Beranda Kampus Langganan Raih Pendanaan Penelitian, Prof Agustan Ungkap Tips Lolos Hibah BIMA

Langganan Raih Pendanaan Penelitian, Prof Agustan Ungkap Tips Lolos Hibah BIMA

0

MataKita.co, Makassar — Di tengah iklim kompetisi hibah penelitian yang kian ketat dan menuntut proposal yang bukan hanya kuat secara gagasan, tetapi juga rapi secara metodologi dan administratif, nama Prof. Dr. Agustan S., M.Pd. tampil sebagai salah satu penanda penting budaya riset di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Dalam dua tahun terakhir, ia menunjukkan konsistensi yang jarang dicapai banyak akademisi: pada pendanaan BIMA 2025, namanya tercatat sebagai dosen dengan perolehan judul hibah penelitian terbanyak di lingkungan Unismuh, sementara pada BIMA 2026 ia kembali masuk jajaran penerima terbanyak.

Capaian itu tentu bukan sekadar soal angka. Di baliknya, ada jejak panjang ketekunan akademik, disiplin membaca peluang skema riset, kecermatan menyusun proposal, dan kesediaan berbagi pengalaman dengan dosen lain melalui berbagai forum pendampingan yang digelar Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar.

*Rekam Jejak Perkhidmatan*

Profil Agustan tidak lahir dari lompatan singkat, melainkan dari tangga akademik yang dinaiki setapak demi setapak. Lahir di Ujung Pandang pada 1983, ia menempuh pendidikan D2 PGSD/MI di STAIN Watampone pada 2005, lalu melanjutkan studi S1 Pendidikan Matematika di STKIP Muhammadiyah Bone pada 2007. Setelah itu, ia menuntaskan pendidikan magister pada 2012 dan meraih gelar doktor Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Surabaya pada 2017.

Karier akademiknya bergerak naik secara konsisten, dari asisten ahli pada 2007, menjadi lektor pada 2015, lalu lektor kepala pada 2022. Pada akhir 2024, ia resmi mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai profesor. Pengukuhan itu berlangsung dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Unismuh pada 29 September 2025, ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Pendidikan Matematika.

Dalam pidato pengukuhannya, Agustan mengangkat tema tentang strategi pemecahan masalah berdasarkan gaya kognitif untuk menumbuhkan kemampuan komunikasi-reflektif matematis mahasiswa calon guru matematika. Tema itu memperlihatkan satu watak penting dari perjalanan akademiknya: ia tidak melihat pendidikan matematika sebagai urusan rumus semata, melainkan sebagai proses membentuk guru yang mampu berpikir, menjelaskan, dan membimbing secara reflektif.

Pandangan itu juga sejalan dengan profil penelitiannya. Agustan dikenal produktif menulis dan meneliti. Ia telah mencatatkan lebih dari seratus publikasi, puluhan di antaranya terindeks Scopus. Ia juga terlibat dalam kerja sama riset internasional dan pernah memimpin penelitian pengembangan bahan ajar berbasis saintifik. Dengan kata lain, sosok ini tidak hanya kuat di ruang kuliah, tetapi juga aktif di laboratorium gagasan yang lebih luas: publikasi, kolaborasi, dan pengembangan model pembelajaran.

*Langganan Pemenang Hibah BIMA*

Konsistensi itu terlihat makin jelas saat membaca daftar penerima hibah penelitian BIMA di Unismuh. Pada pendanaan tahun 2025, nama Agustan S muncul tiga kali dalam daftar penerima hibah penelitian. Tiga judul yang tercatat menunjukkan spektrum perhatian risetnya tetap berada dalam orbit pendidikan dasar, pembelajaran digital, dan penguatan kemampuan matematis siswa.

Judul-judul itu bukan proposal yang bergerak acak. Semuanya memperlihatkan benang merah yang kuat: penggunaan media pembelajaran digital, pengembangan literasi numerasi, dan pendekatan reflektif dalam pembelajaran. Dari sana tampak bahwa Agustan tidak sekadar rajin mengajukan proposal, tetapi punya peta jalan keilmuan yang relatif konsisten. Ini penting, sebab salah satu kelemahan umum dalam proposal hibah adalah tema yang meloncat-loncat dan tidak menunjukkan kesinambungan agenda riset.

Pada BIMA 2026, nama Agustan kembali muncul empat kali dalam daftar penerima hibah Unismuh. Kehadiran namanya pada lebih dari satu skema menegaskan bahwa ia mampu menjaga ritme produktivitas proposal dari tahun ke tahun. Lebih penting lagi, capaian itu hadir ketika persaingan hibah nasional semakin ketat dan proses seleksi makin menuntut ketelitian substantif maupun administratif.

Bagi Unismuh, keberadaan figur seperti Agustan penting bukan hanya karena produktivitas individualnya. Sosok semacam ini menjadi penanda bahwa budaya riset kampus tidak tumbuh di atas slogan, melainkan di atas kebiasaan akademik yang dirawat terus-menerus: membaca panduan, memetakan tema, memperbaiki proposal, dan mengajukan naskah dengan disiplin tinggi.

*Bukan Hanya Peraih, tetapi Juga Pendamping*

Ada hal lain yang membuat peran Agustan layak dibaca lebih jauh. Ia tidak berhenti sebagai penerima hibah. Di lingkungan Unismuh, ia juga mengambil bagian dalam ekosistem pembinaan proposal.

Dalam berbagai kegiatan pendampingan yang digelar LP3M maupun unit akademik di lingkungan kampus, Agustan hadir sebagai narasumber dan pendamping. Pada forum sosialisasi dan klinik proposal hibah BIMA 2026 di FEB Unismuh, misalnya, ia menegaskan, “Proposal hibah itu tidak cukup hanya menarik di judul, tetapi harus sistematis, taat panduan, dan menunjukkan kebaruan riset yang benar-benar kuat.”

Ia juga menekankan pentingnya kesesuaian antara judul, metodologi, dan luaran penelitian. “Sering kali proposal terlihat bagus di awal, tetapi saat dibaca lebih jauh, metodologinya tidak menopang judul dan luarannya tidak nyambung. Di situlah banyak proposal kehilangan kekuatannya,” ujar Agustan.

Dalam klinik proposal di lingkungan FKIK dan FAI Unismuh, ia kembali menyoroti sisi yang sering dianggap sepele tetapi justru menentukan nasib proposal, yakni ketelitian administratif. “Kadang yang menggugurkan proposal bukan semata substansinya lemah, tetapi karena penyusunnya kurang teliti mengikuti ketentuan teknis dan administratif,” katanya. Menurutnya, proposal dengan substansi ilmiah yang kuat bisa saja gugur jika penyusunnya tidak cermat mengikuti ketentuan teknis.

Sementara itu, pada workshop dan klinik proposal penelitian yang digelar LP3M Unismuh, skema pendampingan tidak berhenti pada seminar satu arah. Proposal dibawa ke ruang klinik, dibedah, diperiksa ulang, lalu disempurnakan. Kultur seperti inilah yang tampaknya ikut menjelaskan mengapa angka kelolosan hibah Unismuh dalam dua tahun terakhir terus bergerak naik.

Di titik ini, Agustan bukan hanya figur peraih hibah, tetapi juga bagian dari rantai reproduksi budaya riset. Ia menerima, lalu menularkan. Ia lolos, lalu ikut membimbing. Ia mengajukan proposal, lalu membantu dosen lain memahami bagaimana sebuah proposal seharusnya dibangun.

*Tips dan Trik Lolos Hibah BIMA*

Meski sudah jadi langganan pemenang BIMA, Agustan tidak pelit berbagi informasi. Saat dikonfirmasi Humas Unismuh, pada Kamis, 16 April 2026, ia menyampaikan beberapa pelajaran penting bagi dosen yang ingin meningkatkan peluang lolos hibah BIMA.

Pertama, kata Agustan, jangan mulai dari judul yang terdengar canggih, tetapi mulai dari masalah yang jelas. Proposal yang kuat lahir dari persoalan yang terdefinisi dengan baik, relevan dengan kebutuhan ilmu pengetahuan maupun masyarakat, dan dapat dijelaskan urgensinya secara meyakinkan.

Kedua, lanjutnya, pastikan kebaruan riset benar-benar tampak, bukan sekadar disebut. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Kadang ia hadir dalam bentuk model yang diperbarui, konteks yang berbeda, integrasi metode, atau aplikasi teknologi yang lebih relevan dengan kebutuhan lapangan.

Ketiga, selaraskan judul, rumusan masalah, metode, dan luaran. Banyak proposal gagal bukan karena ide dasarnya lemah, tetapi karena bagian-bagiannya tidak saling bertaut. Judul berbicara tentang pengembangan model, tetapi metode tidak menunjukkan langkah pengembangan. Rumusan masalah menjanjikan dampak besar, tetapi luaran yang ditawarkan justru kecil dan tidak terukur.

Keempat, taat pada panduan teknis. Ini terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi batu sandungan. Format yang tidak sesuai, komponen administrasi yang terlewat, atau indikator luaran yang tidak tepat bisa mengganggu penilaian sejak awal. Dalam dunia hibah, proposal yang baik bukan hanya proposal yang cerdas, tetapi juga proposal yang disiplin.

Kelima, gunakan forum klinik dan pendampingan sebaik mungkin. Salah satu kekuatan Unismuh dalam dua tahun terakhir adalah adanya ruang-ruang pembacaan ulang proposal. Proposal yang dibaca sendiri sering tampak rapi, padahal masih menyimpan celah. Begitu masuk ruang klinik, kelemahan-kelemahan itu biasanya mulai terlihat: rumusan masalah kabur, kebaruan belum tegas, anggaran belum proporsional, atau luaran belum realistis.

Keenam, bangun roadmap riset, bukan proposal musiman. Salah satu hal yang bisa dibaca dari jejak Agustan ialah konsistensi tema. Ia bergerak pada bidang yang saling terkait, sehingga tiap proposal tampak sebagai kelanjutan dari agenda intelektual yang sedang dibangun. Bagi reviewer, konsistensi semacam ini memberi kesan bahwa peneliti tidak bekerja secara serampangan.

Facebook Comments Box
ADVERTISEMENT