MataKita.co, Makassar – Pemerintah Sulawesi Selatan, pada akhir 2016 lalu jika menargetkan pertumbuhan ekonomi sulsel pada 2017 sebesar 8,1 persen. Saat itu, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menarget indeks pembangunan manusia sebesar 6,9-7 persen dan gini ratio 0,4 persen pada 2017.
Target pertumbuhan ekonomi Sulsel di kisaran 8 persen di tahun 2017 dinilai sulit untuk diwujudkan di tengah kondisi perekonomian Sulsel yang tidak didukung oleh infrastruktur dan berbagai faktor pendukung lainnya.
Ekonom Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Anas Iswanto Anwar mengungkapkan, target pemerintah Sulsel tersebut sulit untuk terwujud. Pasalnya, syarat dan proses untuk mencapai angka itu cukup berat.
“Seperti dibutuhkan industri, infrastruktur yang memadai dan lainnya. sementara untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan dana yang cukup besar,” katanya, Senin (5/6/2017).
Namun, menurut Ketua Program Studi (KPS) Pascasarjana Ekonomi Sumber Daya (ESD) Universitas Hasanuddin ini mengungkapkan, persoalan ekonomi di Sulsel sebenarnya bukan pada angka pertumbuhannya.
Yang penting, kata Anas adalah bagaimana masyarakat Sulsel bisa menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi dengan angka tidak manfaat jika faktanya sebagian besar masyarakat di Sulsel masih berada di bawah garis kemiskinan,” ungkapnya.
Ia membeberkan, jika saat ini angka gini ratio sesuai data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan ketimpangan baik secara nasional, termasuk di Sulsel yang cukup tinggi.
“Padahal, jika dicermati, masih ada beberapa sumber ekonomi yang belum dioptimalkan. Kegiatan perdagangan ekspor misalnya. Ekspor Sulsel ke daerah di tanah air relatif lebih kecil dibandingkan impor Sulsel dari daerah lain yang jauh lebih besar,” bebernya.
Anas juga mengungkapkan, seperti informasi yang disampaikan oleh Kepala BI Wilayah Sulsel, Wiwiek jika rupanya ekspor ke daerah kita lebih kecil dari impor dari daerah lain.
“Ini aneh karena katanya Sulsel swasembada tapi data BI menunjukkan barang-barang dari daerah lain di tanah air lebih banyak yang masuk ke Sulsel,” ujarnya.
Artinya, lanjut Anas, Sulsel harus mengoptimalkan potensi ekspor tapi dalam bentuk produk olahan atau produk jadi.
“bukan bahan mentah sehingga memiliki nilai tambah,” bebernya.
Namun, hal tersebut bisa terwujud jika daerah ini memiliki industri.
“Makanya saya bilang tidak mudah tumbuh 8 persen. Anggaran pemerintah terbatas jadi harus hadirkan investor. Pertanyaannya, mauka investor ke Sulsel?,” tegasnya.
BPS Sulsel pada awal Mei 2017 lalu merilis, jika pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan triwulan I-2017 terhadap triwulan I-2016 tumbuh 7,52 persen (y-on-y). Meski tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, tetapi data tersebut menunjukkan ada peningkatan dibanding periode yang sama pada tahun 2016 sebesar 7,27 persen.








































