Beranda Kampus Melucuti Kebebasan

Melucuti Kebebasan

0
Fajlurrahman Jurdi* Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin
Fajlurrahman Jurdi* Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

Oleh: Fajlurrahman Jurdi*

Demokrasi makin diuji, kebebasan kian rumit, suara-suara berbeda menjadi sumbang, dan nyanyian oposisi dibalas narasi tak substansial. (Adillah, 2021; Herdiansyah, 2025). Produksi dan reproduksi diskursus saling berburu antara kekuasaan dan mereka yang berseberangan dengannya. Mereka mencari ruang untuk tumbuh dan diyakini oleh publik secara bersama-sama. Kekuasaan memburu legitimasi atas seluruh preferensi kebijakannya, sementara oposisi ingin didengarkan sebagai pihak yang ingin memberi kontribusi bagi republik.

Padahal kata Agus Sjafari (Kompas, 2024) oposisi penting bagi kekuasaan, meskipun belakangan, oposisi mengalami paradoks. Dualitas entitas yang saling menegasikan dalam demokrasi, padahal sejatinya, oposisi dan kekuasaan adalah seperti sekeping mata uang yang sama. Tak dapat dipisahkan, tak bisa dibuat menjadi oposisi biner, “Kau dan Aku”, atau “kita dan mereka”.

Pemilahan secara oposisi biner akan menyebabkan kekacauan politik dan huru-hara demokrasi, tak tertutup kemungkinan bisa memicu anarki, Sebab membelah dua entitas yang saling membutuhkan dalam demokrasi adalah sama dengan mencipkan musuh dalam tubuh politik.

Jika kekuasaan terlalu kuat mengontrol opososi, akan melahirkan otoritarianisme, sebaliknya, jika kekuasaan lemah terhadap oposisi dan melakukan pembiaran, maka akan terjadi anarki. Cornelis Lay (2004) jauh-jauh hari sudah mengingatkan tentang ini, bahwa untuk menciptakan demokrasi yang stabil, dibutuhkan institusi demokrasi yang kuat, supremasi hukum, dan mekanisme kontrol yang efektif. Tetapi Lay juga tidak lupa, bahwa oposisi yang efektif dan tepat serta partisipasi warga menjadi penentu keberhasilan demokrasi. Untuk itu, kekuasaan dan oposisi merupakan dua entitas yang akan terus tumbuh bersama.

Belakangan ini, dua hal ini berjalan tidak seimbang. Bagaimanapun, kekuasaan makin hari sulit mencerna kritik dan argumentasi oposisi. Yang rumit adalah saat mereka melakukan “serangan” balik, baik secara verbal dengan “ancaman” maupun tindakan secara fisik yang melukai. Alih-alih keduanya tumbuh bersama untuk menjaga demokrasi, justru saling mencakar untuk memburu legitimasi masing-masing.

Karena itu, kebebasan yang mestinya menjadi sumbu utama untuk terus menyalakan demokrasi, ditiup oleh badai kekuasaan hingga redup. Redup dan terangnya cahaya kebebasan ditentukan oleh bagaimana kekuasaan meletakkan oposisi pada arenanya yang tepat, sementara oposisi bertindak pada batas hukum yang ditetapkan. Sebab jika tidak, kita akan terus saling mencakar dan demokrasi akan selalu terancam.

Di tengah huru-hara politik, kebijakan yang kian mencekik, lapangan kerja makin tak terjangkau, pertukaran dollar yang tidak stabil, kekuasaan kehilangan kepercayaan, sehingga oposisi hadir untuk menyeimbangkan. Jika kekuasaan tuli, ancaman regresi demokrasi tak bisa dihindari, dan anarki akan menjadi hantu yang terus menakutkan. Kritik dan Kemarahan oposisi yang datang bagai banjir bah diberbagai kota, bukan tanpa sebab. Mereka datang karena kekuasaan kehilangan trust, padahal kepercayaan adalah salah satu pilar yang paling substantif untuk merawat demokrasi.

Kini kekuasaan tidak perlu berbalas pantun, mereproduksi diskursus yang terkesan anti kritik. Juru-bicara pemerintah harus orang-orang yang memahami diksi politik yang tenang, tegas dan terukur. Tidak asal ceplas-ceplos. Sebab ia berbicara atas nama kekuasaan, representasi atas banyak hal yang ia sendiri tidak duga sebelum ia ucapkan kata-katanya. Kalimat yang ia hamburkan bukan untuk sekedar menjawab pertanyaan, tetapi juga menenangkan dan memberi rasa aman, merangkul dan memberi solusi. Mereka yang dikarbit karena kepentingan politik, sebaiknya mengurangi bicara di depan publik, sebab untuk berbicara mewakili kekuasaan, perlu kemampuan intelektual yang holistik.

Agar kebebasan tidak dilucuti oleh arogansi kekuasaan, dan publik tidak perlu terus-menerus berteriak di jalanan yang menyebabkan kekuasaan juga terus terganggu, maka perbaiki kebijakan publiknya, tata ulang program yang tidak dibutuhkan, hentikan ternak mereka yang menghamba dan membela kekuasaan tanpa reserve, sebab itulah biang kerok kekacauan politik. Para juru bicara tidak perlu show power, seolah-olah paling pintar dan paling tau segala hal. Kalian adalah sumbu kekacauan yang sebenarnya.

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin

Facebook Comments Box