Home Mimbar Ide Hoax Virus Konstitusi yang Harus Dimatikan

Hoax Virus Konstitusi yang Harus Dimatikan

0
M. Rusydi Arif

Oleh : M. Rusydi Arif*

Dalam sebuah kontestasi dan pertarungan politik, salah satu langkah dan propaganda jitu untuk menghambat laju pergerakan lawan yang dilakukan secara terstruktur dan massif tapi terselubung adalah dengan cara menyebar berita hoax di media sosial. Penyebaran atau menyebarkan hoax masih dianggap senjata paling efektif dan ampuh untuk membidik dan menghujami jantung pertahanan lawan. Cara klasik ini dengan meng-obrak-abrik lawan, kadamg memang cukup  mengganggu dan bahkan merepotkan Tim Sukses paslon. Blue print (renstra) sebagai panduan pemenangan yang telah dirancang sedemikian rupa oleh seorang paslon bisa saja kocar-kacir dan buyar seketika. Ironisnya, rancangan dan visi misi seorang kandidat yang telah dikaji secara akademik dan faktual oleh paslon bisa saja dianggap sebagai pepesan kosong dan tak memiliki makna apa-apa. Pada titik ini, visi misi paslon diperlakukan sebatas “pelengkap-penderita” untuk memenuhi sebagian syarat dari sekian persyaratan administratif yang digariskan oleh undang-undang pilkada. Inilah konsekuensi logis yang harus ditanggung dan diterima oleh paslon di tengah arus  “pertarungan bebas” tanpa ada garis demarkasi demokrasi, sehingga modus permufakatan jahat yang terorganisir lewat sentuhan tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab itu bisa bebas ke sana kemari menghujamkan anak panahnya.

Dalam oxford english dictionary, hoax didefinisikan sebagai malicious deception atau  kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.  Jadi hoax adalah informasi sesat dan berbahaya, karena menggiring opini yang menyesatkan kepada masyarakat dengan menyampaikan informasi sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran direduksi oleh pihak-pihak tertentu dengan terus menerus membombardir dan memproduksi berita bohong dan fitnah. Disinilah esensi demokrasi kehilangan ruhnya

Cara-cara tidak lazim seperti ini lumrah kita jumpai, di tengah-tengah sengitnya para paslon untuk memperebutkan “legitimasi” electoralnya di depan publik (nitizen). Hal ini pula kita temukan pada Pilwali Kota Makassar. Black campaign, negative campaign sebagai dua terminolpgi dan kata kunci  pembusukan untuk menyasar dan menguliti paslon tertentu, yang ujungnya kemudian mengarah pada pembunuhan karakter (character assassination).

Dan salah satu saluran efektif berselancar ria melakukan penyebaran virus hoax kepada paslon yaitu lewat patform medsos; FB, IG, Youtube, Twitter.  Di lapak fb, group Pilwali Kota Makassar, misalnya, eskalasi postingan  yang tidak kualitatif sangat mudah dijumpai. Sabang hari, tiap detik, tiap menit “tik tok postingan” yang tendensius hadir telanjang di depan nitizen. Berharap adanya determinasi dan wacana sehat yang “fresh” begitu sulitnya kita temukan, ibarat mencari jarum di tengah gundukan pasir. Padahal pilkada sejatinya menjadi kanal pertarungan gagasan, pertarungan narasi yang edukatif dan kualitatif berubah menjadi ajang caci maki kebencian dan pusat penyebaran hoax secara massif dan brutal. Pilkada yang sejatinya adalah “kompas utama” dalam menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi berkeadaban berubah wujud menjadi demokrasi yang tidak berkeadaban.

Dalam konstitusi, kebebasan berpendapat dan berserikat serta berekspresi bagi warga negara dijamin oleh Undang-undang. Bonus kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat penting dimaknai bahwa kebebasan itu tidak kemudian menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan. Sebab, ujung dari sebuah pertarungan politik di semua level pertarungan adalah penegakan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Karena itu, panggung demokrasi yang sesungguhnya adalah soal “etika dan “cara”  menghormati lawan yang berbeda pilihan politik. Perbedaan pilihan politik adalah sunnatullah. Sunnatullah adalah  anugerah yang harus kita junjung tinggi. Di sinilah pentingnya bagi kita menyentuh alam sadar kita atas nama kerukunan (kebinekaan). Mari kita sama-sama rawat  dan giring perbedaan pilihan politik ini pada titik yang sama, bahwa di atas segala-galanya dari arena kontestasi ini adalah untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak.

*) Penulis adalah Alumni Al Azhar Mesirdan Direktur Eksekutif Damai Bangsa Institut

Facebook Comments
ADVERTISEMENT