Beranda Mimbar Ide Menakar Peluang Perempuan di Pilgub Sulbar

Menakar Peluang Perempuan di Pilgub Sulbar

0

Oleh : Rizal Pauzi*

Kemenangan Sutina Suhardi Pilkada Mamuju 2020 merupakan sejarah baru bagi Mamuju dan Sulawesi barat (Sulbar). Selain karena keberhasilannya menumbangkan petahana, juga karena mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama di Mamuju yang menjadi Bupati. Bahkan, menjadi kepala daerah perempuan pertama di Sulawesi Barat. Walaupun pastinya argumentasi yang terkuat menjadi kunci kemenangan pasangan Tina – Ado ini tidak lepas dari king maker, Suhardi Duka yang merupakan ayah dari Sutina itu sendiri. Namun tak bisa dipungkiri pula, bahwa dalam demokrasi modern seperti saat ini aspek gender juga menjadi salah satu variabel yang bepengaruh dalam menentukan pilihan di TPS.

Kemenangan mengejutkan perempuan dalam konstalasi politik di Sulawesi Barat, di Pemilihan Legislatif 2019 lalu. Mantan Gubernur Sulawesi Barat, Anwar Adnan Saleh harus mengakui keunggulan politis perempuan, Ratih Megasari Singkarru dalam perebutan kursi DPR RI di Partai Nasdem. Tentu ini menjadi hal mengejutkan, selain pernah menjabat Gubernur, Anwar Adnan Saleh juga merupakan salah satu tokoh kunci pemekaran Provinsi Sulawesi Barat. Namun realitasnya demikian, perempuan muda ini mampu memenangkannya dan saat ini duduk sebagai anggota DPR RI.

Advertisement

Keunggulan perempuan juga ditunjukkan pada ketua DPRD Provinsi Sulawesi Barat. Dimana 2 ketua terakhirnya adalah perempuan yakni Amalia Fitri Aras dan Suhartina Suhardi yang menjabat saat ini. Sehingga sudah sepatutnya perempuan tak boleh dipandang sebelah mata dalam setiap kontestasi politik di Sulawesi Barat.

Salah satu kontestasi politik yang ada didepan mata saat ini yakni Pemilihan Gubernur Sulawesi Barat. Tentunya semua memiliki ruang yang sama untuk ikut berkontestasi. Dalam analisis penulis setidaknya ada 3 sosok perempuan yang memiliki potensi besar bertarung di Pilgub Sulbar 2020 mendatang. Adapun sosok politisi perempuan tersebut yakni :
Pertama, Andi Ruskati Ali Baal Masdar. Politisi Partai Gerindra yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI ini memiliki peluang besar. Sebagai istri gubernur dan anggota DPR RI, Andi Ruskati patut diperhitungkan, apa lagi dengan kondisi pandemi yang belum mereda ini memungkinkan untuk tak bertarungnya kembali Ali Baal Masdar. Hal ini lantaran informasi terakhir, kondisi kesehatannya kurang memungkinkan untuk bekerja maksimal ditengah pandemi. Dengan begitu, opsi mendorong istrinya sangat terbuka lebar.

Kedua, Amalia Fitri Aras. Sosok ini patut diperhitungkan, selain sebagai peraih suara terbanyak pada Pileg 2019 untuk DPRD Provinsi, Amalia periode sebelumnya menjabat ketua DPRD Sulbar. Sebagai putri Bupati Mamuju Tengah (Aras Tammauni), Amalia memiliki basis suara yang jelas. Keberhasilan mendudukkan saudaranya, Arwan Aras di DPR RI menandakan bahwa simpul politik keluarga ini mengakar di hampir seluruh kabupaten di Sulbar. Peluangnya terbuka lebar, apa bila ayahnya memilih menjadi king maker di pilgub 2022 mendatang.

Ketiga, Rati Megasari Singkarru. Politisi Nasdem ini juga patut di perhitungkan. Selain berhasil mengalahkan mantan gubernur Anwar Adnan Saleh pada pileg lalu. Rumpun keluarganya juga memiliki jejaring politik yang patut diperhitungkan. Selain dirinya ke DPR RI, adiknya Andri Prayoga Putra Singkarru juga mampu lolos sebagai senator DPD RI dapil Sulawesi Barat. Keberhasilan tersebut tak lepas dari jejaring dan simpul akar rumput yang kuat pula.
Kekuatan ketiga perempuan ini patut untuk diperhitungkan dan berpeluang memenangkan pilgub 2022 mendatang. Apa lagi ketiganya mampu membangun sentimen “perempuan pilih perempuan” atau “hanya perempuan mengerti kebutuhan perempuan”. Sebab sejauh ini, model kampanye ini lumayan efektif di Pilkada serentak 2020 lalu. Apa lagi jumlah pemilih perempuan tidak berbeda jauh dengan jumlah pemilih laki – laki. Berdasarkan jumlah DPT yang ditetapkan KPU Sulawesi Barat untuk Pileg 2018 lalu sebanyak 842,005 jiwa yang terdiri dari pemilih Laki-laki sebanyak 422,013 dan Perempuan 419,992 jiwa.

Dari ketiganya, peluang yang lebih besar justru ada pada Amalia Fitri Aras dan Ratih Megasari Singkarru. Sebagai politisi perempuan yang masih muda, tentu masih flexibel apakah akan memilih jadi calon gubernur maupun wakil gubernur. Sehingga polarisasi pasangan dengan figur lama terbuka lebar.

Begitu pun polarisasi Mandar vs Mamuju maupun sebaliknya bisa semakin diretas, sebab semakin modern sistem demokrasi kita, semakin cerdas rakyat memilih. Maka pertimbangan yang paling dominan memilih figur bukan lagi soal identitas primordial, tetapi lebih pada soal kapasitas personal, visi dan misi, keterwakilan gender serta keberpihakan pada rakyat.

Olehnya itu, jika merujuk banyak daerah seperti Walikota Surabaya, Gubernur Jawa Timur maupun Luwu Utara. Pemimpin perempuan berhasil menunjukkan kualitasnya memimpin daerahnya. Sepertinya Sulawesi Barat juga butuh sentuhan sosok perempuan. Saatnya mendorong figur yang tepat untuk Sulbar lebih maju kedepannya.

*)Penulis adalah Direktur Public Policy Network

Facebook Comments
ADVERTISEMENT