Home Literasi Laraku pada Tahun yang Silam

Laraku pada Tahun yang Silam

0
Muh. Sya'banudin
Advertisement

Oleh : Muh. Sya’banudin*

Kulipatkan satu tangan menopang dagu.
Dagu yang awalnya menjadi sandaran kegelisahan tuk mengkhayalkan sebuah rindu dengan sayapnya.
Berawal dari kenangan yang telah terbentuk dari tahun yang silam.
Dijadikannya rindu yang teramat menyiksa sang jiwa.

Ku tak tahu apakah rindu ini tertuju pada seseorang di ujung senja seberang.
Dari cahayanya yang awal samar-samar, sekilas melintas namun perlahan menghampiri dengan hembusan angin laut yang semilir. Memutar rekaman kaset gambaran tahun yang silam.
Kenangan. kenangan. Kenangan demi kenangan, kembali muncul seakan membawa pesan dari tahun yang silam.

Teringat lentikan jari jemari sang pecandu rindu.
Membawa luka lama yang telah terbungkus rapi dengan selimut buku kenangan tahunan.
Di sela-sela senja aku melihat gambar diri muncul bersama seorang gadis berparas ayu.
Seorang gadis yang dahulu sebagai pemilik hati. Pemecah bekunya momen duka yang menderu, mengisi lintasan masa lalu.

Kenangan yang hadir waktu itu seakan membuatku hanyut dan larut dalam bayang-bayang dari tahun yang silam semu.
Membuatku terbayang-bayang akan wajahnya yang telah usang.
Apakah ini pertanda ku merindu?
Apakah kenangan-kenangan itu berhasil memperdaya, pikirku?

Aku kembalikan rindu ini pada sang waktu.
Pada dirimu sang pecandu rindu.
Pada dirimu sang pemilik hari.
Pada dirimu sang pemilik kenangan.
Sebab aku tak bisa mengobati kerinduan yang menggangu.
Tolong. Tolonglah.

Tolong terima kembali laramu yang kau tancapkan dengan paku pengharapan di palung jiwaku yang terus membeku. Dan janji-janji kau dan aku, yang tidak bisa bersatu.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNISMUH Makassar, Ketua Umum Kesatuan Mahasiswa Kota Bima (KMKB)-Makassar Periode 2020-2021

Facebook Comments
ADVERTISEMENT