Home Berdikari Opini: Quo Vadis Indonesia? 

Opini: Quo Vadis Indonesia? 

0

Opini: Quo Vadis Indonesia?

Oleh: Taufiqurrahman
(Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

MataKita.co, Opini – Buya Syafii Maarif ketika meminjam rumusan Toynbee mengenai tantangan dan jawaban membagi perjalanan sejarah Indonesia dalam tiga lipatan masa, masa pertama disebut periode genesis di mana Indonesia baru tumbuh menjadi sebuah embrio negara, kelahirannya begitu dinantikan dan dijaga meski banyak pihak yang juga bergantian mengancam keberlangsungan perkembangannya, sebagai negara baru dengan segala potensi sumberdaya yang menjadi buah bibir banyak negara dan mampu memekakkan telinga dunia, tak heran jika Belanda kemudian tidak rela melepaskan cengkeraman kuat kukunya dari kerah jubah megah Indonesia yang dahulu pernah mereka kenakan untuk dipamerkan dalam pelancongan mereka ke banyak negara, kegusaran Belanda yang masih mengklaim beberapa daerah bekas jajahannya berbuntut pada meletusnya agresi militer Belanda I setelah sebelumnya Gubernur Jendral H.J. Van Mook menyatakan pihak Belanda tidak lagi terikat dengan perjanjian Linggarjati di mana belanda mengakui secara de facto kemerdekaan Indonesia karena itu pihak Belanda harus meninggalkan wilayah Indonesia paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Kemunculan Indonesia sebagai negara baru ternyata tidak hanya mendapat tantangan dari luar, deretan konflik di beberapa daerah juga mengancam masa depan Indonesia, sebut saja pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 dimotori oleh Muso dan Amir Syarifuddin yang kabarnya kecewa dengan kelemahan pemerintah pusat dalam menghadapi Agresi militer Belanda. Konflik lain misalnya terjadi di Maluku yang berakhir pemberontakan sampai terbentuk Republik Maluku Selatan (RMS) sebagai bentuk protes mereka terhadap realisasi mosi integral Natsir dalam bentuk negara kesatuan yang berarti ajal bagi konsep negara federal, menurut RMS dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia maka negara ini dengan sendirinya akan dikuasai oleh orang Jawa dan mereka yang beragama Islam. Bisa dibayangkan bagaimana bayi Indonesia yang baru diakikahkan diperhadapkan dengan persoalan disintegrasi yang mengancam daya imunitas si bayi bernama Indonesia.

Masa kedua dari lipatan sejarah itu disebut periode growth, yang berlangsung dari tahun 1950-1998, panggung episode ini diwarnai dengan drama panjang antara protagonis dan antagonis, Si protagonis yang berjiwa altruisme dan Si antagonis yang dininabobokan oleh egoisme. Selama 48 tahun altruisme tidak pernah dibiarkan menguasai episode kepemimpinan oleh egoisme feodalistik. Muhammad hatta sebagai arsitek demokrasi Indonesia harus undur diri dari kursi kekuasaan ketika Soekarno dinilainya tidak lagi berkominten membangun jalan pikiran kerakyatan, setelah mundur sebagai Wakil Presiden Muh. Hatta menjadi bulan-bulanan Komunis sementara gerak geriknya diawasi dan dibatasi. Setelah Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh Sutan Syahrir dibubarkan bersamaan dengan pembubaran Masyumi karena tidak mendukung demokrasi terpimpin rancangan Soekarno yang memberikan dia kekuasaan penuh dan total setelah sebelumnya UUDS 1950 mengatur pembatasan geraknya hanya sebagai penguasa simbolik. Kekuasaan penuh yang digenggam Soekarno membuatnya tak ingin berpikir dua kali untuk mengasingkan kawan lama yang dahulu membersamainya merancang rumah Indonesia merdeka, Syahrir dipenjara tanpa ada proses pengadilan yang jelas lalu menemui kematiannya di Swiss pada tahun yang sama di mana Soekarno maratapi kahancuran karier politiknya setelah terjadi inflasi ekonomi menyentuh angka 650%.

Hal serupa dilakukan oleh Soeharto di awal tahun 1970 di mana kran demokrasi dihimpit sehingga publik mengalami dispnea yang menahun, masyarakat disesaki oleh kultrul politik agrasis berwatak feodal jauh dari cita-cita partisipasi dan emansipasi. Soeharto memang pernah jaya dengan pembangunan ekonomi sebagai panglimanya, tercatat pendapatan perkapita masyarakat meningkat pesat, jika pada 1967 pendapatan perkapita hanya US$ 70, menjelang akhir periode 1998 telah mencapai US$ 1.185, tetapi kekuatan ekonomi itu hanya seperti rumah kertas yang begitu rapuh dan terbukti badai krisis Thailand menyambar bangunan ekonomi Indonesia, kepercayaan diri Soeharto membawa Indonesia ke titik nadir, sayangnya rakyat Indonesia bukan pelupa dan pemaaf yang baik sehingga bangunan kekuasaan bapak pembangunan itu diruntuhkan oleh hantaman palu godam rakyat yang terlanjur mengobarkan api dendam, dari episode ini kita paham, ada yang lebih berkuasa dari lingkaran elit dan perangkat konstitusinya, itulah daulat rakyat sebuah jalan pikiran yang dahulu ingin dibangun oleh Hatta, cita-cita itu mengalami proses regenerasi hingga menemukan momentumnya pada 1998 di mana rakyat menggunakan kedaulatannya untuk memberikan jalan bagi tumbuhnya demokrasi.

Episode terakhir dari perjalanan Indonesia adalah disintegration, perpecahan, polarisasi, politik segregasi pasca reformasi, seluruh typologi kejahatan direncanakan dan terkonsolidasi bahkan melibatkan aktor-aktor utama kekuasaan. Keserakahan sentralistik telah menutup mata para elit kita sehingga pancasila mereka tikam dan khianati secara kolektif, cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab telah berubah menjadi kemanusiaan yang zalim dan biadab. Demokrasi dan keadilan bukan lagi seperti sepasang kekasih yang berbagi nafas kehidupan dan saling menanam kebaikan demi menuai keabadian, demokrasi tumbuh dengan kaki yang pincang karena keadilan disandera untuk menopang postur obesitas kekuasaan. Seluruh cita-cita moral dikorbankan demi visi pembangunan penguasa sehingga kita menjadi manusia yang membunuh kemanusiaan demi segelintir manusia

Sejatinya kita belum pernah menjadi bangsa yang besar karena selama setengah abad lebih kita ditimang dalam asuhan egoisme, dendam kesumat, permusuhan dan seluruh watak antagonistik lainnya, kita bisa saja dilempar jauh dari timangan ketika kita rewel dan brisik seperti mereka yang disingkirkan dalam pengasingan. Akan beda jadinya jika kita diasuh dalam kehangatan altruisme, di mana kita semua adalah keluarga dalam rumah besar Indonesia, rumah tempat kita berbagi, satu untuk semua dan semua untuk satu.

Lalu Indonesia ingin kita bawa kemana lagi?

Ingin tetap diasuh oleh kelompok antagonis feodal yang sekuler?

Jika Indonesia terus pada alur yang sama dalam episode ini maka mari menyiapkan tahapan dissolution (kehancuran) saat utang kita terus menumpuk berkali-kali lipat dan tidak ada satu pun elit yang ingin dipersalahkan, saat moralitas diinjak-injak dan tidak dianggap relevan untuk menjadi landasan berbangsa dan bernegara dan pada puncaknya kita tidak lagi merasa memiliki Indonesia, tinggallah Indonesia terkulai dan tergeletak di pinggir jalan raya peradaban global.

Kita masih mempunyai peluang untuk menemukan memimpin alternatif protagonis altruis, yang berjiwa besar demi membesarkan Indonesia dalam kehangatan yang autentik. Lalu siapkah kita mengantar mereka menjadi sutradara dari episode masa depan Indonesia? Indonesia untuk semua dan semua untuk Indonesia!

Facebook Comments
ADVERTISEMENT