Home Hukum Terorisme Musuh Bersama

Terorisme Musuh Bersama

0
Dr. Syarif Saddam Rivanie, SH., MH
ADVERTISEMENT

Oleh : Dr. Syarif Saddam Rivanie, SH., MH*

Istilah terorisme mulai digunakan pada akhir abad ke-18, yaitu untuk menunjukkan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan pemerintah guna menjamin ketaatan rakyat. Akan tetapi makna terorisme mulai bergeser. Secara etimologi kata ‘terror’ berasal dari bahasa latin ‘terrere’ yg dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam kata ‘to fright’ yang artinya ‘menakutkan’ atau ‘mengerikan’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terorisme diartikan sebagai usaha untuk menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman seseorang atau golongan tertentu.

Peristiwa terorisme yang terjadi kemarin di Gereja Katedral Makassar (28 Maret 2021) sangat disesalkan dan tidak dapat dibenarkan serta dapat menodai nilai – nilai toleransi antar umat beragama. Peristiwa terorisme yg slama ini terjadi sering dilatar belakangi dengan alasan motif jihad. Motif jihad yg dipahami oleh mereka (pelaku teror) adalah motif dengan cara melakukan bom bunuh diri atau membunuh orang lain baik itu yang seagama maupun yang tidak seagama.. dengan cara melakukan bom bunuh diri maka ia akan masuk surga. Tentunya pemikiran adalah pemikiran sesat.

Advertisemen

kejahatan terorisme yang dilakukan selama ini kepada saudara kita non Muslim tentu juga menodai nilai – nilai toleransi yang selama ini terbangun di negara kita .. dalam HR Bukhari berbunyi ‘barang siapa yg membunuh kaum kafir  mu’ahad maka ia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu tercium dari perjalanan 40 tahun’ (HR Bukhari no.3166).

Jenis – jenis Kafir dibagi 2, yaitu kafir dZimmi dan kafir harbi . Kafir dzimmi diartikan sebagai kaum kafir yang mengikuti, menaati, dan membantu pemerintah. Dalam arti tidak menganggu dan tidak membuat keonaran dibawah naungan pemerintah Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda ‘barang siapa yg menganggu kaum kafir dzimmi maka ia akan menjadi musuhku diakhir kiamat’ naudzubillah min dzalik.

Selama ini mereka (pelaku teror) hanya mengartikan ayat – ayat Al Quran secara setengah – sentengah terutama makna dari  jihad itu sendiri. Padahal jihad itu dapat diartikan dengan berbagai macam makna, jihad jika dimaknai dalam arti positif dapat berupa belajar bekerja. Sehingga Menurut penulis, pemerintah perlu mengambil langkah tegas dan terukur agar kejahatan terorisme ini dapat dicegah. Langkah represif yang dilakukan oleh pemerintah saat ini tidak cukup untk memberantas terorisme. karena selama ini bagi pelaku terorisme dia memiliki pemikiram khusus yang tentunya tidak hanya langkah represif dijalankan tetapi juga perlu dipikirkan bentuk pencegahan lain. Sehingga penulis menawarkan Program Deradikalisasi yang nantinya wajib dijalankan bagi pelaku terorisme untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi pemikiran pemikiran radikalnya yg selama ini dianutnya.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

Facebook Comments
ADVERTISEMENT