Oleh : Asratillah
(Direktur Profetik Institute)
Filsafat dan Kekuasaan
Setelah membaca dua esai Slavoj Žižek yakni Iran From Heidegger to Kant (2026) dan Trump as a Reader of Lacan (2026), saya merasa seperti sedang berdiri di dua titik geografis yang jauh tapi dalam hal tertentu saling beresonansi. Yang satu berbicara tentang Iran sebagai formasi kekuasaan yang sarat refleksi filosofis, yang lain tentang Donald Trump sebagai figur politik yang tampak anti-intelektual. Namun semakin saya membaca, semakin tampak bahwa keduanya bukan anomali, melainkan gejala dari krisis yang sama.
Krisis itu hadir dalam konflik militer yang terus membesar antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sejak awal 2026, serangan udara besar-besaran telah menghantam berbagai fasilitas di Iran, memicu eskalasi yang meluas ke kawasan Timur Tengah. Iran merespons dengan serangan balasan, menciptakan lingkaran kekerasan yang sulit dihentikan. Dampaknya tidak hanya militer, tetapi juga ekonomi global, terutama melalui gangguan distribusi energi. Dalam situasi ini, saya merasa penting untuk menegaskan posisi etis yang tidak populer tetapi mendasar. Menolak agresi militer sepihak bukan berarti membela rezim Iran. Ini adalah penolakan terhadap logika bahwa kekerasan dapat menjadi instrumen legitim dalam politik global.
Žižek dalam Iran From Heidegger to Kant menolak jebakan moralistik semacam itu. Ia menunjukkan bahwa Iran tak bisa dipahami hanya sebagai rezim represif yang anti-modern. Justru sebaliknya, kekuasaan di sana beroperasi melalui internalisasi tradisi filsafat yang kompleks. Pengaruh Martin Heidegger hadir secara signifikan melalui pemikiran Ahmad Fardid. Dalam karya-karya dan kuliah-kuliahnya yang kemudian dihimpun dalam Westoxication and the Crisis of Identity (1980), Fardid mengadaptasi kritik Heidegger terhadap metafisika Barat untuk menyerang modernitas sebagai bentuk keterasingan ontologis. Barat dipahami bukan hanya sebagai kekuatan politik, tetapi sebagai cara berpikir yang mereduksi ke-ber-ada-an menjadi objek teknis, sebagaimana telah diuraikan Heidegger dalam The Question Concerning Technology (1954).
Namun Iran tidak berhenti pada Heidegger. Žižek menunjukkan adanya pergeseran menuju Immanuel Kant, terutama melalui refleksi intelektual Ali Larijani. Dalam disertasinya Kant’s Moral Philosophy and the Foundations of Practical Reason (2002), Larijani menunjukkan ketertarikan serius pada etika Kantian. Sekilas ini tampak sebagai langkah menuju rasionalitas universal. Tetapi Žižek mengingatkan bahwa Kant bukan sekadar simbol liberalisme. Dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals (1785), Kant justru menuntut otonomi radikal. Subjek tidak boleh berlindung pada otoritas eksternal. Ia harus bertanggung jawab penuh atas tindakannya.
Ketika saya merenungkan ini, saya merasa ada ketegangan yang sulit dihindari. Di satu sisi, Elit di lingkaran kekuasaan Iran menunjukkan tingkat refleksi filosofis yang tinggi. Di sisi lain, refleksi itu tak otomatis menghasilkan praktik etis yang lebih baik. Justru di sinilah ironi yang disorot Žižek. Filsafat dapat menjadi alat legitimasi kekuasaan. Ia tak selalu membebaskan. Dalam kondisi tertentu, ia justru memperhalus laku kekuasaan.
Trump, Lacan, dan Politik Kenikmatan
Jika Iran menunjukkan bagaimana filsafat dapat menopang kekuasaan, maka esai Trump as a Reader of Lacan memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah problematik. Dalam esai tersebut, Slavoj Žižek membaca fenomena Donald Trump melalui pemikiran Jacques Lacan, khususnya konsep sinthome yang ia uraikan dalam Le Séminaire Livre XXIII Le Sinthome (1975).
Dalam kerangka Lacanian, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jaringan penanda yang membentuk realitas subjektif. Subjek tak pernah sepenuhnya menguasai apa yang ia katakan, karena ia selalu “terjerat” dalam rantai penanda (signifier chain) yang mendahuluinya. Di sini, makna tak pernah final, selalu bergeser, dan selalu terbuka pada ambiguitas.
Dalam kondisi seperti itu, sinthome menjadi penting, bukan sebagai gejala yang harus dipecahkan seperti dalam psikoanalisis klasik, tetapi simpul di mana kenikmatan dan bahasa bertemu. Sinthome adalah sesuatu yang “tidak masuk akal” namun justru karena itu terus diulang. Ia tidak membutuhkan legitimasi rasional, karena bekerja pada level afektif. Ketika Žižek mengatakan bahwa Trump “membaca” Lacan, yang ia maksud bukanlah pemahaman teoritis, melainkan praktik intuitif. Trump secara naluriah memainkan sinthome dalam politik.
Pernyataan-pernyataan Trump sering kali tampak seperti serpihan bahasa yang tidak terhubung. Namun justru dalam ketidakkoherenan itu, ia membuka ruang bagi identifikasi. Para pendukungnya tidak mencari konsistensi logis, melainkan titik-titik kenikmatan. Di sini saya mulai melihat bahwa politik telah bergeser dari representasi menuju resonansi. Yang penting bukan lagi apakah suatu pernyataan benar, tetapi apakah ia “terasa benar” bagi subjek.
Dalam terminologi Lacan, ini berkaitan dengan relasi antara simbolik, imajiner, dan real. Politik Trump bekerja dengan mengacaukan batas di antara ketiganya. Ia menggunakan citra-citra imajiner yang kuat, seperti kebesaran nasional atau ancaman eksternal, tetapi mengartikulasikannya dalam bahasa simbolik yang longgar dan sering kali kontradiktif. Di balik itu, ada sentuhan real, yaitu sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya disimbolisasikan, seperti kecemasan kolektif atau rasa kehilangan yang tidak terdefinisikan. Trump tidak menyelesaikan kecemasan itu, tetapi justru mengaktifkannya.
Žižek melihat bahwa di sinilah letak kekuatan politik Trump. Ia tak menawarkan solusi, tetapi menyediakan wadah bagi hasrat. Dalam Lacan, hasrat tidak pernah benar-benar terpenuhi. Ia selalu berputar di sekitar sesuatu yang hilang. Slogan seperti “Make America Great Again” bekerja persis dalam logika ini. Ia menunjuk pada masa lalu yang ideal, tetapi masa lalu itu sendiri tidak pernah benar-benar ada sebagai realitas historis. Ia adalah konstruksi fantasi.
Fantasi, dalam kerangka Lacanian, bukan sekadar ilusi yang harus dibongkar. Ia adalah struktur yang menopang realitas subjektif. Tanpa fantasi, subjek tak dapat berfungsi. Di sinilah letak kesulitan kritik ideologi. Kita tidak hanya percaya pada fantasi, kita membutuhkan fantasi itu untuk mempertahankan konsistensi diri kita. Trump, dalam hal ini, tidak menciptakan fantasi dari nol, tetapi memobilisasi fantasi yang sudah ada dalam tubuh sosial.
Saya melihat bahwa ini menjelaskan mengapa kritik rasional terhadap Trump sering kali tidak efektif. Fakta tidak cukup untuk membongkar fantasi, karena fantasi tidak bekerja pada level fakta. Ia bekerja pada level kenikmatan. Bahkan ketika sebuah klaim terbukti salah, hal itu tidak serta merta mengurangi daya tariknya. Dalam beberapa kasus, justru sebaliknya, ia memperkuat identifikasi karena menciptakan rasa “melawan” terhadap otoritas pengetahuan.
Di sini, konsep Lacanian tentang superego menjadi relevan. Superego tidak lagi berfungsi sebagai larangan, tetapi sebagai perintah untuk menikmati. Dalam politik kontemporer, kita tidak hanya diizinkan untuk melanggar norma, tetapi didorong untuk menikmatinya. Trump mengartikulasikan ini dengan sangat jelas. Ketidaksopanannya, pelanggarannya terhadap norma, bahkan kontradiksi dalam ucapannya, semuanya menjadi sumber kenikmatan bagi para pendukungnya.
Ketika saya merenungkan ini, saya menyadari bahwa kita sedang menghadapi bentuk baru dari kekuasaan. Ia tidak lagi bergantung pada kontrol informasi semata, tetapi pada pengelolaan afek. Kekuasaan tidak hanya mengatur apa yang kita ketahui, tetapi juga apa yang kita rasakan dan nikmati. Dalam kondisi ini, politik menjadi semakin sulit dibedakan dari hiburan.
Namun yang lebih mengganggu adalah implikasi etisnya. Jika subjek terikat pada kenikmatan yang dihasilkan oleh sinthome, maka bagaimana mungkin ia mengambil jarak kritis terhadapnya. Bagaimana mungkin ia bertanggung jawab. Inilah titik di mana analisis Žižek bertemu dengan problem yang lebih luas dalam esainya tentang Iran. Dalam kedua kasus, kita melihat kegagalan otonomi subjek.
Dalam Iran, subjek tunduk pada otoritas simbolik yang kuat. Dalam fenomena Trump, subjek larut dalam kenikmatan yang mengaburkan batas antara serius dan tidak serius. Dalam kedua kasus, tanggung jawab menjadi terdistribusi ke luar diri. Individu tidak lagi menjadi pusat keputusan etis. Saya sampai pada satu kesimpulan yang agak pahit. Kita hidup dalam dunia di mana rasionalitas tidak cukup, tetapi kita juga belum menemukan bentuk lain yang dapat menggantikannya tanpa jatuh pada manipulasi afek. Politik kenikmatan membuka ruang partisipasi, tetapi juga membuka risiko kehilangan orientasi.
Tanggung Jawab di Dunia Tanpa Pegangan
Di titik ini, kedua esai Žižek bertemu dalam satu refleksi yang sama. Bagaimana mungkin kita tetap menjadi subjek yang bertanggung jawab dalam dunia yang kehilangan fondasi simboliknya.
Refleksi Hannah Arendt dalam Eichmann in Jerusalem (1963) tentang Adolf Eichmann menjadi sangat penting. Arendt menunjukkan bahwa kejahatan besar dapat dilakukan oleh individu biasa yang berhenti berpikir. Žižek melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa bahkan dalam kerangka Kantian, tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan hanya karena itu adalah kewajiban. Ini adalah titik paling radikal dari seluruh diskusi ini. Tidak ada lagi tempat bersembunyi di balik sistem, ideologi, atau bahkan filsafat. Semua kembali pada keputusan individu.
Namun dunia hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Kita didorong untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Negara, identitas, bahkan komunitas afektif menawarkan perlindungan dari beban tanggung jawab. Dalam konteks perang Iran, ini terlihat sangat jelas. Amerika Serikat dan Israel membingkai tindakan mereka sebagai upaya menjaga keamanan global. Iran membingkai perlawanan sebagai pembelaan terhadap kedaulatan. Kedua narasi ini sama-sama kuat dan sama-sama mampu menggerakkan massa.
Tetapi di antara narasi-narasi itu, korban sipil terus berjatuhan. Infrastruktur hancur, wilayah menjadi tidak stabil, dan konflik terus meluas. Dalam situasi seperti ini, bahasa moral sering kali kehilangan maknanya. Semua pihak mengklaim kebenaran, sementara realitas di lapangan menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih gelap.
Saya sampai pada satu kesadaran yang tidak nyaman. Kita hidup dalam dunia di mana baik otoritas maupun kebebasan sama-sama mengalami krisis. Iran menunjukkan bagaimana filsafat dapat digunakan untuk memperkuat kekuasaan. Trump menunjukkan bagaimana kekuasaan dapat bertahan bahkan tanpa rasionalitas.
Dan di antara keduanya, kita sebagai individu sering kali kehilangan arah. Kita tahu banyak, tetapi kita tidak selalu bertanggung jawab atas apa yang kita ketahui. Di titik ini, saya kembali pada Kant. Bukan sebagai simbol Barat, tetapi sebagai pengingat bahwa kebebasan selalu datang bersama tanggung jawab. Tidak ada jaminan. Tidak ada kepastian. Hanya keputusan yang harus diambil.
Menolak agresi militer, dalam konteks ini, bukan hanya sikap politik. Ia adalah komitmen etis untuk tidak menyerahkan dunia pada logika kekerasan. Ia adalah upaya untuk mempertahankan ruang di mana tanggung jawab individu masih mungkin. Dan mungkin, jika kita jujur, itulah hal yang paling sulit hari ini. Bukan memahami dunia, tetapi berani bertanggung jawab atas apa yang kita pahami.








































