Beranda Mimbar Ide Kemerdekaan dan Lorong Waktunya

Kemerdekaan dan Lorong Waktunya

0
Taufik Hidayat
Taufik Hidayat

Oleh: Taufik Hidayat*

Kemerdekaan adalah pusaka yang dititipkan kepada anak-anak ibu pertiwi yang harus dijaga dan dirawat. Jika kemerdekaan itu hanya dituliskan atau pun diucapkan maka sangatlah mudah, namun tak semudah itu, ternyata kemerdekaan menuntut darah, penderitaan, dan pengorbanan. Karena harga kemerdekaan itu begitu mahal, maka para pendiri bangsa kita tak pernah main-main dalam mengurus negara dan merawat kemerdekaan. Sidang-sidang di parlemen kala itu penuh debat akademik dan gagasan, bukan tidur dalam sidang atau hanya menghabiskan uang rakyat untuk reses atau sosialisi undang-undang yang tak jelas arahnya. Pendiri bangsa kita merasakan pedihnya penjajahan dan mereka tak mau anak dan cucunya juga merasakan demikian.

Membaca kemerdekaan lebih dalam, kita akan dipertemukan bahwa kemerdekaan itu bukan hanya terbebas dari penjajah yang menggorogoti ibu pertiwi. Namun kemerdekan yang berasal dari kata dasar merdeka, kemudian ditafsirkan secara etimologi berasal dari bahasa sansekerta yakni “mahardhika”, yang berarti sakral, bijak atau terpelajar, menuru Yudi Latif ketika kata tersebut diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi), kata itu digunakan untuk merujuk pada orang terpelajar atau bhikkhu Buddha, yakni orang yang memiliki status sosial istimewa. Maka kemerdekaan itu hakikatnya tak hanya sampai pada Proklamasi 17 Agustus 1945 yang saat itu dilangsungkan di sebuah rumah sederha hibah dari Faradj Martak di Jalan Pegangsaan Timur oleh Soekarno dan Hatta yang mewakil bangsa Indonesia. Proklamsi itu adalah episode awal memulai jalan panjang mengisi kemerdekaan, disanalah dasar-dasar bernegara mulai dirumuskan dengan sederhna namun penuh ketulusan demi bangsa dan negara. Namun kemerdekaan itu proses mencerdasakan dan ikhtiar kehidupan warga negara yang lebih terhormat dan terpelajar.

Napas kemerdekaan dimaknai sebagai proses mencerdaskan demi menghadirkan warga negara yang terpelajar sesuai makna dari merdeka. Proses mencerdaskan ini termaktub dalam Pembukaan UUD NRI 1945 yang kemudian diatur pada materi muatan konstitusi dengan memberikan hak kepada setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Maka negara harus hadir dalam proses pencerdasan itu dengan menghadirkan pendidikan yang dapat diakses oleh setia warga negara secara setara dan mendukung setiap upaya yang dilakukan oleh warga negara untuk memajukan pendidikan. Maka nalar konstitusi adalah mencerdaskan warga negara, bukan mengekang atau pun untuk menakuti warga negara.

Kemerdekaan adalah optimisme kolektif bangsa, pertemuan antara kesabaran ratusan tahun dan cita-cita besar rakyat indonesia bahwa kemerdekaan jembatan emas untuk Indonesia yang dicita-citakan. Bung Karno menyampaikan, “Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-soal; tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal.” Dengan merdeka setiap anak ibu pertiwi, setiap jengkal tanah Indonesia, digunakan untuk kesejahteraan warga negara.

Jangan pernah hianati para leluhur bangsa yang telah berjuang untuk anak dan cucunya, mereka yakin dengan kemerdekaan kehidupan generasinya semakin lebih baik, leluhur kita meninggalan pesan moral kebangsaan perjuangan mereka membuktikan kesetiannya pada ibu pertiwi, “jangan menjadi penghianat bangsa”, kata bung karno “lebih baik makan geplek tetap merdeka, daripada makan bistik tapi budak”, bangsa kita adalah bangsa pejuang bukan mental penghianat, namun mengapa ada penghianat dan siapakah penghianat bangsa itu? Mereka yang korupsi, suap menyuap, menyalahgunakan jabatan dan kewenagannya demi kepentingan pribadinya, mereka yang membuat Undang-Undang yang membuat rakyat kecil semakin sengsara, mereka yang tak serius mengurus negara, merekalah para penghianat bangsa.

Momentum kemerdekaan ini menjadi waktu merefleksikan jiwa nasionallisme kita, marajut persatuan dan kebhinekaan. Selamat hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-77. Pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Merdeka.

*) Penulis adalah Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin

Facebook Comments
ADVERTISEMENT