MataKita.co, Makassar — Karya dua perupa, Amrullah Syam dan almarhum Ahmad Anzul, dipertemukan dalam pameran seni rupa bertajuk “Kampung Garam dalam Siklus Tradisi” di Warkop Indonesia, Jalan Anggrek Raya, Panakkukang, Makassar, Senin (19/10/2026).
Pameran yang merupakan bagian dari program “Spirit Leang-Leang – Napas Panjang Perjalanan Seni Rupa Makassar #3” ini mengangkat hubungan antara seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Melalui karya bertajuk “Tafsir Tradisi” milik Amrullah Syam dan “Kampung Garam” karya Ahmad Anzul, pengunjung diajak memahami bagaimana pengalaman hidup, lingkungan sosial, dan kebudayaan menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni.
Karya Amrullah Syam menghadirkan pembacaan tradisi melalui pendekatan filosofis dan simbolik. Sementara itu, karya Ahmad Anzul menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir melalui pengalaman personal dan ingatan masa kecilnya.
Karya “Kampung Garam” sebelumnya juga menjadi bagian dari pembacaan seni rupa dalam Makassar Biennale 2017. Berdasarkan catatan art.e.fact, Anzul mengolah pengalaman masa kecil dan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir menjadi karya yang menempatkan garam sebagai material sekaligus simbol perjalanan hidup.
Dalam pameran ini, proses produksi garam, mulai dari penguapan air laut, kristalisasi, hingga panen, dimaknai sebagai metafora proses kreatif seorang seniman. Pengalaman hidup yang terus mengendap kemudian diolah melalui perenungan hingga menghasilkan karya visual.
Selain menampilkan karya seni, kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membicarakan hubungan manusia dengan tradisi, lingkungan, dan kebudayaan maritim yang berkembang di Sulawesi Selatan.
Pameran tersebut menghadirkan lukisan, gambar, serta dokumentasi visual karya kedua perupa. Diskusi seni rupa juga digelar melalui pendekatan Tudang Sipulung, yakni ruang percakapan bersama yang membahas karya seni dari perspektif seni rupa, sosiologi, antropologi, dan kebudayaan maritim.
Ketua sekaligus Penanggung Jawab Program Spirit Leang-Leang, Wahyuddin Yunus, mengoordinasikan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pameran, tetapi juga pendokumentasian karya dan pemikiran para perupa Makassar.
Hasil dokumentasi dan diskusi tersebut direncanakan menjadi bagian dari penyusunan buku Spirit Leang-Leang sebagai upaya mengarsipkan perjalanan dan perkembangan seni rupa Makassar.
Pemilihan warung kopi sebagai lokasi kegiatan juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan seni rupa lebih dekat dengan masyarakat. Ruang tersebut diharapkan dapat mempertemukan seniman, akademisi, budayawan, komunitas, dan masyarakat dalam suasana terbuka.
Melalui kegiatan ini, Spirit Leang-Leang berupaya memperkuat kesadaran terhadap pentingnya pelestarian tradisi serta pendokumentasian sejarah seni rupa lokal, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris dan maritim.
Pameran dan diskusi yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.30 WITA tersebut terbuka bagi masyarakat umum, pegiat seni, akademisi, budayawan, serta komunitas pemerhati lingkungan dan kebudayaan.








































