Ataukah segalanya yang ada hanyalah pseudo-spiritualisme Timur dan pseudo-seksualitas Barat menjadi selera humor yang murahan? Timur dan Barat sama saja sekaligus berbeda dalam orientasi dan dorongan spiritual dan seksual. Begitulah pernyataan sederhananya, entah termaafkan atau tidak yang penting lebih bertanggung jawab dalam kehidupan.

Dalam proses kehidupan, saya sendiri tidak mengerti mengenai ‘kajian kebahagian’ sebagai ungkapan bernilai ilmiah dari “spirit baru” yang dikatakan sebagai bagian dari titik kebangkitan ‘disiplin baru seksual’. Setelah itu, perhatian besar dalam zaman hedonisme yang terspiritualkan berbeda dengan ‘energi spiritual yang terseksualkan’ dalam kehidupan. Mungkin berbeda dalam kehidupan anak-anak yang cenderung tidak mencapai tingkat pemikiran yang melampaui dirinya untuk memiliki orientasi, dorongan dan motif masing-masing dalam merahi kebahagiaan yang berbeda dengan kehidupan yang dialami oleh usia dewasa, orang tua atau kelompok masyarakat lainnya. Pengejaran atas kebahagian sama pentingnya penyaluran energi seksual secara sehat dan tepat dalam kehidupan. Apabila sasaran dan tujuan kebahagian dalam kehidupan tidak tercapai, tidak perlu lagi ada motif dan dorongan yang berasal dari akibat pengorbanan dalam kehidupan yang membahayakan justeru akan semakin tercemaskan dan tidak terpikirkan.

Merahi kebahagiaan bersama mengalami interiorisasi, ia bukanlah proses psikologisasi atau logosentrisasi kehidupan spiritual yang tahapan terakhir bersama energi seksual keluar dari mata rantai kegiatan politik. Dalam wujudnya yang terbuka, teracak dan terbagi-bagi, energi spiritual yang terseksualkan membebaskan dirinya dari kategori penyelidikan anak-anak Balita. Berbagai kehidupan dari cara diisi dan didinamisasi dengan ‘energi spiritual yang terseksualkan’ dalam masyarakat tidak berdasarkan keintiman yang nyata dari seseorang. Mungkin kita tidak cukup membeberkan rasa malu dari kekeringan spiritual atau aib dari kekerasan seksual, tetapi diantara keduanya. Pada hidup dan kehidupan bukan lagi untuk mempertahankan tujuan pengorbanan, kecuali disiplin seksual dan pelatihan spiritual yang terseksualkan melalui tubuh atau prosedur dan regulasi dalam kuasa.

Dari sini, energi spiritual yang terseksualkan berbeda dengan sabda, nalar, kesadaran ilahi , dan ramalan (logosentrisme)-Derridian tidak menganjurkan begitu saja untuk ditelan bulat-bulat apa yang telah dibentuk sebelumnya sebagai pengetahuan mengenai “akhir zaman”. Mungkin juga agak berlebihan dari kebenaran yang menggelikan, saat orang-orang tidak lagi menantikan ‘Spiritualitas Zaman Baru’ untuk menuntun kita dalam kegelapan, dalam kelenyapan rujukan dan makna dalam kehidupan. Bahkan orang-orang tidak mengharapkan lagi kehadiran kembali ajaran moral yang dipolesi warna spiritual tertentu, yang dinetralisir dengan kemesuman yang berbeda dengan keadilan, dari pengetahuan anak-anak muda akan hidup seribu tahun berikutnya telah ditinggalkannya. Mereka menuntut dan menjadikan ‘energi spiritual yang terseksualkan’ sebagai orientasi, dorongan dan motif dalam kehidupan, dalam keutuhan penampakannya. Orang-orang tidak menganggap permasalahan mengapa ada ironi dan ekstasi kehidupan yang betul-betul lebih hidup dibandingkan sebelumnya. Siapa yang terbaik dan paling kuat antara kehidupan spiritual dan kehidupan seksual di tengah dunia virtual? Kehidupan kita sekarang tidak lebih bersemangat dibandingkan tubuh seksual yang melipatgandakan energi kehidupan yang tidak terbatas. Tubuh murni tidak bermaksud untuk melawan tubuh seksual, karena tubuhnya telah berlapis berapa kali lebih kuat dari sebelumnya. Kehidupan seksual tidak mengendalikan dan menyerap energi lain selain tubuh yang membantunya menjadi lebih kuat melebihi energi spiritual, sehingga memberi hak untuk ‘hidup’, atas kehidupan yang lebih menantang, sekalipun tanpa perjuangan politik. Dari unsur seksual dijadikan dan diuraikan dalam indeks kesenangan dan matriks perkembangan kehidupan nyata agar orang-orang tidak terperangkap dalam jejak-jejak dalam ingatan dan tanda kegilaan yang mendahului setiap mekanisme disiplin melalui tubuh yang dibentuk kuasa. Dalam kuasa, kehidupan spiritual yang berganti dengan kehidupan seksual yang merangsang sesuatu di luar dirinya tidak berdasarkan norma yang dikendalikan kuasa atas tubuh. Tidak ada orang yang dapat ditindas hanya karena perubahan dan transformasi kehidupan datang dari hasrat seksual.

Persfektif manusia Barat dan Timur dalam kehidupan spiritual dan seksual bukan pertama kali menolak, bahwa diri mereka tercermin bagai dalam ‘biologi’ secara politis. Bukanlah pada kenyataan yang dibuat-buat, seakan-akan mereka mengarungi hidup dan kehidupan memasukkan energi spiritual dan seksual yang saling memisahkan dan menjalin satu sama lainnya. Keduanya tercapai dari masa ke masa dengan takdir kematian, sekalipun ditantangnya sebagai prasyarat untuk menerobos dan mewaspadai setiap wilayah pengendalian pengetahuan atau campur tangan kuasa. Lantas, kuasa tidak mengurusi kehidupan karena ia dibumbuhi dan melekat padanya suatu hasrat seksual secara ‘non institusional’ yang membuatnya saling menopang antara satu dengan lainnya. Ia bukanlah untuk menggambarkan, bahwa hanya kehidupan perlu didandani kelebihan melalui tatanan hidup yang menyentuh kuasa melalui tubuh ‘yang terinstitusionalkan’.

Lebih lanjut, kehidupan seksual bukanlah simbol dan tanda, sasaran dan tujuan, melainkan kuasa melalui produktifitas dan afirmasi, sehingga hidup, pengetahuan dan disiplin seksual itu sendiri tidak di pihak norma dan peraturan yang bersifat represif. Pergerakan teknologi baru akan menciptakan jaringan baru tidak begitu penting bagi disiplin seksual; yang dibentuk oleh kuasa melalui tubuh tidak berada pada pihak hukum, pelanggaran, simbol, dan pengakuan.

Karena itu, tubuh menjadi pengantar keintiman dan kenikmatan seksual dalam kehidupan. Pertukaran dan perpindahan kenikmatan bukan disaat pudar atau sekaratnya spiritualitas, lantas begitu saja diarahkan dan diambil-alih dengan wujud seksual. Dalam kehidupan nyata dari wujud sosio-spiritual yang terseksualkan dalam ritus mata rantai produser-kuasa-modal semakin nyata di depan mata membuat energi seksual tidak mengenal usia anak-anak, dewasa atau lanjut usia.

Begitulah yang terjadi, paradoks kehidupan pribadi, keluarga dan jaringan sosial, dimana pelatihan spiritual menanggulangi tindakan pelecehan atau kekerasan seksual yang intensitasnya di hari-hari terakhir semakin nampak biasa-biasa saja. Melubernya kekerasan seksual dan wujud seksual dalam citra virtual begitu sulit diinterupsi yang tergiring dalam citra virtual. Sebaliknya, penyaluran hasrat seksual secara sehat, tepat dan terinstitusionalkan akan mencairkan kekeringan spiritual sebelum dan setelah sekarat dibuatnya. Sasaran dan tujuan kehidupan spiritual tidak dapat dipisahkan hasrat dalam kehidupan seksual selanjutnya. Lain halnya, “Aku” ada dalam “Aku berhasrat seksual”, bukan “Aku ada dalam “Aku berpikir”. Dalam Cogito Cartesian, ada kehidupan yang tidak jauh dari wujud abstrak dari energi spiritual, tetapi pencapaian disiplin, orientasi dan dorongan kehidupan memihak pada jenis kehidupan seksual yang lebih cair dan kreatif. Apabila jenis kehidupan seksual dijauhi dan dikebiri dalam a priori sejarah dan bahasa akan memengaruhi kelangsungan hidup lainnya.

Tibalah pada salah satu gambaran kehidupan yang sederhana, tetapi kompleks dengan apa yang terjadi dalam kegiatan spiritual secara formal memiliki logika tersendiri melalui tubuh seksual dalam kaitannya proses pembersihan, kebersihan dan ritual. Misalnya, bagaimana energi spiritual tersebut mendekati batasan waktu (time frame) untuk menerima kenampakan tubuh seksual yang mengalami proses pembersihan diri berlangsung selama ‘satu kali dalam seminggu’ atau ‘lima kali dalam sehari ritual ibadah’ ditunaikan seseorang atau kelompok orang berada dalam ‘matematisasi waktu’. Selama proses pembersihan diri berlangsung dalam kehidupan spiritual, seseorang melakukan ritual ibadah memerhatikan “matematisasi waktu”, seperti anti-bom waktu yang pada akhirnya berhenti beroperasi akibat ‘sentuhan seksual’. Antara atau selang waktu kegiatan spiritual, mata kita mengarah pada pergerakan waktu secara pasti mengetahui pukul berapa dimulai dan selesai ritualnya. Pergerakan ritual meningkat sesuai dengan berapa lama mekanisme disiplin seksual beroperasi dalam kehidupan.

Hasrat untuk mengetahui petualangan spiritual berarti juga akan mengakhiri kehampaan spiritual. Hanya penyebaran, tetapi titik kelambanan pergerakan revolusi spiritual, dibandingkan pergerakan revolusi seksual dalam kehidupan. Pornografi-cyberporn-sex menjadi anti-revolusi spiritual. Berkenaan dengan pembimbingan spiritual bukan untuk mengendalikan hasrat seksual, melainkan untuk membebaskan ego yang represif dalam kehidupan.

Pengelolaan kehidupan yang terbuka dan beragam, menandakan mekanisme kuasa mengarah pada mode wujud atas kenikmatan spiritual sebagai batas relasi bolak-balik kenikmatan seksual. ‘Wujud tertinggi dari spiritual’ menjadi ‘wujud seksual’. Jika kita masih memercayai pikiran, cobalah kita membayangkan bagaimana unsur spiritual dapat beroperasi dan mencapai tempat tertinggi jika sekiranya tanpa melalui atau ditopang oleh tubuh. Begitu pula unsur seksual tidak berdaya apa-apa tanpa ditopang oleh tubuh dan hingga melintasi permukaan tubuh itu sendiri.

Kita tidak membicarakan lagi sumbu perjuangan spiritual melawan kenajisan. Paling penting dari pertanyaan pokok adalah bagaimana paradoks tetap melekat pada wujud seksual yang (anti) terksualkan dalam kehidupan. “Aku berpikir” telah berakhir sejak seksualitas, kebenaran dan subyektifitas memiliki keterkaitan yang kuat dalam kehidupan bersama yang nyata. Disini, “Aku berhasrat seksual” mengenai bagaimana proses pembersihan diri dari masturbasi atau puberitas bagi anak laki-laki dan perempuan sebagai kondisi penting untuk menjalani ritual ibadah, dalam kehidupan seksual.

Kuasa dalam hasrat seksual secara sehat dan terkendali merupakan bagian dari kehidupan spiritual. Mekanisme disiplin seksual sesuai dengan displin kuasa tidak memiliki suatu produser tertentu untuk menjalankan strategi, tetapi sejauh mana orientasi, dorongan dan motif, sehingga tidak ditemukan kuasa untuk menindas kehidupan seksual dari kelompok usia penduduk tertentu. Kuas juga turut terlibat di luar urusan pribadi seseorang sejauh kehidupan seksual diindahkan sesuai prosedur atau regulasi yang sehat, logis dan produktif bagi kehidupan lainnya. Setiap orang bukan hanya untuk dirinya sendiri sejauh memiliki kuasa untuk mengetahui, kuasa untuk berhasrat seksual. Hasrat seksual yang disiplin sesuai mekanisme atau orientasi kuasa darinya beroperasi sesuai kenormalan, bukan normalisasi, perpindahan dan kelintangan, bukan berdasar perbedaan-perbedaan dari pihak lain. Kuasa dalam hasrat seksual merupakan relasi bolak-balik dari energi abstrak dalam kehidupan, pada satu pihak, kuasa tidak mendiktekannya pada pihak lain secara represif, melainkan secara re-orientatif dalam kehidupan yang lebih waspada dan begitu memikat. Kehidupan seksual lebih dipahami sebagai dorongan dan motif bagi kehidupan lainnya. Ia akan mengalami sesuatu bukan pada oknum yang dicurigai, melainkan perpindahan dan pelibatgandaan energi kehidupan yang lebih baru selama kehidupan bukanlah kuasa tunggal.

*)Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments