Home Literasi HARI BUKU NASIONAL

HARI BUKU NASIONAL

0
Advertisement

Oleh: Anfas (Direktur UT Majene)

_“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”_
(Bung Hatta)

Dua hari lalu, 17 Mei kita peringati sebagai Hari Buku Nasional. Atas ide Menteri Pendidikan Abdul Malik Fajar pada 2002, hari Buku Nasional tersebut kemudian diperingati hingga kini.

Tanggal 17 Mei juga bertepatan dengan pendirian gedung Perpustakaan Nasional, sehingga kita peringati juga sebagai hari Perpustakaan Nasional.

Sebagai akademisi, tanggal 17 Mei merupakan tanggal yang sangat sakral. Sebab dapat dijadikan sebagai momentum untuk mengevaluasi sejauhmana kecintaan kita terhadap buku, sebagaimana diungkapkan oleh Bung Hatta yang saya kutip di awal tulisan ini.

Saya pun jadi teringat tentang kisah kakak beradik yang merupakan senior saya saat kuliah di Ambon (1995-1999), tentang bagaimana cintanya mereka terhadap buku. Namanya Herman Oesman (biasa disapa Abang Her) dan Sarifuddin Usman (biasa disapa Abang Ipink). Di kos-kosan mereka yang berukuran 3×4 meter, penuh sesak dengan berbagai macam jenis buku, tersusun hingga menyentuh plafon. Selain buku, yang ada hanya kasur ukuran satu badan untuk mereka tiduri, serta Lemari Kain Portable ukurang kecil untuk pakaian mereka yang hanya beberapa lembar.

Saat berada di kos-kosan mereka, serasa kita di perpustakaan. Maka tak heran banyak aktivis mahasiswa yang sering datang dan membuat acara membedah buku.

Saat kerusuhan Ambon 1999, kami banyak yang lari mengungsi dengan menyelamatkan pakaian, tivi, komputer dan barang “mewah” lainnya, namun justru lupa menyelamatkan buku-buku kami.

Sementara abang Her dan Ipink justru sebaliknya. Saat mengungsi, tak ada baju yang dibawa selain yang ada di badan mereka. Satu-satunya harta yang diselamatkan adalah buku. Semuanya diselamatkan untuk dibawah pulang ke Ternate.

Kini mereka berdua telah menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU). Kecintaan mereka terhadap buku semakin “menggila”. Buku apa saja pasti menarik minat mereka. Sering kali di sosial medianya, abang Ipink memposting buku-bukunya yang baru saja dibeli, membuat hati ini menjadi malu, karena seberapa pun kemampuan literasi saya, belum ada apa-apanya dibandingkan dengannya.

Dalam buku Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi yang dikeluarkan oleh Kemendikbud tahun 2019, kemampuan literasi kita memang masih termasuk kategori rendah. Hasil survei yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional tahun 2015 di 28 Kabupaten/Kota di 11 Provinsi terhadap aktivitas masyarakat di waktu luangnya, menunjukkan bahwa hanya 35% responden yang menyatakatan mengisi waktu luangnya dengan membaca. Sementara sisanya 65% lebih banyak mengisi waktu luang dengan menonton TV, bermain game dan sosmed di HP atau komputer.

Lantas bagimana dengan Indeks Aktivitas Literasi masyarakat Sulbar? sesuai laporan dalam buku Kemendikbud di atas, Indeks Aktivitas Literasi masyarakat Sulbar baru 32,92 atau masuk kategori rendah. Sulbar berada di urutan 27 dari 34 provinsi di Indonesia. Kondisi ini tentunya butuh perhatian Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten, jika ingin daerah ini maju. Terutama peran Perpustakaan Daerah, setiap saat harus berinovasi dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat.

Di Facebook (FB), saya lihat bagaimana hebatnya beberapa komunitas literasi dalam upayanya menarik minat masyarakat membaca. Laksana oase, mereka mampu menghadirkan iklim akademik yang serius tapi santai di FB.

Saya pun bergabung di beberapa grup literasi tersebut. Diantaranya grup Gapokja yang anggotanya adalah mahasiswa hukum. Konten-konten FB mereka banyak menampilkan kutipan-kutipan istilah hukum, sehingga sangat membantu saya yang bukan berlatar belakang pendidikan hukum, menjadi mudah memahaminya.

Ada juga Grup Sejarah Indonesia yang berisikan para sarjana dan pencinta sejarah yang sering mengupas dan berdiskusi tentang sejarah, baik sejarah dunia, nasional maupun daerah, sehingga dapat menambah wawasan saya tentang sejarah.

Mungkin Perpustakaan Daerah perlu mencontoh para penggiat literasi di atas dalam mengembangkan inovasi melalui medsos sehingga mampu mendekatkan Perpustakaan dengan masyarakat. Sebab harus kita akui saat ini 10 juta lebih penduduk Indonesia adalah pengguna medsos aktif. Jangan biarkan mereka hanya memanfaatkan medsos hanya sebagai hiburan, namun penting pula disuguhkan konten-konten edukasi.

Selain itu taman-taman baca juga penting dikembangkan, terutama di taman-taman yang ada di pusat kota maupun di kantor-kantor desa. Sebab sampai saat ini saya belum pernah melihat taman baca yang dikembangkan oleh Perpustakaan Daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten. Penyelenggaraan kegiatan yang berkaitan dengan literasi pun belum pernah saya liat. Mungkin saya yang kurang mengikuti perkembangan atau boleh jadi karena saat ini masih adanya pembatasan berkumpul, menyebabkan belum diselenggarakannya. Namun saya tetap berharap ada inovasi yang tak henti-henti dilakukan oleh Perpustakaan Daerah, dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi masyarakat Sulbar. Semoga (***).

*Tulisan ini telah diterbutkan di Radar Sulbar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT