Matakita.co, Jakarta – MAARIF Institute menutup rangkaian Bulan Buya Syafii Maarif 2026 melalui penyelenggaraan Malam Budaya dan peluncuran buku di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menjadi penutup dari serangkaian agenda yang sebelumnya digelar di Yogyakarta dan Padang Panjang untuk mengenang serta merawat warisan pemikiran dan keteladanan moral Ahmad Syafii Maarif.
Acara yang berlangsung di ruang Teater Museum Nasional tersebut diawali dengan penampilan Tari Nandak Ajer khas Betawi yang dibawakan siswa SMA Muhammadiyah 4 Depok. Sejumlah tokoh nasional, keluarga, kolega, serta para sahabat Buya Syafii turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Andar Nubowo, Ph.D., mengatakan bahwa peringatan Bulan Buya Syafii Maarif merupakan upaya menjaga agar gagasan dan nilai-nilai yang diwariskan Guru Bangsa itu tetap hidup di tengah berbagai tantangan kebangsaan.
“Penting bagi kita untuk menjaga nilai-nilai Buya Syafii Maarif, yakni sikap progresif, penghargaan terhadap pluralisme, dan kemanusiaan yang universal,” ujar Andar.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., menegaskan bahwa peringatan Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif bukan dimaksudkan untuk mengkultuskan sosok Buya, melainkan menghadirkan inspirasi dari perjalanan hidupnya.
“Seorang tokoh tidak hanya dilihat dari kedalaman pemikirannya, tetapi juga dari tata laku dan perilakunya,” kata Fajar.
Dalam kesempatan tersebut, MAARIF Institute juga meluncurkan buku berjudul Buya Syafii di Mata Orang Biasa. Buku tersebut berisi kumpulan kenangan dan kesaksian dari berbagai orang yang pernah berinteraksi dengan Buya Syafii di sejumlah daerah, mulai dari Sumpur Kudus, Jakarta, hingga Yogyakarta.
Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan replika buku secara simbolis oleh perwakilan keluarga, para kontributor, serta sejumlah kolega Buya Syafii. Buku tersebut kemudian diserahkan kepada sejumlah tamu undangan.
Puncak acara ditandai dengan penyampaian Pidato Kebudayaan oleh Menteri Kebudayaan, Prof. (HC) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc. Menurut Fadli, Ahmad Syafii Maarif merupakan sosok yang memiliki kesederhanaan serta keselarasan antara pikiran dan tindakan.
“Pak Syafii sangat menghormati budaya dan bangsanya. Keteladanan dan pemikirannya terus dirawat oleh MAARIF Institute untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan,” ujar Fadli.
Ia juga mengingatkan pentingnya amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional. Menurutnya, keragaman budaya Indonesia merupakan aset besar yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Kekayaan budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, harus kita rawat dan catat sebagai bagian dari identitas bangsa,” katanya.
Suasana reflektif semakin terasa melalui pembacaan puisi oleh David Krisna Alka dan testimoni sejumlah tamu undangan yang membagikan kenangan mereka bersama Buya Syafii Maarif. Rangkaian tersebut menjadi penutup peringatan Bulan Buya Syafii Maarif 2026 sekaligus penegasan komitmen MAARIF Institute untuk terus menjaga api pemikiran dan keteladanan Sang Guru Bangsa.






































