Home Berdikari Banjir: Antara Musibah atau Karena Mencari Nafkah?

Banjir: Antara Musibah atau Karena Mencari Nafkah?

0
Muhammad Nur
ADVERTISEMENT

Oleh: Muhammad Nur (Siswa XII MAN 2 Model Mataram, Putra asal Bima)

Matakita.co, Opini – Seperti biasa, banjir merupakan langganan tahunan di sebagian besar wilayah Indonesia. Termasuk kota kelahiran saya sendiri yaitu Kota Bima. Banjir yang disertai longsor menjadi bencana ke-6 yang paling sering terjadi di Indonesia dengan 32 kejadian setiap tahunnya. Ada tiga faktor utama penyebab banjir dan longsor yang paling banyak disoroti, yaitu berkurangnya tutupan pohon, cuaca ekstrim, dan kondisi topografis Daerah Aliran Sungai (DAS). Aspek yang paling disoroti dan menjadi penyebab utama banjir di wilayah Sumbawa khususnya daerah Bima dan Dompu adalah berkurangnya tutupan pohon. Tanpa diberitahu pun, warga Bima dan Dompu sudah mengetahui mengapa berkurangnya tutupan pohon di wilayah Bima? Ya, jawabannya adalah karena hampir sebagian besar hutan, dan pegunungan di Bima telah ditanami hingga berhektar lahan jagung, yang mana pohon-pohon besar dipaksa harus ditebang demi penanaman jagung tersebut. Akibatnya, saat hujan turun apalagi dengan intensitas yang tinggi membuat sebagian daerah Bima dan Dompu terendam oleh banjir. Bukan hanya banjir biasa, tapi banjir bandang yang membawa material kayu dan batu sehingga merusak sebagian fasilitas-fasilitas yang ada.

ADVERTISEMENT

Menurut data peneliti dari University of Maryland (UMD) yang dirilis oleh Global Forest Watch tahun 2019 menyebutkan kebakaran (di hutan) menyebabkan tutupan pohon di Indonesia pada daerah hutan primer tropis lembab telah berkurang. Kebakaran dan termasuk penebangan pohon di hutan yang telah terdegradasi (dijamah) jauh lebih banyak, hanya 6% kebakaran terjadi di hutan yang masih alami (hutan primer). Padahal hutan jenis ini memiliki nilai karbon dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Dan hilang atau gundulnya hutan ini, butuh waktu puluhan tahun atau bahkan ribuan tahun untuk kembali tumbuh menjadi hutan utuh (primer) kembali.

Tahun 2016 menjadi salah satu tahun bencana banjir terbesar di wilayah Bima pada saat itu. Banjir tersebut menyebabkan rusaknya fasilitas umum dan rumah maupun bangunan, menyebabkan banyak masyarakat menderita kerugian material dan terpukul secara psikis sehingga terpaksa mengungsi. Dan setiap tahun, banjir sudah menjadi seperti langganan bencana tahunan di wilayah Bima sampai sekarang. Terakhir, baru-baru ini wilayah Bima dan Dompu, mengawali tahun 2021 dengan bencana banjir. Berbagai pertanyaan pasti terlintas di pikiran kita khususnya bagi warga daerah Bima. Seperti, mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah orang-orang (tidak harus pelakunya dari “elemen masyarakat” saja) yang menanam jagung harus disalahkan dengan bencana ini? Ataukah pemerintah yang kurang sigap dalam menangani bencana ini baik sebelum maupun sesudah bencana? Atau kita sendiri yang hanya bisa menyalahkan sana-sini tanpa menyadari bahwa kita-lah yang menjadi penyebab bencana tersebut?

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat nilai ekspor jagung semester pertama tahun 2018, daerah itu mencapai angka 20,71 juta (USD). Walaupun jagung merupakan komoditas utama ekspor wilayah NTB khususnya wilayah Bima juga Dompu. Pemerintah mesti jangan hanya memikirkan keuntungan dari ekspor tersebut. Akan tetapi melihat sisi lainnya yaitu dampak yang disebabkan dari penanaman jagung tersebut dan sebelum itu juga memikirkan bersama masyarakat jalan alternatif agar dampak negatif penanaman jagung ini bisa diatasi. Dampak tersebut harus benar-benar dicari solusi dan penanganannya agar bencana ini bisa ditanggulangi dan tidak menjadi bencana tahunan terus-menerus terjadi di wilayah Sumbawa khususnya Bima dan Dompu.

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, Ph. D. atau biasa akrab disapa Bang Zul dalam kunjungannya di Dompu (9/1/2021) menegur masyarakat yang menggunduli hutan dan hulu sungai sehingga banyak menyebabkan banjir dan disebutnya akan menegur pembeli-pembeli jagung dari lahan negara tersebut, tak lupa mengancam izinnya akan dicabut. Mari kita jernih dan merendahkan hati sama-sama. Kita “tidak bisa sepenuhnya” menyalahkan warga karena menanam jagung. Karena di satu sisi, itu merupakan cara mereka untuk membiayai sekolah anak-anaknya, kebutuhan sehari-hari, dan sudah jadi semacam skema untuk dapat bertahan hidup. Oleh karena itu mereka tetap menanam jagung, walau mengetahui dampak yang akan terjadi dan himbauan demi himbauan pemerintah tak pernah efektif untuk diikuti. Nah, ini menjadi masalah serius yang harus diatasi oleh pemerintah yang sedang menjabat pada saat ini. Negara melalui pemerintah mesti selalu hadir untuk sama-sama menfasilitasi cara-cara efektif bersama masyarakat. Kita juga tidak bisa melepas masalah ini kepada pemerintah dan seolah tak bertanggung jawab atas bencana ini. Kita semua harus introspeksi diri dan bekerja sama dalam menangani hal ini. Elemen masyarakat dan pemerintah harus bersatu dan tak perlu melulu saling adu mulut kiri kanan tanpa ujung, alih-alih mencari solusi untuk masalah ini. Banyak yang berkata, bahwa usaha mencari solusi agar tak menggunduli gunung bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi kemudian jika kita mengeluh dan memutuskan menyerah, maka untuk apa tujuan kita hidup berbangsa dan punya kekayaan SDA ini yang justru membawa malapetaka?

Setelah banjir demi banjir yang terjadi, kita melihat diri kita. Salah satu hal kecil yang sangat penting dalam upaya menjaga lingkungan, yang selalu kita remehkan seperti sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Hal kecil ini sekilas remeh tapi sesungguhnya berdampak besar bagi kehidupan dan lingkungan kita. Setidaknya kita mulai dari kita sendiri untuk saat ini, sembari berdoa dan berharap agar bencana ini tidak terjadi lagi. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin

Facebook Comments
ADVERTISEMENT